Pembunuhan Bos Media; Praka AS Terancam 15 Tahun, 3 Oknum TNI AD Terlibat

oleh -163 views
BARANG BUKTI: Barang bukti yang disita dari para pelaku pembunuhan Marsal.(IST/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Pembunuhan berencana yang menyebabkan wartawan di Simalungun, Marasalem Harahap alias Marshal tewas, melibatkan empat anggota TNI AD, KODAM I/BB. Termasuk sang eksekutor yakni Praka AS.

Itu disampaikan Pangdam I/BB, Mayjen TNI Hasanuddin di aula POMDAM I/BB Jalan Sena, Selasa (27/7/2021) sekira pukul 15.30 WIB.

Dalam pemaparan tersebut, turut dihadirkan tiga anggota TNI AD lainnya karena terlibat dalam penyediaan senjata api.

Ditegaskan, Praka AS telah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal berlapis.

Pasal yang dipersangkakan adalah pasal 355 ayat 1 dan 2 kitab hukum undang-undang pidana tentang penganiayaan berat, dengan ancaman hukuman 12 tahun.

Namun karena korban meninggal dunia, maka ditambah junto pasal 55 ayat 1 ke 1e KUHPidana. Dengan tambahan junto ini, Praka AS terancam hukuman 15 tahun penjara.

“Disamping itu pasal 1 ayat 1 Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang penyalahgunaan senjata api dan amunisi. Ancaman hukumanya adalah hukuman mati atau penjara 20 tahun atau seumur hidup. Barang bukti yang kita Sita diantaranya : 1 unit senjata api FN rakitan, 1 senjata api HW 654 K, 1 senpi G2 Combat caliber 9 mm, 3 HP,” beber Hasanuddin.

BACA JUGA..  Proyek Penahan Tebing di Karo Longsor, 5 Pekerja Tertimbun 2 Sudah Ditemukan

“Tiga butir peluru caliber 22 mm buatan Korea, 1 butir peluru caliber 39 mm buatan Pindad, 10 butir peluru 32 mm buatan Spanyol dan 27 butir amunisi F 46 buatan Pindad serta 1 BPKB kendaraan, 1 unit sepeda motor Honda Beat BM5177 JT dan 1 Toyota Fortuner BK 1946 serta 1 Toyota Inova BK 1039 TV,” sambungnya.

Katanya lagi, Praka AS melakukan penembakan terhadap korban (Marshal) tepat di daerah yang tidak mematikan, yaitu paha.

Setelah dilakukan penyelidikan dan intograsi ternyata ada keterlibatan 3 oknum anggota TNI AD lainya yang turut membantu menyediakan senjata api.

Motifnya adalah tersangka S (Bos Karaoke Ferary) merasa sakit hati terhadap korban yang kerap memberitakan tentang maraknya peredaran narkoba karouke tersebut.

Korban juga meminta jatah uang sebesar Rp 12.000.000 per bulan dan ini dinilai pengelola terlalu besar sehingga tidak dipenuhi.

BACA JUGA..  Bupati Nas Selatan Ucapkan Terima Kasih ke Kapolda Sumut

Merasa sakit hati, S pun memerintahkan orang kepercayaannya (Y) dan Praka AS untuk memberi pelajaran kepada korban.

Untuk memuluskan rencana, S mengirim Rp 15 juta ke rekening AS untuk membeli senjata.

Kemudian pada tanggal 18 Juni 2021,  S dan Y berkeliling kota mencari keberadaan korban dengan mengendarai mobil Inova BK 1039 TV. Pencarian bahkan dilakukan sampai ke rumah, tapi Marshal tidak ditemukan.

Selanjutnya keduanya pun pergi ke hotel untuk minum-minum. Pukul 22.30 WIB, AS keluar dari kamar hotel untuk mengambil senjata api dan kemudian mereka meninggalkan hotel menuju Karaoke Ferary.

Setiba disana, Praka AS sempat mencoba menggunakan senjata api (digunakan menembak korban) di samping gedung Karaoke Ferary dengan 1 kali tembakan.

Berikutnya mereka kembali mencari Marshal ke rumahnya tapi tetap tidak jumpa.

Dari situ, mereka berniat kembali lagi ke hotel sekira pukul 23.30 WIB.

Namun baru beberapa ratus meter beranjak dari rumah korban, mereka berpapasan dengan mobil yang dikendarai korban.

BACA JUGA..  Kapolda Sumut Bawa 30 Ribu Vaksin ke Nias Selatan

Kesempatan itu dimanfaatkan Praka AS. Dia turun dari mobil.

Selanjutnya dia menembak paha korban dari celah kaca mobil yang terbuka.

Usai melukai target, Praka AS meninggalkan lokasi. Sementara Marshal akhirnya tewas akibat banyak kehilangan darah.

Mendengar korban meninggal dunia, Praka AS akhirnya memilih meninggalkan komandonya untuk bersembunyi.

Hanya saja upaya tersebut tidak lama, tim gabungan TNI-Polri berhasil menemukannya. Dia pun ditangkap di kawasan Tebing Tinggi.

Untuk tersangka lain yang turut diamankan terkait membantu menyediakan senjata api yakni berinisial DE, PMP dan LS.

Ketiganya merupakan anggota TNI AD di Jajaran KODAM I/BB.

“Saya selaku Pangdam I/BB berkomitmen untuk mengusut tuntas dan terang benderang tanpa intervensi dan kasus ini sudah saya laporkan pada KASAD, Asintel KASAD serta Danpuspomad, kasus ini juga siap kita limpahkan ke Oditur Militer untuk disidangkan,” tegas Hasanuddin.(bbs/ras)

EPAPER