Stop Perundungan Anak di Sekolah, Jadikan Sekolah Aman dan Nyaman Tempat Berkegiatan

oleh
Dosen KIK SPPB UI Dr Surya Nita, SH, MHum foto bersama siswa SD Negeri 060807 usai kegiatan Pengmas.

POSMETRO MEDAN – Dosen Kajian Ilmu Kepolisian (KIK) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) Dr Surya Nita, SH, MHum bersama mahasiswa KIK, Mikha Yuli Sirait melaksanakan kegiatan Pengmas di SD Negeri 060807 Jalan Halat, Medan.

Dalam kegiatan ini, Pengmas melakukan, metode SROI melalui modul pendidikan dalam mencegah kejahatan perundungan di sekolah. Bahkan, metode yang digunakan dalam melihat dampak Pengmas perundungan anak memahami jenis perundungan fisik, kata, sosial dan online untuk dapat dicegah sedini mungkin.

Agar anak-anak menjadi mengerti bagaimana mencegah dan mengatasi perundungan yang terjadi di sekolah, Nita menyampaikan bisa dengan cara melaporkan kepada guru maupun kepada kepala sekolah dan orang tua. Bahkan dalam kegiatan ini disampaikan call Center Polri 110 apabila anak-anak benar-benar mengalami dampak kekerasan dari perundungan di sekolah selanjutnya dapat juga menyampaikan ke polsek dan polres jika benar-benar mengalami kekerasan secara fisik dan menimbulkan rasa ketakutan.

“Dalam Pengmas ini, kita menyampaikan aturan hukum kepada anak-anak di sekolah tentang aturan. Selanjutnya menyampaikan juga tentang anak berhadapan dengan hukum,” ucapnya.

BACA JUGA..  Perubahan Perda Harus Membawa Dampak Nyata

Jika terjadi tindakan kekerasan anak sampai berdampak akibat hukum, Nita menjelaskan adanya diversi bagi anak yang berhadapan hukum akibat tindakan kekerasan perundungan dilakukan oleh anak berhadapan dengan hukum dan anak sebagai korban yang harus diperhatikan psikologis anak. “Kita harap stop Perundungan anak di sekolah. Jadikan sekolah aman dan nyaman sebagai tempat berkegiatan,” imbaunya.

Dalam kegiatan pengmas ini juga, sebut Nita menghasilkan ikrar anak SD Negeri 060807 yakni kami saling menghargai, kami tidak mengejek atau menyakiti teman, kami berani membantu dengan cara yang aman, kami berani bercerita kepada guru dan kami ingin sekolah aman untuk semua.

BACA JUGA..  Truk Tronton Seruduk Colt Diesel Muatan Ampas Tahu di Tanjung Morawa, 3 Luka

“Dari hasil survei kepada 24 siswa sebanyak 12 siswa yang paham 100 persen, 8 siswa yang paham 75 persen, 2 siswa yang paham 50 persen, 2 siswa yang paham 25 persen. Sehingga hasil survei menunjukkan bahwa kegiatan ini sangat berpengaruh bagi pemahaman mereka,” pungkasnya. (ril)

Editor: Ali Amrizal