Pilkada Hanya Mimpi Buruk Bagi Medan Utara

oleh -297 views

Oleh : Fachril Syahputra

PADA tanggal 9 Desember 2020, merupakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Pesta demokrasi adalah ajang pemilihan kepala daerah yang mampu memberikan perubahan dan harapan baru bagi masyarakat secara otonomi.

Kota Medan adalah salah satu dari 270 kabupaten/kota se-Indonesia yang mengikuti Pilkada serentak tahun 2020. Sama – sama kita ketahui, dua pasangan calon yakni, Bobby Naustion berpasangan dengan Aulia Rachman dan Akhyar Naustion berpasangan dengan Salman Alfarisi menjadi kontestan yang akan bertarung pada Pilkada Kota Medan tahun 2020.

Kedua pasangan yang bertarung ini memiliki komposisi dukungan Partai Politik (Parpol) yang berbeda, apa yang menjadi impian dan harapan partai pengusung hanya kemenangan semata kepada kandidat yang bartarung.

Apakah harapan itu sejalan dengan keinginan masyarakat Kota Medan, tentu tidak. Perlu kita ketahui, ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini memiliki 21 kecamatan dengan kehidupan masyarakat yang heterogen dengan keragaman suku, agama dan RAS. Ternyata masih menyimpan sejumlah permasalahan yang harus dituntaskan dari sektor perekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pembangunan, kesejahteraan masyarakat, tenaga kerja dan lainnya.

BACA JUGA..  KPU Medan Gelar Simulasi E-Rekap Baik Penghitungan Suara

Dengan keragaman ini, secara gerografis Kota Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia memiliki luas wailayah yang strategis telah terbentang menurut arah mata angin dari Selatan ke Utara Kota Medan dan Timur ke Barat, masih memiliki banyak cerita buram yang dapat kita dengar, lihat dan rasakan.

Pada Pilkada Kota Medan tahun 2020 ini, mari kita pusatkan pandangan ke arah ujung utara Kota Medan yang meliputi 4 kecamatan terdiri dari Kecamatan Medan Deli, Medan Marelan, Medan Labuhan dan Medan Belawan.

Kawasan yang berada di sudut hamparan laut yang mencorok ke pesisir ini memiliki kepadatan populasi penduduk yang cukup padat. Sudah pasti, pasangan calon (Paslon) yang akan bertempur pada pesta demokrasi tahun ini akan mengambil kesempatan menggaungkan harapan dan impian janji kepada masyarakat di Medan Utara untuk mendapat dukungan.

Memori kampanye dengan janji – janji kepada masyarakat sudah tersiar sejak Pilkada serentak pertama kali di tahun 2005, kenyataannya itu hanya sebatas janji dan mimpi buruk bagi masyarakat Medan Utara.

BACA JUGA..  Akhyar Imbau Relawan Jangan Mau Diiming-imingi Beras

Buktinya, keberadaan Medan Utara dengan wilayah dikelilingi sejumlah sektor pembangunan berupa Pelabuhan Belawan dan perindustrian sebagai urat nadi perekonomian Sumatera Utara ternyata hanya sebatas hiasan yang tidak mampu memberikan dukungan kesejahteraan bagi masyarakat secara nyata.

Hal itu terbukti dengan persoalan pembangunan Jalan Lingkar Utara, musibah banjir di pemukiman warga dan pasang atau rob, minimnya sarana bangunan pendidikan, infrastruktur terbaikan, rumah sakit pemerintah cukup lama terealisasi, pembangunan Islamic Center tak tuntas, Kawasan Ekonomi Khusus Seruwai tak terealisasi, angka kemiskinan meningkat serta lapangan kerja terbaikan.

Potret buramnya pembangunan di Medan Utara ini seakan terlepas dari tanggung jawab Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan yang telah menyamapikan janjinya di masa kampanye yang berlangsung secara paralel sejak tahun 2005 hingga sekarang.

Meskipun secara estafet, kepemipinan Kota Medan telah terjerat hukuman korupsi, tidak menjadikan sebuah alasan bagi masyarakat Medan Utara untuk tetap menuntut janji tersebut.

BACA JUGA..  Tokoh Pemekaran Sergai Siap Menangkan BERIMAN-TRENDI

Kita sama – sama tahu, sebentar lagi pertarungan Pilkada Kota Medan akan berlangsung. Sudah pasti, paslon yang bertarung di Pilkada Kota Medan akan mengambil kesempatan untuk menyamaikan visi – misinya dengan isu – isu seksi di Medan Utara.

Melihat kilas balik dengan kenyataan yang ada, masyarakat Medan Utara sudah pasti tidak akan terangsang lagi oleh retorika janji manis kedua paslon yang bertarung di Pilkada Kota Medan tahun 2020 ini. Sebab, traumatis masih melekat dibenak masyarakat Medan utara terhadap janji yang hanya memberikan buruk.

Secara arif dan bijaksana, masyarakat Medan Utara sudah pasti tidak ingin lagi terjerat dengan janji manis yang akan menelan pil pahit yang telah dirasakan secara nyata. Untuk menghilangkan rasa trauma itu, perlu adanya kontrak politik dari paslon secara tertulis sebagai buktin nyata untuk menghapus mimpi buruk untuk menghempang janji manis para elit politik. (*)