Habornas Toba Dihantam Krisis Sinyal: WiFi Liar Menjamur, Jaringan Ambruk Total

oleh

POSMETRO MEDAN — Amarah dan kekecewaan warga di kawasan Habornas (Habinsaran, Borbor, dan Nassau), Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sudah berada di puncak titik didih. Selama nyaris tiga bulan terakhir, jaringan telekomunikasi milik operator plat merah Telkomsel mendadak “lumpuh total” dan tak kunjung membaik. Janji manis pelayanan optimal seolah menguap, meninggalkan ribuan warga dalam kondisi terisolasi secara digital.

Kelumpuhan sinyal ini secara masif mengobrak-abrik aspek kehidupan masyarakat. Sektor perekonomian, pendidikan, hingga pelayanan publik di kantor-kantor pemerintahan setempat kini berada di titik hampa.

Warga merasa “ditekan” secara finansial. Kendati hak mereka untuk mendapatkan layanan internet yang layak diabaikan, kewajiban membayar pulsa dan paket data setiap hari/bulan tetap berjalan tanpa toleransi.

“Kami ini bayar, bukan minta gratisan! Beli paket data mahal-mahal tapi jangankan internetan, untuk telepon saja setengah mati. Sudah tiga bulan kondisi seperti neraka sinyal ini dibiarkan. Telkomsel mau mengeruk untung saja tanpa peduli konsumen!” cetus salah seorang warga Lumban Rau Selatan dengan nada tinggi saat dikonfirmasi, Senin (27/7).

BACA JUGA..  Peningkatan Ruas Jalan Gonting–Janji Sepanjang 5 Km Dimulai

Ekonomi Petani Digembok, Pendidikan Terancam

Dampak paling fatal menghantam sektor pertanian yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Habornas. Terputusnya akses komunikasi membuat rantai transaksi antara petani dan penampung (toke) terhenti total.

Informasi harga pasar tak dapat diakses, kepastian jadwal jual-beli menjadi gelap, dan koordinasi pengiriman hasil panen berantakan. Para petani kini terancam gulung tikar akibat membusuknya hasil bumi yang tak bisa segera dipasarkan.

Dunia pendidikan tak kalah mengenaskan. Para siswa terpaksa gigit jari karena gagal mengakses materi pembelajaran berbasis digital. Di sisi lain, instansi pemerintahan di kawasan Habornas ikut membeledak fungsinya. Pelayanan publik yang kini serba berbasis aplikasi digital terancam berhenti total, memaksa warga bolak-balik tanpa kejelasan akibat sistem yang senantiasa offline.

BACA JUGA..  Gugatan Pra Peradilan Tersangka Kasus Penembakan Remaja Dikabulkan PN Lubuk Pakam

“Ini bentuk pembiaran yang melukai masyarakat. Di zaman yang serba digital ini, Telkomsel justru menarik kami kembali ke ‘jaman batu’. Kalau terus-terusan begini, masyarakat kecil yang jadi korban,” tegas warga lainnya.

WiFi ‘Liar’ Menjamur, Regulasi Diminta Bertindak

Bukan cuma bobroknya performa teknis Telkomsel yang disorot, maraknya dugaan jaringan WiFi “liar” alias tak berizin di kawasan Habornas turut dituding sebagai biang kerok makin parahnya frekuensi di area permukiman. Keberadaan jaringan non-reguler ini diduga kuat memicu interferensi hebat terhadap sinyal seluler.

BACA JUGA..  Rebutan Lahan, TNI AL dan Warga Deli Serdang Bentrok

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Toba, Balai Monitor (Balmon), dan aparat penegak hukum untuk tidak tutup mata. Penertiban tegas harus segera digelar di lapangan sebelum dampaknya makin merugikan publik secara luas.

Mana Komitmen Telkomsel?

Masyarakat Habornas kini mempertanyakan secara terbuka komitmen manajemen Telkomsel. Publik menuntut pertanggungjawaban konkrit, bukan sekadar respons standar dari layanan customer service.

Warga mendesak jajaran pimpinan dan tim teknis Telkomsel untuk segera mendatangi lokasi, mengecek kondisi tower pemancar (BTS), serta melakukan perbaikan besar-besaran. Jika pembiaran ini terus berlanjut, masyarakat menegaskan tidak akan tinggal diam dan siap menggalang aksi protes yang lebih besar atas kekecewaan mereka.dm