POSMETROMEDAN.com – Banjir yang melanda Kota Medan pada Kamis (3/12) malam hingga Jumat (4/12) semuanya akibat kondisi tata ruang, tata kelola sumber daya air dan sistem drainase kota yang buruk.
Hal ini disampaikan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Manajemen Sumber Daya Air, Firdaus Ali,
“Contohnya saja ketika hujan sudah berhenti, sungai juga masih bisa menampung debit air, tetapi air yang merendam pemukiman belum juga surut. Ini menunjukkan bahwa sistem drainasenya sangat jelek sekali,” katanya kepada wartawan, kemarin (7/12).
Menurutnya, penataan jaringan drainase Kota Medan yang merupakan tanggung jawab pemerintah kota, sudah sangat mendesak dan harus diprioritaskan untuk melindungi warga dari ancaman banjir dan genangan.
“Ini tata dan pola pemanfaatan ruang Kota Medan salah implementasi. Pemerintah kota harus betul-betul serius dan kerja keras membenahinya. Jangan lagi menunggu bencana datang, baru kemudian saling menyalahkan,” katanya.
Dia melanjutkan, Pemko Medan harus proaktif melakukan pendekatan dan koordinasi dengan pemda sekitar, yakni Kabupaten Deliserdang, Karo dan Simalungun yang merupakan daerah hulu dari 9 sungai yang melewati Kota Medan.
“Tidak kalah penting adalah kemampuan melobi dan meyakinkan Pemerintah Pusat untuk memberikan bantuan teknis, karena kemampuan fiskal Pemkot Medan sangat terbatas untuk bisa mengatasi masalah banjir di Kota Ketiga Terbesar di Indonesia ini,” jelasnya.
Firdaus menuturkan, selain tata ruang dan sistem drainase, banjir di Kota Medan akibat belum selesainya pembangunan Bendungan Lau Simeme yang berlokasi di Desa Kuala Dekah, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang.
Menurut Firdaus yang juga merupakan Wakil Presiden Dewan Air Asia ini, Bendungan Lau Simeme ini merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tata kelola air, khususnya banjir di Kota Medan. Karena bendungan yang didesain memiliki kapasitas tampung 22 juta meter kubik yang jika selesai bisa mengurangi 60 persen beban air limpasan (banjir) yang selama ini selalu mengancam Kota Medan.
“Bendungan Lau Simeme ini merupakan solusi yang disiapkan oleh Pemerintah Pusat. Namun, hingga saat ini realisasi pembangunannya baru sekitar 20 persen disebabkan oleh masalah pembebasan lahan/tanah yang merupakan kewajiban/tanggung jawab pemerintah daerah. Padahal kalau bendungan ini selesai, 60 persen beban banjir di Medan bisa kita atasi,” pungkas pakar tata kelola air perkotaan dari Universitas Indonesia ini.
Terpisah, Kepala Dinas PU Kota Medan Zulfansyah, menepis tudingan bahwa banjir di Kota Medan akibat sistem drainase yang buruk. Menurut dia, efek dari sistem drainase buruk adalah genangan air di badan jalan. Sedangkan yang terjadi kemarin adalah banjir akibat luapan air sungai.
“Kalau banjir itu dari sungai, sistem drainase itu efeknya di genangan kalau ini udah melimpah melimpah. Drainase itu justru sekarang ini jalan semua, nggak ada genangan kan bersih semua. Paling lama satu jam genangan air abis itu kering lagi,” tepisnya.
Zulfansyah menambahkan, banjir di 10 Kecamatan Kota Medan, terjadi karena hujan di hulu dan pasang di laut atau muara. “Ini karena hujan di hulu, di samping itu juga pasang di laut jadi ketemu dia. Ada namanya siklus banjir, siklus itu akibat di hulunya hujan besar, di muara pasang itu jarang terjadi bersamaan telah fenomena banjir. Itulah namanya siklus banjir 10 tahunan dan dari kehendak Maha Kuasa,” jelasnya.
Mengatasi meluapnya sungai, diakuinya perlu treatmen tambahan. Di mana, kanal Marendal salah satu trratmennya. “Kanal Marindal itu mengalihkan aliran Sungai Deli ke sungai Denai. Itu Sungai Deli kalau enggak ada kenal itu terbenam Medan. Itu syukur alhamdulillah ada kanal,” katanya.
Selama ini, lanjut dia, banyak yang menyebut bahwa kanal tidak berfungsi. Kenyataannya kemarin karena kanal Medan tidak terendam banjir. “Banyak yang bilang selama ini karena itu tidak berfungsi, kalau enggak ada kanal itu udah kebanjiran Medan ini, semua itu memang peralihan Sungai Denai ke Sungai Deli airnya,” pungkasnya.
Seperti diketahui, banjir di Medan merendam rumah yang didiami 1.983 KK atau 5.965 jiwa yang tersebar di 7 kecamatan. Adapun 7 kecamatan itu, yakni Kecamatan Medan Maimun, Medan Johor, Medan Selayang, Medan Tuntungan, Medan Baru, Medan Petisah dan Medan Polonia.
Banjir ini disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur sejak Kamis. Kondisi tersebut diperparah dengan meluapnya air dari sejumlah sungai yang berada di Kota Medan. (mbd/ali)












