Manten Baru Tewas di Rumah Mertua, Keluarga Curiga Dibunuh

oleh
DIDUGA DIBUNUH: Abdul Majid tewas tidak wajar di rumah mertuanya.(IST/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Baru tiga hari menggelar pesta pernikahan, Abdul Majid (32) ditemukan tewas tergantung di rumah mertuanya pada Rabu (2/12/2020) malam. Pihak keluarga curiga pengantin baru ini dibunuh.

Kecurigaan itu cukup mendasar. Dimana, korban sempat mengirim SMS kepada keluarganya agar segera dijemput. Kalimat bernada ketakutan tersebut disertai peringatan, keluarga akan menyesal jika tidak dijemputnya.

Hal ini diungkap Askan selaku keluarga/Om korban. “Jadi Abdul itu baru nikah minggu semalam, 3 hari yang lalu di rumah istrinya di Tanjung Balai,” kata Askan kepada POSMETROMEDAN.com.

BACA JUGA..  Angin Kencang Tumbangkan Tiang Sutet dan TM PLN di Serdang Bedagai

Dikatakannya, pesan melalui SMS disampaikan Abdul kepada keluarga di Bandar Setia tepatnya Jalan Terusan, Dusun 2, Gang Nusa, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang.

“Di SMS itu Abdul bilang dia mau dihabisi keluarga si Rido (istrinya). Pesan pertama korban minta dijemput kelurganya segera, karena korban ketakutan dan menyebut akan dihabisi,” beber Askan.

Pasca ditemukan tewas, keluarga dikirimi video saat Abdul ditemukan dan proses evakuasi. Berdasarkan video tersebut, keluarga semakin yakin jika korban dibunuh. Sebab kakinya tidak tergantung alias menyentuh lantai.

BACA JUGA..  Pasutri Tewas Ditabrak Angkot di Tanjung Morawa

Saat menerima pesan yang dikirimkan Abdul, keluarga sempat bingung dan penasaran. Kegalauan keluarga akhirnya terjawab ketika mobil yang membawa jasad Abdul tiba di rumah duka, Bandar Setia, pada Kamis (3/12/2020) siang.

Kecurigaan Abdul dibunuh semakin kuat dalam benak keluarga. Sebab, tak seorang pun dari pihak istrinya yang turut mengantar jenazah.

“Tak ada satu pun keluarga si Rido. Kami pun melihat di jasadnya, tulang rusuk memar, di bahu ada bekas jeratan tali dan siku tangan yang kayak ke dalam,” ungkap Askan.

BACA JUGA..  Kapolsek Medan Baru Apresiasi Peran Ojol dalam Menjaga Kamtibmas

“Keluarga si Rido kasih kami dua pilihan. Pertama, kalau mau visum atau otopsi di siantar. Kedua, ya terima aja,” tambah Askan.

Terkait dua pilihan itu, pihak keluarga sangat ingin melakukan otopsi. Hanya saja, keinginan tersebut terkendala biaya.

“Iya kami maunya otopsi lah bang, tapi mau kek mana uang kami gak ada. Semua keluarga sangat terpukul,” kesah Askan.

Saat ini keluarga hanya bisa berharap pihak mau melakukan pengusutan.

“Kami hanya minta dan berharap kasus kematian ini bisa terungkap, mengapa bisa terjadi begini,” tutupnya. (oki/ras)