Kabar Terbaru Longsor di PLTA Batangtoru, 3 Orang Ditemukan Meninggal Dunia

oleh -286 views

EPAPER

POSMETROMEDAN.com – Update terbaru bencana alam longsor di PLTA Batangtoru, Tapanuli Selatan. Seorang wanita diperkirakan berusia 37 tahun, dan 2 anak-anak dengan usia sekitar 7 dan 4 tahun, telah berhasil temukan dari material longsor, Jum’at (30/4). Ketiganya telah dievakuasi dan saat ini berada di Ruang Jenazah RSUD Tapsel, Sipirok.

Diduga kuat, ketiga korban merupakan istri dan anak daripada pemilik warung kopi, Anius Waruwu.

Informasi dari Humas Pemkab Tapsel, pencarian masih terus berlangsung terhadap korban lainnya, dari bencana alam tanah longsor Kamis (29/4) tepatnya kurang lebih pukul 18.00 wib. Secara administratif, lokasi longsor itu masuk pada wilayah Kelurahan Wek 1, Kecamatan Batang Toru.

Dari keterangan Humas, sejak Kamis malam telah dilakukan pencarian korban dengan melibatkan TNI, Polri dan BPBD Tapsel. Dan, Jumat pagi ini tepatnya pada pukul 08.30 Wib, telah ditemukan 3 (tiga) orang mayat dan saat ini telah dievakuasi ke rumah sakit RSUD Sipirok.

Dan, sampai saat ini belum bisa memastikan berapa orang yang korban karena tidak ada kesaksian dilapangan yang dapat memberikan keterangan. Namun akan terus lakukan pencarian.

Diberitakan sebelumnya, hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Marancar pada Kamis (29/4), mengakibatkan longsor di lokasi pembangunan PLTA Batangtoru, Kabupaten Tapsel. Pemilik warung kopi dan pekerja (termasuk seorang TKA) diduga tertimbun longsor.

Communication & External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy, Firman Taufick pada wartawan Jumat (30/4) menyampaikan, longsor terjadi di jalan R17 K4+100 Bridge 6, di lokasi proyek pembangunan PLTA Batangtoru, pada hari Kamis 29 April 2021, pukul 18.20 WIB yang disebabkan oleh hujan lebat yang terjadi sejak pukul 14.00 WIB.

BACA JUGA..  Bangun Benteng Cegah Rob, Walkot Ingin Warga Kampung Nelayan Bersuka Cita Rayakan Idul Fitri

Dimana terang Taufick, kejadian bermula, saat karyawan K3 Sinohydro bernama Dolan Sitompul menemani 2 orang karyawan Sinohydro (warga asing) bernama  Long Quan dan Xie sekitar pukul 18.10 Wib mengendarai mobil proyek double cabin, guna mengecek dan mendokumentasikan terjadinya banjir lumpur setinggi 50 cm yang terjadi pada pukul 16.30 Wib di jalan R17 K4+100 Bridge 6. Dimana, banjir itu sebagai akibat dari hujan lebat yang mengguyur lokasi sejak siang hari.

Pengecekan itu sendiri dilakukan sekaligus untuk mempersiapkan alat berat untuk mengatasi kondisi lapangan.  Karena memang, pihak Sinohydro telah mencurigai banjir lumpur di lokasi itu berpotensi menyebabkan longsor.

Dan, setelah melakukan pengecekan dan mengambil dokumentasi, sekitar pukul 18.20 wib, terjadi bencana longsor yang langsung menimpa dan menggulung para karyawan Sinohydro tersebut. Namun, Xie yang sempat melihat adanya longsoran berhasil meloncat keluar dari dalam mobil dan lari menyelamatkan diri.  Sementara rekannya, Long Quan dan Dolan Sitompul tergulung tanah longsor.

“Longsoran tanah itu terus meluncur dan menyapu sebuah warung kopi milik Anius Waruwu, yang tepat berada di bawahnya. Saat ini tim teknis lapangan sedang menelusuri  korban longsor yang berada di dalam warung milik keluarga Anius,” terang Taufick sambil menyampaikan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari tim teknis lapangan, mengenai upaya pencarian maupun situasi di lokasi.

BACA JUGA..  Warga Hutasuhut Butuh Alat Pengangkut Sampah

“Perlu kami sampaikan juga, upaya pencarian korban oleh tim teknis lapangan saat ini dibantu tim dari aparat TNI Koramil Sipirok dan tim Polri dari Polsek Sipirok yang telah berada di lokasi sejak tadi malam,” sebutnya.

Sementara itu, lokasi kejadian dan kedai kopi yang terkena longsor saat ini sudah diamankan oleh pihak aparat agar tidak ada yang mendekat, karena dikhawatirkan masih akan terjadi longsor.

“Perlu kami sampaikan, pihak perusahaan sampai saat ini telah melaporkan kejadian tanah longsor ini ke Pemda Tapanuli Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tapanuli Selatan,” ungkapnya.

Dan sambungnya, pada pukul 20.00 WIB para unsur Forkopimcam (Camat, Danramil, Kapolsek) beserta pejabat Kabag Ops, Kasat Intel dan Kasat sabara Polres Tapsel hadir meninjau lokasi.

Namun, mengigat medan yang berat dan situasi yang tidak memungkinkan dilakukannya penyelamatan malam hari.  Maka pada pukul 21.30 wib hingga 24.00 wib dilakukan rapat di camp R17 PT NSHE, membahas langkah langkah dan tindakan yang akan di ambil.

BACA JUGA..  Idul Fitri, 32 Ruas Jalan di Medan Ditutup

Dari rapat koordinasi itu dapat di putuskan, pelaksanaan operasi dan evakuasi akan dilakukan pada hari Jum’ at pukul 08.00 wib. Dengan melibatkan personil TNI 25 orang, Polri 25 orang, BPBD Tapsel 10 Orang, Kecamatan 10 orang ditambah petugas pengamanan yang ada di NSHE.

Disampaikan, adapun langkah angkah yang dilakukan dari kejadian itu sambung Taufik, adalah pendirian posko penyelamatan, berada di Camp R17 dan kendali operasi di bawah BPBD Kabupaten Tapsel. Dedang penanggung jawab kendali utama adalah Camat Kecamatan Marancar selaku Ketua Posko Penyelamtan.

Selain itu juga ada operasi pengerahan personil TNI-Polri dan pengaman NSHE ada di bawah kendali Manager Teritorial Security.

Membuat rencana evakuasi korban, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapsel di Sipirok. Dan menentukan titik penyekatan Pos Pengamanan, dilakukan di jembatan rambin dan cruser untuk mencegah masyarakat memasuki lokasi.

“Kami berharap dan berdoa, agar upaya pencarian korban dapat berjalan dengan lancar dan untuk itu perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin. Perusahaan akan bertanggungjawab sesuai dengan peraturan yang berlaku dan kebijakan yang ditetapkan perusahaan,” ucapnya seraya  menyampaikan rasa duka kepada keluarga korban dan berharap dapat bersabar menunggu hasil pencarian yang saat ini tengah dilakukan. (ran) 

EPAPER