Sadis! Boru Butarbutar Dibantai 24 Liang

oleh -128 views
Martha Elisabeth Butarbutar semasa hidup.(IST/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Pembunuhan sadis terjadi di Dusun I, Desa Lumban Lobu Kecamatan Bonatulunasi, Toba. Seorang bu guru, Martha Elisabeth Butarbutar tewas dibantai dengan luka sedikitnya 24 liang, Senin (24/5/2021).

Saat ditemukan, kondisi korban dalam posisi telentang dengan kedua tangan dan kaki terbuka lebar. Bahkan, pakaian bawahnya tersingkap.

Selain jejak di dalam rumah, polisi juga menemukan jejak lain di areal persawahan. Belum dapat dipastikan apakah pembunuhan ini karena perampokan, atau murni karena dendam orang dekat.

Adapun ke 24 luka tusuk di sekujur tubuh korban yakni 5 di bagian perut, 2 di bagian payudara, 1 di bagian ketiak, 1 lengan kiri, 1 di persendian lengan bahu, 1 di bagian sayap punggung, 2 pada lengan kiri luar.

Kemudian, 1 pada pergelangan tangan kiri, 1 punggung kiri, 1 punggung tengah, 1 punggung tengah bawah, 1 bagian leher belakang, 1 bagian rahang kiri.

BACA JUGA..  Mayat Pria 40 Tahun Ditemukan di Sawah Pantai Labu

Selanjutnya, 2 di bagian pipi dekat daun telinga, 1 di bagian atas telinga kiri, 1 di bagian kepala pada dahi kiri, dan 1 di bagian pergelangan tangan kanan.

Kepada wartawan di lokasi kejadian, Kasat Reskrim Polres Toba, AKP Nelson Sipahutar menyebut pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mendapati adanya jejak kaki diduga milik pelaku di rumah korban.

Namun polisi belum bisa memastikan apakah pelaku ini merupakan orang dekat atau bukan. Guna kepentingan visum jenasah dibawa ke RSUD Porsea untuk selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Djasamaen Saragih Pematangsiantar untuk otopsi. Sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan.

BACA JUGA..  Edy Rahmayadi Harapkan Korban Segera Tempati Rumah Baru

Pertama kali ditemukan, pakaian korban tersigap hingga muncul dugaan korban sempat setubuhi pelaku.

Terkait hal ini, Kasubbag Humas Polres Toba Iptu Bungaran Samosir mengatakan penyidik masih mendalami berbagai kemungkinan dalam kasus ini, termasuk kabar soal adanya tindak rudapaksa. Sejauh ini, tanda-tanda itu belum ditemukan.

“Sejauh ini masih ditemukan sejumlah luka tusuk. Untuk dugaan rudapaksa masih menunggu hasil pemeriksaan,” kata Bungaran.

Diketahui, selama ini korban hidup seorang diri. Martha mengajar di Sekolah Dasar Negeri 173599 Lumban Lobu. Tempat tinggal korban (TKP) berada di tengah areal persawahan. Lokasinya cukup sepi dan jauh dari para tetangga.

Menurut masyarakat sekitar, korban dikenal sebagai pribadi yang pendiam hingga jarang berkomunikasi dengan masyarakat. Namun korban diketahui telah menikah. Hanya saja tak ada yang tahu keberadaan suami korban.

BACA JUGA..  Penanganan Wilayah Bencana dan Pelayanan Warga Berkebutuhan Khusus Harus Maksimal

Sementara itu, Kepala dusun setempat, Nanni boru Sitorus menyebut dirinya mengetahui tewasnya Marta sekira pukul 09.30 WIB. Saat itu dia sedang melintas dan mendapati warga telah memadati lokasi kejadian.

Setelah mengetahui kejadian itu, dia lantas memberitahu kepada Kepala Desa dan puskesmas terdekat.

“Kalau melihat kondisi saat ini, kemungkinan ia sedang daring (online) sehingga ia tidak pergi ke sekolah. Biasanya, ia pergi ke sekolah sebab ia guru,” sambungnya.

Karena dikenal sebagai sosok pendiam, ia tidak memiliki hubungan dekat dengan korban. Ditambah, rumah Nanni dengan Marta boru Butarbutar relatif jauh.(tbn/ras)

 

 

 

 

EPAPER