POSMETROMEDAN.com – Tak banyak usaha yang bisa bertahan ditengah pusaran pandemi Covid-19. Sejak melanda dan terdeteksi di tanah air, pada awal Indonesia 2020, dampaknya begitu terasa, dihampir semua sektor kehidupan masyarakat, termasuk Usaha Kecil.
Beberapa dari usaha kecil itu, ‘berupaya’ bertahan hidup, dengan alasan klasik, agar dapur tetap mengepul. Sebab, usaha kecil itu, satu-satunya sumber penghidupan keluarga. Tentu ada kiat atau strategi yang digunakan untuk bisa mengarungi hantaman kesulitan usaha kecil yang melanda.
Seperti yang dituturkan Syahid M Samosir (31), pelaku usaha kecil Kue Barokah, yang bertahan ditengah derasnya arus kehidupan ditengah pandemi.
Usaha dengan memproduksi aneka kue dan gorengan ini, dirintis bersama istri Winda Simbolon (32), sekitar 5 tahun silam. Bermodalkan semangat dan sedikit dana, usaha itu menjadi tumpuan dalam menopang ekonomi keluarga kecilnya.
“Awalnya hanya berjualan saat hari pekan. Yaitu Senin dan Kamis. Hasilnya lumayan untuk sekedar menutupi kebutuhan hidup,” ujar ayah dua anak ini memulai percakapan, di tempat usahanya di pinggir Jalinsum Sipirok-Padangsidimpuan km 0,7, tepatnya di Desa Simaninggir.
Namun, sekitar awal 2020, usaha yang dirintis mulai mengalami berbagai kendala. Hal itu seiring dengan hadirnya corona. Pelanggan di pasar, tambah pekan semakin berkurang. Kondisi itupun menjadi bahan renungan untuk mencari solusi dalam mempertahankan usaha kecilnya.
“Maklumlah, kebutuhan keluarga sangat tergantung dengan usaha ini. Apalagi, mencari usaha dan pekerjaan lain sangat susah,” terangnya.
Lantas, strategi yang diterapkan untuk mempertahankan omzet disaat pandemi adalah, merubah gaya pemasaran dan memperluas jangkauan pasar.
“Jika selama ini hanya mengandalkan pekan saja, setelah pandemi melanda, strategi pemasaran diubah dengan cepat, salah satunya memanfaatkan media sosial dengan sistim siap antar,” terangnya, seraya menyebut, pemasaran lewat digital ini, salah satu cara ampuh mempertahankan omzet penjualan untuk memenuhi kebutuhan.
“Saya yakin, semua kalangan sudah mempunyai media sosial. Jadi inilah yang jadi andalan pemasaran usaha kecil kita hingga saat ini,” ucapnya.
Hal serupa juga diutarakan, Winda Simbolon (32). Disela mengolah adonan untuk membuat kue, Winda bercerita, usaha yang digeluti sekitar 5 tahun terakhir tetap dipertahankan walau sempat mengalami penurunan omset hingga 50 persen.
“Sempat turun hingga 50 persen dimasa covid-19. Kini mulai membaik setelah kami jualan juga di Alun-alun di malam hari,”ujar Winda kepada wartawan koran ini.
Selain memanfaatkan media sosial untuk pemasaran terang Winda, mereka juga memanfaatkan lokasi alun-alun Sipirok untuk berjualan terutama sore hingga malam.
“Sekitar 6 bulan terakhir bersama pedagang lain, tergabung dalam Asosiasi Pedagang Dosnitahi Sipirok Syahid, memanfaatkan alun-alun tempat berjualan. Tentunya, peluang pasar dengan pelanggan baru menjadi lebih terbuka,” terangnya seraya menyebut, Asosiasi terus berupaya meramaikan alun-alun dengan kegiatan, salah satunya nonton bareng (nobar) Piala Eropa atau EURO CUP beberapa bulan lalu.
“Ada dampak positif bagi peningkatan omset walau belum begitu signifikan. Mudah-mudahan covid-19 segera pergi dan perekonomian segera pulih,” ungkapnya berharap.
Tak Lepas dari Peran KUR
Dengan modal awal hanya 500.000, rupiah, pelaku usaha kecil ini terus berjuang mempertahankan usahanya. Semua itu demi terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga.
Memang banyak rintangan, mulai dari modal yang minim, persaingan usaha hingga dampak pandemi covid-19 serta harga bahan membuat kue yang selalu fluktuatif.
“Terlebih harga minyak goreng yang sangat tak bersahabat sejak 2022 ini. Padahal, minyak goreng menjadi salah satu bahan penting dalam usaha ini,” terangnya.
Disampaikan, peran salah satu bank plat merah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), menjadi salah satu sisi pendorong tetap eksisnya usaha itu.
Lewat dukungan program KUR, perlahan usaha mereka mengalami peningkatan yang sebelumnya sempat mengalami kondisi sulit.
“Insya Allah sekarang omset produksi dalam sekali pekan itu 1000 kue kadang lebih,”sebut Winda dan mengaku siap bermitra dengan perseorangan, organisasi dan lembaga tertentu dalam menyediakan snack pada moment dan acara yang digelar.
“Dan tetap siap diantar,” tegas Syahid M Samosir. (*)
Reporter: Amran Pohan
Editor: Maranatha Tobing












