POSMETRO MEDAN – Proyek sistem penyaluran air minum senilai Rp 450 juta dari dana Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman tahun anggaran 2023 lalu yang dikerjakan oleh Kelompok Swakelola Masyarakat (KSM) Mandiri Desa Parsingguran Kecamatan Polling Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), tak kunjung bisa dirasakan manfaatnya.
Hal ini diduga , proyek penyaluran air minum tersebut sebagaimana semestinya dapat dirasakan, ternyata masyarakat disekitaran pada pembangunan proyek tersebut masih mengalami krisis air bersih.
Roy Ganda Sihombing, salah seorang warga Desa Parsingguran II , bahwa pembangunan perpipaan untuk penyaluran air bersih tidak berdampak pada pemenuhan kebutuhan air kepada masyarakat.
” Yang saya lihat, proyek ini sudah mulai dikerjakan pada 14 Juni 2023, namun dampaknya belum bisa dinikmati oleh kami masyarakat sampai sekarang. Dan, kami merasakan sangat banyak kejanggalan pada proyek tersebut,” ujarnya, Rabu (30/7/2025).
Ia juga mengeluhkan, pembangunan yang menurutnya belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
” Sejak dikerjakan hingga sekarang, sebagian besar instalansi pipa itu belum pernah dialiri air, setetes pun tidak ada. Dan, pipa yang dibangun untuk penyaluran air bersih terbengkalai dan kita rasakan sudah menjadi rongsokan,” keluhnya.
Menurutnya, setelah dilakukan mereka pengecekan, banyak kejanggalan yang dirasakan pada proyek itu seharusnya sudah bisa dinikmati manfaatnya.
Ia memisalkan, berupa pemasangan instalansi perpipaan dari bahan material paralon dengan panjang 500 meter yang dibuat mengambang diatas permukaan tanah atau tidak ditanam.
” Ada juga pipa yang tertanam, namun kedalamannya variatif,” terangnya.
* Proyek Perpipaan Penyaluran Air Bersih Dilapor ke Polisi
Sementara itu, lebih lanjut dikatakannya, sekaitan proyek perpipaan penyaluran air bersih tahun anggaran 2023, telah dilapor ke Polres Humbahas
Ia melapor, tentang dugaan tindak pidana penyelewengan dana proyek pengadaan air minum yang terjadi di Dusun VII, Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Kamis (17/7/2025) lalu.
Dikatakannya, bahwa proyek yang ia laporkan itu sejatinya dimulai dikerjakan sejak pertengahan Tahun 2023 lalu. Tapi hingga kini, dampak dari proyek yang menelan biaya Rp 450 juta sama sekali tidak bisa dinikmati masyarakat.
Menurutnya, bahwa pengerjaan perpipaan untuk penyaluran air bersih itu gagal yang dikerjakan pihak KSM. Sejak dimulainya proses pengerjaan proyek itu, ia melihat banyak hal yang janggal.
Hal itu, ia ungkapkan lantaran ia melihat banyak instalasi pipa bermaterial pralon yang dipasang dengan cara hanya diletakkan begitu saja di permukaan tanah alias mengambang.
” Ada sepanjang kurang lebih 500 meter pipa dibiarkan mengambang. Tidak ditanam. Tapi ada juga sebagian yang ditanam tetapi kedalamannya hanya 5 cm,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, proses pengerjaan pembangunan tembok bendungan air juga terlihat asal-asalan.
Menurutnya, tembok yang dibangun di pangkal sudah sering mengalami kebocoran dan bahkan roboh meski baru selesai dikerjakan.
” Ada anggapan perbandingan campuran bahan material semen, pasir, dan batu yang digunakan saat membangunnya tidak sesuai takaran. Sehingga tak lama setelah dibangun, tembok itu kerap mengalami kebocoran,” terangnya.
Dia mengatakan lagi, selama ini akses masyarakat terhadap air minum di tempat tinggalnya terbilang sangat sulit. Masyarakat setempat harus menempuh 5 km hingga 7 km hanya untuk mendapatkan air.
” Jadi dengan adanya proyek pengadaan air minum dari Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Humbahas Tahun Aggaran 2023, seketika saat itu masyarakat menaruh harapan yang sangat besar. Mereka meyakini, dana sebesar Rp 450 juta yang dikelola KSM tersebut akan mampu menjadikan air mengaliri rumah-rumah masyarakat setempat,” harapan.
‘’Namun sayangnya, sejak dibangun hingga detik ini, air yang kami harapkan mengalir tak kunjung ada. Seketika pupuslah harapan kami’’, keluhnya.
Untuk itu, ia berharap, laporan pengaduaan yang dia sampaikan supaya ditindaklanjuti hingga tuntas.
” Apalagi di kampung kami kan ada Objek Wisata Silemeleme. Malu kami sama pengunjung jika tidak ada air sekedar menyiram kamar mandi di sana,” tambahnya
Amatan wartawan, ditemukan sebagian pipa tidak terkubur, hal itu dilihat dari belum lama ini adanya kebakaran lahan disekitaran pembangunan perpipaan penyaluran air bersih.
Menurut warga, penyebab utama terbakarnya pipa air minum tersebut lantaran sejak awal pemasangan, pipa dibiarkan mengambang di atas permukaan tanah.
“Jadi pipa dari sumber hingga ke ujung jalan itu tak ditanam, hanya diletakkan begitu saja. Panjangnya ratusan meter. Jadi kemarau kemarin, tiba-tiba semak belukar di sekitar pipa terbakar, dan pipa pun ikut terbakar,” terang seorang warga.
Alhasil, lanjutnau, pasokan air minum yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat terutama di musim kemarau ini menjadi terganggu.
Banyak dari masyarakat yang terpaksa mencari air hingga kiloan meter untuk kebutuhan rumah tangga mereka.
“Kami keluar dari Dusun VII ini ke arah Tambok Bolon yang jauhnya sekitar 4 km untuk menjemput air. Kami gunakan jerigen besar,” keluhnya.
Dikatakannya, kebutuhan air di lokasi itu cenderung kurang. Pasalnya, debit air yang dihasilkan dari pipa air minum itu tidak pernah penuh.
“Lain lagi sering ada gangguan. Kadang bendungannya longsor, kadang pipa patah atau pecah, dan sebagainya”, sambung warga itu.ds
EDITOR : Rahmad












