POSMETRO MEDAN – Tabuhan gendang pakpung berpadu syahdu dengan petikan alat musik gambus Melayu yang dimainkan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menandai pembukaan Gelar Melayu Serumpun (GEMES) IX Tahun 2026 di Lapangan Merdeka, Sabtu (27/6/2026) malam.
Pembukaan event tahunan kebanggaan Kota Medan yang berlangsung meriah dan megah ini berlangsung empat hari penuh, Sabtu (27/6/2026) -Selasa (30/6/2026).
Tidak hanya menjadi pesta budaya lokal, Gemes tahun ini kembali menegaskan eksistensinya di kancah internasional dengan keikutsertaan berbagai negara sahabat, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Korea Selatan, hingga Tiongkok.
Dalam sambutannya, Rico Waas menyampaikan bahwa Gemes bukan sekadar festival atau acara pertunjukan, Melainkan upaya melestarikan kebudayaan Melayu di tengah gempuran modernitas.
”Yang ditakutkan bagaimana tentang kebudayaan kita. Apakah kebudayaan akan bisa mengikuti perkembangan zaman? Namun kami meyakini, kebudayaan Melayu yang menjunjung tinggi adat istiadat, kesantunan dan agama ini akan selalu hidup berdampingan bersama kita,” kata Rico Waas di hadapan ribuan pengunjung.
Rico Waas menambahkan, kebudayaan Melayu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan instrumen penting sebagai soft diplomacy untuk memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. “Tidak banyak negara-negara yang memiliki kebudayaan seperti kita. Kami mengharapkan kebudayaan ini menjadi kekuatan kita semua, bagian dari soft diplomacy guna memperkuat bangsa kita melalui kebudayaan,” ujarnya.
Guna memastikan eksistensi budaya Melayu tetap kokoh, Rico Waas menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dan membuka ruang komunikasi yang erat dengan para pemangku adat, seniman, budayawan serta Kesultanan Deli agar terus bisa merawat kebudayaan Melayu di Kota Medan. “Kami berharap kebudayaan Melayu bisa terus membumi dan terjaga di Kota Medan,” harapnya.
Pelaksanaan Gemes tahun ini sengaja dipusatkan di Lapangan Merdeka, mengingat saat ini Istana Maimun masih proses revitalisasi. Selain itu, acara ini juga nantinya dirangkai kegiatan Rakernas APEKSI dan Kota Medan dipercaya sebagai tuan rumah. “Semuanya kita pusatkan di satu kawasan, termasuk nanti pesta rakyat, dan Pesona Colorfull dalam rangka memeriahkan HUT Kota Medan,” tambah Rico Waas.
Tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya melayu, melalui event ini Pemko Medan juga mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Hal ini dibuktikan hadirnya 72 stan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ikut memeriahkan acara dengan menjajakan berbagai produk kreatif mulai dari kriya hingga kuliner khas Melayu.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Republik Indonesia diwakili Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arditama Nusantara Putra menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Kota (Pemko) Medan beserta seluruh seniman, budayawan dan komunitas Melayu yang telah berkolaborasi menyelenggarakan Gemes 2026.
“Melalui kolaborasi yang erat, kita kembali menghadirkan sebuah ruang mempertemukan budaya, memperkuat identitas bangsa, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Arditama mengungkapkan, terpilihnya kembali Gemes sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN), menjadi sebuah pencapaian sangat membanggakan. Capaian tersebut mencerminkan konsistensi menjaga kualitas penyelenggaraan, memperkuat narasi budaya Melayu, serta menghadirkan dampak nyata bagi pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat.
“Tahun ini sekaligus menandai lima tahun berturut-turut event ini menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara. Kota Medan kini telah tumbuh sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya yang hidup berdampingan secara harmonis, dengan budaya Melayu sebagai salah satu akar sejarah yang membentuk identitas kawasan pesisir timur Sumatera,” ungkapnya.
Warga dan Pelaku UMKM Sampaikan Apresiasi
Kegiatan Gemes yang digelar Pemko Medan melalui Dinas Pariwisata mendapat respon positif dan apresiasi dari masyarakat.
Berlangsung meriah, ribuan masyarakat tampak hadir di Lapangan Merdeka guna menyaksikan pertunjukan budaya Melayu dari berbagai delegasi negara tetangga maupun luar Provinsi Sumatera Utara.
Salah satunya Teti Susanti. Warga Labuhanbatu Utara (Labura) ini mengaku Gemes ke-9 tahun 2026 yang digelar di Kota Medan berlangsung bagus dan meriah.
“Suasananya sangat luar biasa. Kami juga bebas masuk menyaksikan langsung pertunjukan. Nanti malam (Senin) ada pertunjukan dari Labura, jadi kami semua mau menonton juga,” katanya.
Suksesnya Gemes tahun 2026, Teti berharap kegiatan serupa juga bisa semakin meriah dan sukses di tahun mendatang.
“Semoga semakin meriah, dan kalau bisa di acara tahun depan ada videotron di luar panggung sehingga masyarakat yang tidak masuk juga bisa menonton,” harapnya.
Hal senada disampaikan Aan yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Pria berprofesi sebagai karyawan swasta ini mengaku setiap pelaksanaan Gemes selalu hadir untuk menikmati tari-tarian dan kebudayaan Melayu lainnya.
“Kami berharap Gemes menjadi salah satu upaya yang mampu terus menggelorakan kebudayaan Melayu. Mari sama-sama kita jaga kebudayaan ini agar tidak tergerus zaman,” ajaknya.
Selain itu, sejumlah pelaku UMKM yang ikut dalam kegiatan mengaku bersyukur karena Gemes dapat menggerakkan bahkan meningkatkan perekonomian.
“Alhamdulillah, event ini sangat membantu meningkatkan usaha kami di tengah kondisi saat ini yang cenderung sulit. Apresiasi kepada Pemko Medan dan Dinas Pariwisata Kota Medan. Kami berharap Gemes terus dilaksanakan setiap tahun. Bahkan kalau memungkinkan, buat kegiatan lain yang melibatkan UMKM Kota Medan,” sebut mereka.
Turut hadir dalam acara ini Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas, Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provsu Yuda Pratiwi Setiawan, unsur Forkopimda Kota Medan, Sultan Deli ke-14 Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, Konsulat Negara Sahabat, Wali Kota Lhoksumawe Sayuti Abubakar, Bupati Bireuen Mukhlis, para pimpinan perangkat daerah serta Camat se-Kota Medan. (*)
Editor: Ali Amrizal












