POSMETRO MEDAN – Dua orang buruh tani dilaporkan tewas disambar petir di area persawahan Dusun I, Desa Lumban Barat, Kecamatan Paranginan, Kab. Humbang Hasunsutan (Humbahas), Sabtu (9/8/2025) sore sekitar Pukul 15:30 WIB.
Korban yakni Janner Siregar (62) dan Marusaha Siregar (50), keduanya warga Dusun IV, Desa Lobutolong Habinsaran, Kec. Paranginan, Kab.Humbahas.
Kapolres Humbahas AKBP Arthur Sameaputty melalui Kapolsek Lintongnihuta, AKP TLP Marbun mengatakan, sebelum kejadian, korban bersama rekannya Rianto Sianturi (32), Jamintan Siburian (50), Zorkom Sihombing (50) dan Hotma Siburian (60) sedang menggarap sawah milik Jabattas Sianturi.
“Saat hujan turun, penggarap sawah ini berteduh di saung tani sembari menunggu hujan reda, tiba-tiba petir menyambar disertai gemuruh menggelegar. Spontan, Janner dan Marusaha tidak sadarkan diri sehingga dilarikan ke Puskesmas Paranginan, yang kemudian dirujuk ke RS Santa Lucia Siborongborong,” jelasnya.
Lanjut kapolsek, saat dilakukan pemeriksaan di RS Santa Lucia, kedua korban dinyatakan meninggal dunia. Kemudian jenazah korban dibawa pulang dan disemayamkan di rumah duka Dusun IV, Desa Lobutolong Habinsaran, Kec. Paranginan.
Kepala Desa Lobutolong Habinsaran, Suparna Gianto Sianturi membenarkan dua warganya meninggal dunia karena disambar petir. Saat ini, masing-masing korban masih disemayamkan di rumah duka sembari menunggu kesepakatan dari pihak keluarga untuk pemakaman.
Ditambahkan, bahwa kedua korban merupakan warga ekonomi lemah, sehingga kerap menjadi buruh tani yang mengharapkan upah hingga ke desa tetangga.
Dijelaskan, bahwa Alm. Marusaha meninggalkan dua orang anak yang sedang duduk di bangku SD dan SMP. Sebelum meninggal dunia, Marusaha sudah ditinggal pergi oleh sang istri.
“Kejadian ini sangat memilukan khususnya kepada anak yang ditinggal Almarhum. Mudah-mudahan orang-orang baik terketuk hatinya untuk memberi bantuan sehingga kedua anak Marusaha bisa menyelesaikan sekolahnya,” kata Suparna.
Selanjutnya sambung Suparna, Alm. Janner Siregar meninggalkan satu istri dan empat anak, satu menantu. Meskipun anak yang ditinggalkan sudah tidak lagi duduk di bangku sekolah, namun kehidupan keluarga yang ditinggal Janner ini terbilang pas-pasan. Sehingga mereka harus banting tulang untuk kebutuhan sehari-hari. (was)












