POSMETRO MEDAN – Harus kehilangan suami akibat keganasan begal sangat menyakitkan bagi Sriana (47). Pilunya lagi, kini dia terjerat hutang belasan juta ke rumah sakit tempat suaminya dirawat sebelum tewas.
Iman Kurnia Abadi (45), nama almarhum suami Sriana. Sehari-hari sang suami bekerja sebagai tukang ojek pangkalan dan meninggal dunia pada 11 Juli lalu.
Ketika ditemui wartawan, Sriana menguak masalah berat yang dihadapinya saat ini. Dimana, dirinya bingung mencari cara untuk melunasi biaya rumah sakit ketika suaminya dibegal.
Sriana menceritakan, selepas suaminya meninggal diduga akibat dibegal dan pelakunya belum ditangkap, dia terlilit hutang ke RSU Bina Kasih Medan.
Sriana menanggung utang perawatan suaminya selama 3 hari 2 malam, sekitar Rp 20 juta. Sebab, perawatan suaminya tak bisa ditanggung Jasa Raharja lantaran korban kejahatan, bukan kecelakaan.
Akibatnya, kini ia putar otak supaya bisa membayar utang sebesar Rp 17 Juta tersebut.
Biaya perawatan suaminya sebenarnya sebanyak Rp 38 juta. Namun pihak RS memberikan keringanan menjadi Rp 20 juta.
Akan tetapi Sriana baru membayar biaya RS sebesar Rp 3 juta. Itupun diambil dari tabungan ia dan suami selama ini.
Apalagi ia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Malaysia selama 10 bulan tidak memiliki uang sebanyak itu.
Ia mengatakan tak mampu membayar uang sebesar itu. “Biaya RS saya tanggung pribadi Rp 38 juta. Belum bayar karena gak ada uang,” ungkapnya.
Iman, suami Sriana diduga dibegal pada 9 Juli lalu, usai mengantar penumpang langganan. Ketika hendak balik ke pangkalan dengan motornya seorang diri, dilempar balok kayu sejumlah orang hingga terjatuh ke aspal, lalu terseret.
Selama 24 tahun menikah, Sriana dan Iman memiliki 5 orang anak yaitu, anak pertama laki-laki berusia 21 tahun, anak kedua perempuan umur 19 tahun, anak ketiga kelas 2 SMP.
Kemudian, keempat masih sekolah dasar (SD) dan yang terakhir masih berusia 1 tahun 8 bulan.
Mengenai utang sebesar Rp 38 juta di RSU Bina Kasih, Sriana mengaku tak sanggup membayarnya.
Ia masih mondar-mandir menjalani pemeriksaan di kantor Polisi, dan ke rumah sakit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dia kewalahan.
Gaji 2 anaknya yang sudah bekerja pun tak mencukupi, sebab sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari setelah ayah mereka dirawat.
“Saya bingung untuk bertahan hidup, saya gak tahu bagaimana lagi karena masalah ini belum selesai. Saya bolak balik ke rs, polisi, dan saya gak fokus nyari uang untuk biaya anak,”ungkapnya.
“Saya belum mampu. Pertama, pikiran saya masih kacau, mau buka usaha juga butuh dana juga. sementara saha masih berpikir dana untuk biaya rumah sakit,”sambungnya.
Sriana menjelaskan, pada 14 Agustus mendatang diundang untuk mediasi dengan RSU Bina Kasih Medan Sunggal mengenai utang perawatan suaminya sebesar Rp 17 juta lagi
Pihak rumah sakit meminta Sriana melunasi seluruh tunggakan. Apabila belum sanggup, ia diminta menyerahkan surat berharga sebagai jaminan.
“Nanti kalau gak bawa, saya disuruh bawa surat berharga, surat tanah dan lain-lain.”
Sebelumnya, tukang ojek pangkalan bernama Iman Kurnia Abadi (45) warga Kecamatan Medan Labuhan, tewas diduga dibegal di Jalan Yos Sudarso, depan Gang Taik, Kelurahan Belawan Bahari, Medan Belawan.
Korban, ketika sedang berkendara dengan motornya seorang diri dilempar balok kayu sejumlah orang hingga terjatuh ke aspal, pada 9 Juli lalu.
Akibatnya, Iman mengalami luka serius di kepala dan berujung meninggal dunia setelah 2 hari menjalani perawatan di RS Mitra Sejati Medan, tepatnya pada 11 Juli.(tbn)












