PERUMAHAN WEB

Tokoh Masyarakat, Handi A’ing: Ini Tanah Wakaf Milik Tengku Darwisyah

oleh
Tokoh masyarakat Perbaungan Handi A'ing menunjukan bukti pembayaran pajak kepada Kerajaan Sultan Sulaiman di Aula Titik Temu Sergai (TTS), Selasa (28/5/2024). (Surya Hasibuan/Posmetromedan.com)

Posmetromedan.com – Tokoh masyarakat Perbaungan Handi (A’ing) angkat bicara terkait sengketa tanah Grand Sultan 102 yang berada di Dusun IV Desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Hal itu disampaikan dihadapan puluhan wartawan saat temu pers di Aula Titik Sergai (TTS) di Dusun IV Desa Kota Galuh Kecamatan Perbaungan, Selasa (28/5/2024).

Diketahui, terkait tanah ini menjadi perhatian publik karena adanya perlawanan atau penolakan warga yang telah mendiami lahan bertahun-tahun. Terbaru, beberapa minggu lalu, terjadi aksi antara warga dan pemilik lahan sesuai keputusan pengadilan.

Dia (Handi A’ing) menceritakan, dulunya tanah 47 Hektar ini milik Kerajaan Sultan Sulaiman.

Tanah ini pun digunakan masyarakat dengan membuka lahan untuk menanam padi.

Tapi masyarakat harus membayar upeti (pajak) kepada Kerajaan Sultan Sulaiman lewat anaknya permaisuri Tengku Darwisyah.

Pengutipan upeti ini (pajak) kepada masyarakat dilakukan oleh mendiang Thiam Hok sebesar 1 rante = 1/2 kaleng padi lalu diantarkan kepada Tengku Darwisyah melalui Najir Wandumeri Ilyas.

Hasil upeti ini (pajak) untuk membangun pantai asuhan yang saat ini berada di Jl Tengku Raja Muda Lubuk Pakam Deli Serdang.

Tengku Darwisyah menunjuk Najir Wan Dumeri Ilyas untuk mengelola pantai asuhan tersebut.

BACA JUGA..  Senpi Personel Polres Tanjungbalai Dilakukan Pengecekan 

“Tujuannya didirikan pantai asuhan itu, untuk menampung anak yatim paitu,” sebutnya.

“Dari mana Nurhayati mengklaim bahwa tanah Grand Sultan 102 seluas 64 Hektar itu miliknya?,” ucapnya.

Sedangkan tanah wakaf Tengku Darwisyah yang berada di Dusun IV Desa Kota Galuh ini luasnya hanya 47 Hektar, bilangnya.

Lanjut cerita A’ing, sebelum meninggal, Najir Wandumeri Ilyas mengangkat anaknya sebagai Najir Hajjah Dulemi sampai saat ini.

Begitu juga atas meninggalnya Mediam Thiam Hok pengutipan pajak ini diturunkan kepada anaknya Selamet. Pengutipan (pajak) yang dilakukan oleh Selamet selalu dibayarkan kepada Hajjah Dulemi, tuturnya.

Namun, sampai saat ini tanah seluas 47 Hektar sudah dikuasai oleh warga sekitar 300 KK.

Tokoh masyarakat Perbaungan Handi A’ing saat membeberkan perjalanan tanah wakaf hingga ditempati masyarakat di Aula Titik Temu Sergai (TTS), Selasa (28/5/2024). (Surya Hasibuan/Posmetromedan.com)

Sebelumnya, penguasaan tanah ini bermula dari tahun 1938 sampai sekarang tahun 2024 sudah sekitar 85 tahun, bilangnya.

Gejolak tanah ini bermula dari tahun 2005 yang lalu. Banyak oknum silih berganti yang mengaku bahwa tanah ini adalah milik mereka.

Dari pengakuan oknum tersebut, bahwa tanah ini milik mereka. Pengakuan itu bukan dari satu kelompok saja, bahkan ada beberapa kelompok lainnya.

Masyarakat selalu diintimidasi oleh beberapa oknum yang membuat masyarakat sudah tak nyaman dirumah mereka sendiri.

BACA JUGA..  Tak Sesuai Spesifikasi, 23 Motor Diangkut Polis

Disini, oknum tersebut menyuruh masyarakat jangan lagi membayar pajak kepada panti asuhan.

Maka dari sejak tahun 2008 masyarakat sudah tidak lagi membayar pajak (upeti) kepada panti asuhan, bebernya.

Sejak timbulnya gejolak tanah tersebut dan banyak yang mengaku bahwa tanah itu adalah milik oknum tertentu.

Bahkan, dari beberapa nama kelompok oknum tertentu itu tidak ada yang bernama Nurhayati. Nama Nurhayati muncul berkisar tahun 2020.

Dari pengakuan Nurhayati adalah turunan Sultan Deli yang memiliki tanah seluas 64 Hektar di Dusun IV Desa Kota Galuh.

Bermodalkan turunan Sultan Deli itu, Nurhayati mendatangi Kepala Desa Kota Galuh untuk meminta menunjukkan tapal batas tanah miliknya.

“Kalau memang ini tanah milik ibu, pasti dong ibu tahu sendiri tapal batasnya mana saja, ngapain cari saya,” ucap Kades Kota Galuh saat itu.

Selanjutnya, Nurhayati mendatangi Handi (A’ing) disini, Nurhayati mengaku bahwa tanah seluas 64 Hektar ini adalah miliknya.

Atas pengakuan itu, A’ing pun jadi bingung. Lantas dia pun bertanya, Dimana lokasinya? Lalu dijawab sama Nurhayati disinilah lokasinya.

A’ing mengatakan kalau tanah disini semuanya milik Tengku Darwisyah yang hasilnya diwakafkan untuk anak-anak panti asuhan.

BACA JUGA..  Terlibat Tawuran, 26 Remaja Nenteng Sajam 'Diangkat'

“Semenjak saya katakan seperti itu, Nurhayati ada 5-6 kali mencari saya supaya membeli tanah tersebut. Tapi saya tolak, karena saya tahu sejarah tanah itu,” ungkapnya.

Kemudian Nurhayati menggugat tanah itu, dengan menggugat atas 3 nama masyarakat dusun IV Desa Kota Galuh ke Pengadilan Negeri Sei Rampah.

“Tanah seluas 47 Hektar ini telah ditempat oleh 300 KK warga sekitar.
Kenapa Nurhayati menggugat 3 orang saja,” bebernya

Dalam gugatannya itu Nurhayati menggunakan tanah Grand Sultan 102 yang dibeli dari Tengku Gamal  pada tahun 1979, bilangnya.

“Kami masyarakat disini jadi bingung, selama ini kemana Nurhayati, koq baru ini muncul sekarang ” ucapnya.

Dari pengakuan Nurhayati mengklaim memiliki tanahnya dari Jl Serdang SPBU Kota Galuh sampai Kelurahan Tualang itu miliknya.

Pada hal tanah seluas 47 Hektar yang berada didusun IV Desa Kota Galuh yang tidak mempunyai alas hak adalah tanah milik Tengku Darwisyah yang mewakafkan hasilnya untuk panti asuhan sejak 85 tahun, pungkasnya. (*)

Reporter: Surya Hasibuan
Editor: Maranatha Tobing