Harga Cabai di Binjai Nyaris Tembus Rp100 Ribu

oleh
Cabai merah.

POSMETRO MEDAN – Harga cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, kembali mengalami lonjakan signifikan. Pada Senin, 8 September 2025, harga komoditas tersebut hampir menembus angka Rp100 ribu per kilogram, jauh di atas rata-rata harga normal.

Kenaikan harga yang terbilang ekstrem ini langsung dirasakan masyarakat luas, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro yang menggantungkan usahanya pada bumbu dapur berbahan dasar cabai.

Di Pasar Tavip, salah satu pusat perdagangan terbesar di Binjai, pedagang mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung sejak sepekan terakhir.

BACA JUGA..  MTQ KORPRI Sumut 2026 Ditutup, Jadi Momentum Cetak ASN Berintegritas dan Berakhlak Mulia

“Naiknya drastis. Cabai merah sekarang berkisar antara Rp85 ribu hingga mendekati Rp100 ribu per kilogram. Pembeli banyak yang mengeluh, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena pasokan memang berkurang,” ujar Teresia (38), salah seorang pedagang, saat diwawancarai wartawan Posmetromedan.com. Senin (8/9/2025).

Menurutnya, faktor cuaca yang kurang bersahabat diduga menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan dari sentra-sentra produksi di wilayah Sumatera Utara. Selain itu, hambatan dalam distribusi turut memperburuk situasi, sehingga harga di tingkat pedagang semakin melambung.

Kondisi ini menciptakan dilema tersendiri bagi keluarga kecil di Binjai. Sari, seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Binjai Utara, mengaku harus berhemat ketat dalam membeli kebutuhan dapur.

BACA JUGA..  Tutup MTQ ke-40 Sumut, Bobby Nasution Tekankan Implementasi Nilai Alquran dalam Kehidupan

“Biasanya saya beli satu kilogram untuk stok seminggu. Sekarang hanya setengah kilogram, itu pun harus benar-benar diatur supaya cukup untuk masakan sehari-hari,” ungkapnya.

Dampak juga dirasakan oleh pelaku UMKM, khususnya usaha kuliner. Mulai dari warung nasi, penjual sambal, hingga katering rumahan harus menekan biaya produksi. Sebagian memilih mengurangi porsi, sebagian lain terpaksa menaikkan harga menu meski berisiko kehilangan pelanggan.

Seorang pemerhati sosial menilai gejolak harga cabai ini bukan hanya soal konsumsi rumah tangga, tetapi juga mencerminkan kerentanan ekonomi mikro di daerah.

BACA JUGA..  Rumah Kosong Jadi Markas Sabu, Dua Pria Pindah Tidur

“Lonjakan harga pangan, khususnya cabai, selalu menjadi indikator sensitif daya beli masyarakat. Pemerintah daerah perlu respons cepat, baik melalui operasi pasar maupun intervensi distribusi, agar dampaknya tidak berlarut-larut,” ujar Gideon Anugerah.

Fenomena cabai merah yang nyaris menembus Rp100 ribu per kilogram ini menegaskan bahwa inflasi pangan bukan sekadar data statistik di atas kertas. Kenaikan harga memiliki dampak langsung terhadap isi piring masyarakat kecil sekaligus keberlanjutan usaha rakyat yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal. (dyka.p)

EDITOR : Rahmad