PERUMAHAN WEB

Dirkrimum Poldasu, Kombes Sumaryono: Tersangka Nina Wati Masih Dibantarkan Dirawat di RS Bhayangkara Medan

oleh
Tersangka calo Akpol, Nina Wati saat dibantarkan ke RS Bhayangkara Tk II Kota Medan. (HO/Posmetromedan.com)

Posmetromedan.com – Pemeriksaan Nina Wati alias NW alias Bunda Nina sebagai tersangka kasus penipuan dapat mengurus sertifikat tanah atas laporan Henry Dumanter Tampubolon di Dit Krimum Polda Sumut, hingga saat ini belum dilakukan.

Hal itu dikarenakan hingga saat ini tersangka Nina Wati masih dibantarkan menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tk II Kota Medan.

Kondisi kesehatan yang disebutkan drop dibenarkan Direktur (Dir) Kriminal Umum Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Sumaryono, kepada wartawan beberapa waktu lalu.

“Bersangkutan (Nina Wati) sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Jatanras Poldasu dengan kasus penipuan dapat mengurus sertifikat tanah yang dilaporkan Henry Dumanter,” ujarnya.

Bahkan, saat Nina Wati dibawa ke RS Bhayangkara, Kombes Sumaryono mengatakan akan melihat perkembangan kesehatan Nina Wati dalam 1 atau 2 hari kedepannya. Saat itu Kombes Sumaryono bilang, pihaknya akan segera membawa Nina Wati kembali ke Poldasu untuk diperiksa sebagai tersangka di Jatanras.

BACA JUGA..  Tumpukan Ban Bekas Terbakar, Menghebohkan Warga
Nina Wati alias NW (47) tersangka kasus penipuan dan penggelapan masuk Akpol, resmi memakai baju tahanan Dir Rekrimum Polda Sumut. (Istimewa for Posmetromedan.com)

Nina Wati Kembali Dilaporkan, Kali Ini 7 Korbannya Merugi Miliaran Rupiah

Beberapa hari kemarin, Nina Wati tersangka kasus penipuan kembali dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Krimum) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) dengan kasus yang sama yakni kasus penipuan.

Kali ini, wanita yang kerap di sapa bunda Nina itu dilaporkan oleh 7 orang sekaligus dengan nominal kerugian hingga miliaran rupiah. Laporan terhadap wanita berbadan gempal tersebut telah dilayangkan pada 18 Mei 2024 lalu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Sumaryono membenarkan terkait adanya laporan tersebut. Sumaryono juga sebut jika laporan tersebut telah diterima oleh pihaknya.

“Ia benar yang bersangkutan kembali di laporkan terkait kasus penipuan,” ujar Sumaryono saat dihubungi wartawan, Senin (27/5/24) sore.

Perwira menengah Polri itu menyebut laporan terhadap Nina Wati tertuang dalam laporan Polisi LP/B/626/V/2024/SPKT/Polda Sumut yang dilayangkan pada 18 Mei 2024 lalu.

BACA JUGA..  Tiga Rumah Terbakar di Karo, Sembiring Tewas

Lanjut dia, Nina dilaporkan dengan dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 dan atau 372 KUH Pidana dengan atas nama pelapor Suriono dan kawan-kawan.

Untuk diketahui nama Nina Wati mulai mencuat setelah dilaporkan oleh salah seorang warga bernama Afnir alias Menir bebera waktu lalu. Kepada Polisi korban Afnir mengaku mengalami kerugian Rp.1,35 Miliar.

Usai laporan Afnir alias Menir berproses di Polda Sumut, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi meminta masyarakat yang merasa sebagai korban dari Nina Wati untuk membuat laporan ke Polda Sumut.

Tidak butuh waktu lama, kurang dari dua ninggu, tujuh Laporan Pengaduan dengan kasus modus penipu yang ditujukan ke Nina Wati diterima Polda Sumut dan kini sedang berproses.

Sementara yang terbaru, Nina Wati juga dilaporkan oleh Henry Dumanter terkait kasus penipuan dengan iming-iming bisa mengeluarkan Surat Sertifikat Hak Milik (SHM) diatas lahan PTPN yang ada di Sumut.

BACA JUGA..  Telan Ayam Warga, Ular Sepanjang 3 Meter Kejutkan Masyarakat Binjai

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi menyebut, dalam kasus ini Nina Wati telah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan. Hadi menambah jika korban Henry Dumanter mengalami kerugian hingga Rp 3,3 Miliar rupiah.

“Kasusnya terkait dengan penipuan penggelapan. Ini taksiran kerugiannya itu sekitar Rp 3,3 miliar,” beber Hadi.

Dalam aksinya, tersangka Nina Wati menjanjikan kepada korbannya dapat menerbitkan sertifikat hak milik atas tanah yang berada di tanah PTPN.

“Tersangka ini (Nina Wati) menjanjikan bisa menerbitkan sertifikat hak milik atas tanah yang berada di tanah PTPN,” jelas Hadi. Namun perwira menengah Polri ini enggan menjelaskan di kawasan PTPN mana tersangka Nina menjalankan aksinya, ujar baru-baru ini. (*)

Reporter/Editor: Maranatha Tobing