Rehab Teras SD Inpres Desa Lingga Mangkrak Dua Tahun

oleh
Inilah kondisi teras Sekolah Dasar (SD) Inpres Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, yang direhab berukuran lebih kurang 2,5 x 40 meter, terbengkalai kurang lebih dua tahun. Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda akan kembali diselesaikan. (Marko Sembiring/Posmetromedancom)

POSMETROMEDAN.com – Rehab teras Sekolah Dasar (SD) Inpres Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, yang ukurannya lebih kurang 2,5 x 40 meter terbengkalai kurang lebih dua tahun. Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda akan kembali diselesaikan.

Dari keterangan tukang yang mengerjakan pembangunan teras tersebut, mangkraknya penyelesaian pembangunan teras itu karena kepala sekolah tidak membayar sisa biaya pembangunan sebesar lebih kurang Rp15.000.000 (Lima Belas Juta Rupiah) lagi dari kesepakatan sebelumnya sebesar Rp25 juta, diluar upah pekerja.

“Aku tidak tahu dari mana sumber dananya untuk perbaikan terasnya itu bang, aku hanya disuruh oleh suruhan kepala sekolah bermarga Ginting yang merupakan penjaga sekolah. Ketika aku tagih katanya uangnya belum cair. Kami tak mungkin bekerja tanpa gaji ,” ujarnya Rabu kemarin (17/5/2023).

Ketika didatangi ke SD Inpres dimaksud, kepala sekolahnya yang diketahui bernama Betty Linda tidak berada di sekolah tersebut.

BACA JUGA..  Bupati Deli Serdang Tak Bayar Gaji Guru, Puluhan Massa Cipayung Plus Demo

“Ibuk kepala sekolah tidak ada datang hari ini, kata beberapa guru yang ada di sekolah, Rabu ( 17/5/2023).

Guru SD Inpres itu mengaku tidak ada tahu apa masalahnya, kenapa teras itu tidak siap seluruhnya hingga bertahun lamanya dan dari mana sumber dananya untuk perbaikan teras tersebut.

Dari beberapa orang tua siswa diketahui sebelum dibongkar kemaren hanya beberapa titik saja yang mulai terlihat bocor.

BACA JUGA..  Tinjau Meluapnya Aek Haidupan Siwaluompu, Pemkab Tapanuli Utara Tetap Upayakan Percepatan Penanganan Normalisasi

“Entah apa pertimbangannya kepala sekolah maka semua teras itu dibongkar habis sengnya kemaren sehingga yang belum selesai diatap tidak busuk dimakan hujan dan panas matahari,” ujar Tarigan yang mengaku setiap hari mengantar anaknya ke sekolah itu. (*)

Reporter: Marko Sembiring
Editor: Maranatha Tobing