Ratusan Hektar Tanaman Kelapa Sawit Kebun PTPN 4 Regional 2 Tanjung Garbus Kering Terpapar Hama

oleh
Ribuan Tanaman Kelapa Sawit Kebun PTPN 4 Regional 2, Tanjung Garbus Mengering Terpapar Hama.

POSMETRO MEDAN – Penanganan yang tidak efektif mengakibatkan ratusan hektar dan ribuan pohon kelapa sawit kebun PTPN 4 Regional (Reg) II, Kebun Tanjung Garbus (dulunya Kebun TGPM PTPN2) mengering dan tak ada buahnya. Kondisi tanaman yang rusak parah itu terpantau di Afdeling Satu Desa Perbarakan hingga Afdeling Dua Desa Tanjung Garbus Dua.

Pantauan dilapangan, ribuan pohon sawit diperkirakan berusia 10-15 tahunan itu sebagian besar tak punya buah bahkan bunga bakal buah. Sedangkan anggaran pemeliharaan tanaman diperkirakan terus berjalan karena ada karyawannya.

Tingkat kerusakan tanaman di Afdeling Satu dan Afdeling Dua Kebun Tanjung Garbus PTPN 4 Regional II ini sudah parah. Padahal, tanaman sawit fase ini mestinya puncak produksi buah yang semestinya baik.

BACA JUGA..  Sapi Kurban Lepas dan Terobos Swimming Pool

Menurut salah seorang karyawan yang ditemui di lapangan mengatakan, tanaman Kelapa Sawit milik Regional II, PTPN 4 PalmCo, mengalami serangan hama ulat kantung dan ulat api secara masif. Lemahnya pengawasan serta minimnya tindakan pencegahan dari pihak manajemen kebun mengakibatkan kerusakan tanaman makin parah dan merugikan perusahaan.

Dalam enam bulan terakhir, serangan hama diprediksi terus berkembang akibat tidak efektifnya sistem identifikasi dini (early warning) serta kegiatan telling global di tingkat operasional kebun. Padahal, tanaman sawit pada fase TBM-3 merupakan fase kritis pertumbuhan vegetatif yang membutuhkan pengawasan intensif untuk menjamin produktivitas jangka panjang.

BACA JUGA..  Polda Sumut Kirim Foto Keponakan Wali Kota Tebingtinggi Masih Ditahan

Penanganan baik secara mekanis maupun biologis, dinilai tidak dilakukan secara cepat, terukur, dan terstruktur sehingga populasi hama berkembang hingga meluas ke blok lain.

Beberapa areal tanaman sawit muda yang terserang ulat api dengan tingkat kerusakan cukup parah juga ada namun belum terlihat adanya upaya penanggulangan maksimal di lapangan.

Sumber internal PTPN 4 yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut bahwa kondisi ini terjadi sejak lama. Ia menilai lemahnya pengawasan rutin dan terlambatnya menetapkan status early warning menjadi faktor utama meledaknya populasi hama di areal tersebut.

“Secara teknis, ulat kantung merupakan hama defoliator yang sangat merugikan karena menyerang pelepah dan daun sehingga menurunkan luas bidang daun produktif. Bila penanganan terlambat, serangan dapat menyebabkan stres berat pada tanaman, menghambat pembentukan bunga, hingga menurunkan produksi selama beberapa tahun,” sebut Sumber, Senin(30/3/2026).

BACA JUGA..  SMPN 1 Beringin Gelar Perpisahan Siswa Angkatan 16

Melihat kondisi saat ini, kerugian perusahaan plat merah ini dikhawatirkan semakin besar bila luas serangan terus terjadi, terutama pada tanaman usia muda. Selain penurunan produktivitas, perusahaan berpotensi mengeluarkan biaya tambahan untuk rehabilitasi tanaman—sementara biaya perawatan TBM sesungguhnya telah dialokasikan dalam anggaran perusahaan.

Terkait hal ini, Kasubag Humas PTPN 4 Regional 2, Chairul Ichlas saat dikonfirmasi via seluler dan pesan watsapp belum memberikan komentar seputar masalah tersebut.( Wan)

EDITOR : Putra