Dokter Kecantikan Polisikan Abang Kandung

oleh
oleh
Sri Rejeki Ginting didampingi kuasa hukumnya memberikan keterangan perihal penganiayaan yang dilakukan Abang kandungnya terhadapnya.

POSMETRO MEDAN – Seorang dokter kecantikan di Kota Medan melaporkan abang kandungnya ke polisi, terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan telinganya mengalami luka memar.

Kepada wartawan, dokter bernama Sri Rejeki Ginting ini mengatakan penganiayaan terjadi pada Minggu (15/3/2206) lalu.

Saat itu, korban didatangi abangnya bernama TA Ginting (35) di rumahnya di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Timbang Deli, Medan Amplas.

BACA JUGA..  Pencuri Sepeda Motor Boru Silitonga Diringkus Polisi

“Abang saya datang ke rumah, mau pinjam mobil saya,” kata wanita berusia 30 tahun ini, Senin (30/3/2026).

Sri tidak menuruti permintaan abangnya tersebut dengan alasan selalu lama mengembalikan mobil. “Sudah sering pinjam mobil, terus kalau mengembalikan selalu lama dan pasti ada yang rusak,” kata anak keempat dari lima bersaudara tersebut.

Penolakan tersebut membuat TA Ginting marah. Mereka pun terlibat cekcok hingga tiba-tiba TA Ginting memukul telinga Sri.

BACA JUGA..  Perang Narkoba di Tapteng, 8 Tersangka Tumbang dalam 14 Hari

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka memar di bagian telinga. “Kuping saya sakit dan mendengung. Saya sudah membuat laporan di Polrestabes Medan,” ucapnya sembari membacakan nomor laporan polisi LP/B/1130/III/2026/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA, tanggal 20 Maret 2026.

Ia menduga saat itu abangnya sedang dipengaruhi minuman beralkohol. “Bau mulutnya tercium alkohol,” ujarnya.

BACA JUGA..  Polisi Gerebek Dua THM di Medan, Empat Pengunjung Positif Narkoba

Sementara itu, kuasa hukum Sri, Muhammad Arrasyid Ridho, SH, MH dan Marselinus Duha, SH, meminta pihak kepolisian segera menindaklanjuti laporan kliennya.

“Semoga ini bisa menjadi atensi oleh Polrestabes Medan untuk menindaklanjuti laporan korban,” kata Ridho.

Ia menambahkan, saat ini terlapor masih berkeliaran sehingga membuat keamanan kliennya terancam. “Terlapor masih berkeliaran, saat ini klien kami masih trauma,” tuturnya. (mis)