HUT NAGAN RAYA

Ditengah Pendemi Covid 19 dan Erupsi Sinabung, Orangtua Siswa Keluhkan Kebijakan Memberatkan SMANSA Kabanjahe

oleh -2.267 views

POSMETROMEDAN.COM – Orangtua siswa SMA 1 Negeri (SMANSA) Kabanjahe mendatangi sejumlah wartawan, Senin (24/8/2020) kemarin. Mereka mengeluh sejumlah kebijakan pihak sekolah yang dianggap memberatkan, apalagi dimasa Covid 19 diperparah erupsi Gunung Sinabung.

Kepada wartawan, para orangtua itu menjelaskan kondisi ekonomi mereka sangat berat saat ini. Selain wabah Covid 19, erupsi Gunung sinabung juga membuat hampir semua jenis usaha yang dikerjakan menurun drastis. Sementara biaya sekolah anak-anak tidak berkurang.

Seperti biaya beli buku Mandiri, biaya paket internet belajar (Daring) serta biaya makan. Memang, mereka aku kalau mereka bangga anaknya bisa masuk ke sekolah favorit itu, tapi di situasi saat ini mereka minta ada keringanan dari pihak sekolah.

Kepada para wartawan, orangtua siswa itu juga mempertanyakan dana BOS yang diperuntukkan untuk kuota paket belajar (Daring), hingga saat ini belum mereka dapatkan.

Salahsatu orangtua siswa-siswi mengaku beru Tarigan (38), mengaku sangat bangga akan keberhasilan anaknya masuk di SMANSA. Tapi dengan kondisi saat ini, ditambah tuntutan biaya belajar yang begitu tinggi ditambah lagi kebutuhan anaknya yang lain, diakuinya sangat berat.

Dijelaskannya, kuota internet belajar anaknya di SMANSA 30 GB (Giga Bate) tiap bulan dengan harga Rp.150.000 ditambah biaya beli buku Mandiri.

“Tidak hanya membeli buku Mandiri yang buat pusing ditambah lagi paket Kuota. Belum lagi tugas yang mesti diprintkan dari geogle disuruh potokopi, karena kata anakku tidak diperbolehkan guru mwminjam buka temannya. Sementara saya tonton di televisi dan baca di koran ada bantuan untuk paket kuota bagi pelajar, tapi sampai sekarang kenyataan tidak ada. Kami orang susah makan saja saat sekarang sudah bersyukur. Kalo hal ini disampaikan kepada anak-anak, tentu mereka patah semangat dalam belajar. Kemana lagi lah kami mengeluh,” kata Beru Tarigan kepada sejumlah wartawan.

BACA JUGA..  Dua Rekan Positif Covid 19, Anggota DPRD Sumut Jalani Swab

Lain lagi yang disampaikan Sembiring (42). Warga Simpang Empat ini mempertanyakan, apakah materi yang tertuang dalam buku Mandiri tersebut benar-benar penting dan adakah terkait Covid-19 yang tertuang didalamnya. Tidak semua perekonomian orangtua itu sama penghasilannya dan belajar jarak jauh yang diterapkan dengan materi dari guru-guru di SMANSA bersumber dari Buku Mandiri tersebut. Biaya kuota paket internet yang dibutuhkan setiap siswa juga berbeda-beda, belum lagi baru-baru ini semua siswa diwajibkan mengunakan kartu Telkomsel oleh pihak sekolah, katanya.

“Buku Mandiri yang dikeluarkan pihak sekolah sebaiknya dikaji ulang fungsinya. Terkait wajib mengunakan Kartu Telkomsel menurut saya pihak sekolah tidak serta merta menerapkan penggunaan satu kartu. Jika disebuah keluarga hanya memiliki satu Android dan mengunakan kartu yang bukan Telkomsel, apakah hal tersebut tidak menggangu aktifitas keluarga yang lainnya dengan diwajibkan mengunakan Kartu Telkomsel oleh pihak sekolah? Karena bisa jadi dalam satu keluarga hanya memiliki satu handphone,” tegas Sembiring, sembari meminta pihak sekolah SMA Negeri 1 Kabanjahe juga harus memikirkan bahwasanya orangtua tidak hanya melulu memikirkan biaya untuk sekolah, karena biaya hidup juga harus diperjuangkan.

BACA JUGA..  Usai Dilantik, Pjs Wali Kota Medan Rapat dengan Ketua BNPB Atasi Covid-19

“Seandainya orangtua siswa seorang pekerja di ladang yang berpenghasilan 70.000-100.000/hari dengan beban paket kuota segitu, saja keluarga tersebut tidak lagi makan. Lagi pula kebijakan kepala sekolah harusnya bisa mengurangi beban orang tua bukan mewajibkan beli Buku Mandiri dan bukan pula harus menunda nunda pemberian kuota paket siswa. Jangan nanti kebijakan Kasek ini menjadi bola liar. Coba masing-masing kita pikirkan dari jumlah siswa yang mencapai 1000 lebih siswanya, kalau uang kuota dari dana BOS Rp.50.000 per siswa, berarti kan totalnya RP.50 juta uang belum tersalur. Pertanyaanya mau diapain uang itu,” sembur beru Sembiring panjang lebar.

Sementara salahsatu siswa yang tidak mau disebut namanya, mengaku dan merasakan beban orangtuanya dengan kewajiban-kewajiban yang berlaku di sekolah impiannya itu.

Dijelaskannya, pihak sekolah mengajukan pembelian buku Mandiri dengan catatan “Tidak Wajib Dibeli”. Tetapi guru melakukan pembelajaran terhadap siswa melalui buku Mandiri tersebut.

“Seakan-akan kami wajib membeli buku itu, dan jika dijumlah harga keseluruhan buku mencapai Rp.600 san ribu dan harganya tak sesuai dengan HET (Harga Eceran Tertinggi). Ada apa ini semua kok kepala sekolah biarkan ini semua berjalan mulus? Saya memiliki bukti poto yang mengatakan tidak boleh di potocopy buku tersebut. Sebagai anak, saya pribadi sangat menyadari perekonomian dalam keluarga. Bagaimana sulitnya orangtua yang berjualan saat ini, yang petani gagal panen harga-harga bahan pokok murah. Bukan kami malas untuk meminta tolong pada teman yang sudah membeli buku, tapi karena mengangap pernyataan tidak wajib membeli itu hanya kamuflase semata. Isi dalam buku Mandiri tersebut tidak ada kaitannya dengan Covid-19, sedangkan anjuran Menteri Pendidikan sesuai dengan kurikulum Covid-19,” ujar siswa mengaku Beru Bangun itu.

BACA JUGA..  Medan Masih Zona Merah, Paslon Aman-Bonar tak Punya Visi Misi Tangani Covid 19

Terpisah, Kepala Sekolah SMANSA Kabanjahe Eddy Yanto Bangun, membenarkan adanya pengadaan Buku Mandiri, yang berasal dari rekanan dari salah satu penerbit yang tidak memungkinkan untuk di potocopy. Dijelaskannya, Buku Mandiri tidak diwajibkan bagi siswa untuk membeli karena bisa berbagi.

Terkait paket kuota, Eddy Yanto Bangun berjanji akan segera direlesasikan, karena sistem pembagian paket kuota kepada 1138 orang siswa-siswi tahap awal sudah dilakukan. Sementara soal pihak sekolah memilih bekerja sama dengan Telkomsel, menurutnya, karena harganya jauh lebih murah.

“Buku Mandiri adalah buku penunjang dan tidak dipaksakan untuk membeli karena kita berharap pengcoveran untuk mereka memasuki UPTN dan takutnya materi terkait Covid-19 tidak dibahas. Dan hal ini sudah dibahas dalam rapat orang tua bersama dewan komite. Tidak hanya itu saja, video Mandiri juga dilaksanakan oleh para guru dan siswa dan orang tua bersedia mengeluarkan budget untuk biaya paket, asal anak-anak kami berhasil. Begitulah hasil sewaktu rapat dengan orangtua siswa,” ujar Kepala Sekolah kepada wartawan. (mrk/tob)