Mahasiswi UNIMA Bunuh Diri Pasca Dilecehkan Dosen

oleh
oleh
Maria semasa hidup (kiri).

 

POSMETRO MEDAN – Tak sanggup menanggung aib akibat perbuatan dosennya, Evia Maria Mangolo, Mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) nekat bunuh diri di kamar kos.

Motif gantung diri itu terungkap lewat secarik kertas yang ditulis cewek berusia 21 tahun itu.

Surat ditulis korban pada tanggal 16 Desember 2025. Dalam surat itu, Maria menceritakan kronologi pelecehan yang dialaminya.

Dugaan pelecehan itu terjadi pada Jumat (12/12/2025) di kawasan kampus.

“Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya, beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab “Maria tidak tau ba urut Mner” Mner bilang Mener capek sekali,” tulis Maria di suratnya.

Saat itu Maria mengaku ogah, karena bukan kewajiban Maria untuk memijat sang dosen. “Dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu,” katanya.

BACA JUGA..  Bandar Berkamuflase Lewat Vape, Sabu 14,5 Kg Dimusnahkan

Maria yang saat itu sedang berada di food court kampus pun memberi tahukan isi chat itu pada kedua temannya.

“Mereka berdua bilang ke saya jangan pergi, tapi Mner Danny sudah mengalihkan pembicaraan menyangkut rekapan nilai, yang sebenarnya sudah saya selesaikan itu,” tulis Maria lagi.

Namun saat itu Maria berpikir kalau sang dosen memang ingin membicarakan rekap nilai.

“Tapi karna saya pikir ada yang akan diubah, saya berpikir untuk pergi ke Mner Danny di depan parkiran mobil Kampus. Sebelum saya pergi tepatnya jam 19.20 saya sudah live location di grup WA saya dan teman saya Radina dan Deisye,” tulisnya.

 

Namun saat tiba di parkiran, sang dosen langsung meminta Maria masuk ke dalam mobilnya.

Bukannya membicarakan nilai, dosen bernama Danny itu malah kembali meminta diurut. Maria yang duduk di kursi belakang pun dipaksa untuk pindah ke depan.

BACA JUGA..  2 Wanita Pencuri Berkeliaran di Tembung

“Beliau memaksa saya pindah di depan dengan melangkah saja, posisi saya pakai rok, setelah saya sudah di depan mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaring, saya disuruh urut,” tulis Maria.

Saat itu Maria menolak dengan mengatakan kalau dirinya tidak bisa memijat. Namun sang dosen tetap memaksa sambil mulai melakukan pelecehan kepada Maria.

“Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur terus saya di belakang,” tulisnya.

Di sanalah sang dosen semakin liar dan berbicara soal hal vulgar.

Ia sampai membayangkan jika dirinya berada satu kamar berdua dengan mahasiswinya itu.

BACA JUGA..  Timsus Geng Motor Polres Asahan Amankan Remaja Terlibat Tawuran Bersenjata

“Saya bilang Mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliau hanya berkata “Nda apa-apa torang, manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no”,” tulis Maria lagi.

“Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil tersebut. Saya bilang saya mau pulang ada teman yang sudah menunggu, terus beliau menjawab oh iya maaf Mner so keenakan,” tambahnya.

Bahkan saat itu sang dosen meminta izin untuk mencium Maria. Maria yang ketakutan pun hanya bisa menangis, namun sang dosen makin liar.

“Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya). Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner,” kata Maria.

Tak hanya itu, ia juga meminta untuk mencium bagian bibir. “Terus dia bilang ‘bibir nda’. Saya bilang tidak mau,” tulis Maria.(*)