Polres Tanjungbalai Gelar Salat Gaib dan Doa atas Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang

oleh
Polres Tanjungbalai Polda Sumatera Utara menggelar salat gaib dan doa bersama untuk ratusan korban meninggal dunia dan luka-luka, dalam tragedi di Stadion Sepak Bola Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kemarin. (Ignatius Siagian/Posmetromedan.com)

POSMETROMEDAN.com – Polres Tanjungbalai Polda Sumatera Utara menggelar salat gaib dan doa bersama untuk ratusan korban meninggal dunia dan luka-luka, dalam tragedi di Stadion Sepak Bola Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kemarin.

Kegiatan salat gaib dan doa bersama yang diikuti oleh personel Polres Tanjungbalai bersama tokoh agama dan masyarakat itu dilaksanakan di Musollah Alhamdi, Polres Tanjungbalai, Selasa (4/10/2022).

Kapolres Tanjungbalai, AKBP Ahmad Yusuf Afandi,SIK,M.M mengatakan, kegiatan salat gaib dan doa bersama itu dilakukan untuk mendoakan arwah dari korban tragedi Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

BACA JUGA..  Pelaku Pembunuhan Pekerja Jalan Tol Tertangkap di Marelan, Ini Motifnya

”Innalillahi wainnailaihi rojiun, kami turut berduka cita atas terjadinya korban meninggal dalam tragedi Stadion Kanjuruhan di Malang, semoga tragedi atau musibah tersebut tidak terulang lagi dan menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat bangsa dan negara. Marilah kita berdoa bersama semoga korban yang tiada, mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan yang dirawat diberi kesembuhan,” ujar Kapolres Tanjungbalai, AKBP Ahmad Yusuf Afandi.

Lebih lanjut, ia mengatakan acara salat gaib dan doa bersama tersebut diadakan agar tugas Polri kedepan, yang semakin berat ini agar selalu dilindungi dan diridhoi oleh Allah SWT. Selain itu, lanjutnya, kita juga doakan teman-teman kita yang telah gugur dalam tugas di Stadion Kanjuruhan Malang.

BACA JUGA..  Dihadapan Kompolnas RI, Edy Rahmayadi Puji Kinerja Polda Sumut

Seperti di ketahui, tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang terjadi pada hari Sabtu (1/10) malam itu telah menewaskan ratusan orang sekaligus menjadi suatu bencana yang mengerikan bagi Indonesia, khususnya pencinta sepak bola.

Dan ditingkat global, jumlah korban jiwa dalam Tragedi Kanjuruhan itu menjadi tiga besar bencana sepak bola di dunia setelah mimpi buruk di Lima, Peru tahun 1964 dan Ghana pada tahun 2001 lalu.

BACA JUGA..  Tawuran Siswa Berujung Maut, Rendy: Ini Jadi Catatan Dunia Pendidikan Sumut

Di Stadion Kanjuruhan, tragedi tersebut terjadi setelah kesebelasan Arema FC selaku tuan rumah dikalahkan oleh kesebelasan Persebaya, Surabaya dengan skor 2 – 3. Dan penanganannya oleh aparat keamanan dilakukan dengan menggunakan gas air mata di dalam stadionpun akhirnya menuai kritikan tajam. (*)

Reporter: Ignatius Siagian
Editor: Maranatha Tobing