POSMETRO MEDAN – Demonstrasi yang menuntut Presiden Bolivia Rodrigo Paz mundur, berujung bentrok dengan polisi di Kota Chocabamba. Polisi menembakkan gas air mata, sementara pengunjuk rasa melempar petasan, batu, hingga tongkat ke arah petugas.
Menurut polisi, warga dalam demonstrasi itu mencoba memutus jembatan yang menghubungkan wilayah Chochamba ke wilayah barat Bolivia. Demo sebetulnya sudah berlangsung sejak bulan lalu. Kemarahan warga kian memuncak usai Paz menandatangani undang-undang yang mempermudah pemerintah menerapkan keadaan darurat.
“Undang-undang ini bertujuan melindungi mayoritas penduduk dari terorisme narkoba yang memicu protes,” kata Paz usai meneken UU pada Senin (8/6/2026).
Dia lalu berujar, “Saya mengulurkan tangan ke organisasi-organisasi sosial yang punya tuntutan yang sah, serta menegaskan kembali kesediaan saya untuk terlibat dalam dialog.”
Namun, warga menolak dialog dengan Paz. Mereka justru kian menegaskan tuntutannya agar dia mundur. Mulanya warga berunjuk rasa karena tak puas dengan pemerintahan Paz. Situasi ekonomi terus memburuk bahkan memicu inflasi, harga bahan bakar minyak melonjak tajam, hingga penghapusan subsidi BBM.
Serikat pekerja nasional Bolivia, petani, dan kelompok masyarakat yang marah mendirikan 90 blokade di rute-rute utama di seluruh negeri. Langkah ini secara efektif mengisolasi kota-kota besar terutama La Paz.
Namun, pemerintahan Paz menanggapi dengan tindakan keras. Mereka menahan banyak demonstran dan ada korban tewas. Laporan Ombudsman Bolivia menyebut dari 1 Mei hingga 2 Juni, kerusuhan menyebabkan 10 kematian, 37 luka-luka, dan 356 orang ditangkap.(bbs)












