Alhamdulilah, Berkat Operasi Katarak Gratis Tambang Emas Martabe Saya Bisa Melihat Lagi

oleh
Bapak Haji Muhammad Nazir Chaniago didampingi putri sulungnya, Era Feronika saat menunggu taksi online usai sukses menjalani operasi katarak. (Maranatha Tobing/Posmetromedancom)

POSMETROMEDAN.com – Alhamdulilah, puji syukur karena sebentar lagi saya bisa kembali melihat. Sebentar lagi saya bisa beraktifitas. Bisa bekerja membantu kebutuhan keluarga. Dan, sebentar lagi saya bisa bersilaturahim dengan tetangga…

Tidak henti-hentinya Haji Muhammad Nazir Chaniago memanjatkan syukur kepada Tuhan melalui perantara Tambang Emas Martabe, dia akan kembali dapat melihat dunia.

“Terimakasih Tambang Emas Martabe. Kata dokter sebentar lagi aku bisa melihat lagi. Gak lamanya perban ini. Satu hari atau beberapa hari lagi udah bisa dibuka,” kata Pak Haji Muhammad Nazir Chaniago kepada wartawan, beberapa saat usai selesai menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Khusus Mata Mencirim 77 Medan, pada Sabtu (22/10/2022).

EPAPER

Sabtu menjelang siang itu, Pak Muhammad Nazir Chaniago duduk di luar pintu RS Khusus Mata Mencirim 77. Lengkap memakai peci, mata sebelah kiri pak tua berusia 65 tahun itu masih diperban. Baru selesai operasi katarak.

Pak Chaniago didampingi istrinya dan putrinya paling besar Era Feronika. Saat disapa wartawan, Pak Chaniago dengan senyum kembali menyapa. Rupanya Pak Chaniago, istri dan anak perempuannya sedang bersiap menunggu taksi online.

“Saya orang Kisaran,” ujar Pak Chaniago memperkenalkan dirinya.

Saya sudah 2 tahun tidak bisa melihat. Mata sebelah kiri ini sudah gelap semua. Tak ada lagi yang nampak kutengok.

Selama ini kutahankan lah. Ngapa-ngapain pun gak bisa lagi aku. Mau berobat sendiri biayanya mahal.

Operasi gratis ini kami tau dari anakku yang laki-laki. Katanya, dia dapat kabar operasi gratis ini dari kawannya.

Setelah dikasih tau, anakku ini (menyebut anak sulungnya Era Feronika) lah yang mendaftarkan aku agar ikut dioperasi.

Begitu Pak Chaniago menceritakan beratnya kondisi yang dialaminya selama mata sebelah kiri katarak. Dan, Pak Chaniago juga menjelaskan alur informasi kegiatan Operasi Katarak yang dilaksanakan PTAR selaku pengelola Tambang Emas Martabe, hingga dia berhasil dioperasi tim dokter.

Saat bincang-bincang dengan wartawan, Pak Haji Muhammad Nazir Chaniago berkeinginan menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak PTAR. Bahkan pak tua yang sudah ubanan itu ingin bertemu dengan tim atau managemen PTAR.

Tapi keinginan itu tidak kesampaian karena taksi online yang dipesan melalui aplikasi sudah tiba di depan RS Mata Mencirim 77, tempat operasi dilakukan.

Sementara itu, sebelum taksi tiba, anak sulung Pak Haji Chaniago, Era Feronika, kepada wartawan mengamini penjelasan ayahnya.

“Bapak sudah 2 tahun ini tidak bisa melakukan apapun lagi, karena katarak di mata sebelah kirinya sudah parah. Makanya, begitu adekku memberi tahu kegiatan ini, saya yang mendaftarkan bapak. Supaya bapak tidak telat sampai di rumah sakit ini, Bapak dan mama semalam sudah sampai di Medan. Dan tadi malam nginap di rumahku,” ujar Era Feronika.

“Keluarga kami sangat berterimakasih kepada Tambang Emas Martabe. Semoga Tambang Emas Martabe makin sukses, makin besar perusahaannya, dan makin jaya. Kami tidak dapat membalas kebaikan Tambang Emas Martabe. Kami hanya bisa mendoakan perusahaan ini makin sukses,” ujar Era Feronika.

Puluhan pasien sedang menunggu giliran operasi katarak di RS Mata Mencirim 77. (Maranatha Tobing/Posmetromedancom)

300 Mata Operasi Katarak

Pak Haji Muhammad Nazir Chaniago adalah 1 dari 80 pasien katarak yang akan mengikuti operasi katarak di RS Mata Mencirim 77 pada tanggal 22 Oktober.

Pantauan wartawan, selain Pak Chaniago, puluhan bapak dan ibu dengan usia beragam juga tengah mempersiapkan diri dibantu para perawat, untuk operasi katarak.

Sementara itu, sesuai yang direncanakan total 300 mata akan dioperasi dalam 3 kali kegiatan, dengan jadwal tanggal 22 Oktober, 12  dan 23 November. Para pasien yang akan mengikuti operasi katarak di RS Mata Mencirim 77 berasal dari beberapa kota; seperti Kota Medan, Binjai, Langkat, Deliserdang dan Asahan.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak Gratis Tambang Emas Martabe dengan mengurus tema “Buka Mata, Lihat Indahnya Dunia” telah sukses melaksanakan operasi di Rumah Sakit Bhayangkara Batangtoru, sebanyak 4 kali operasi, yakni pada 14 dan 24 September serta 14 dan 15 Oktober lalu.

Awalnya direncanakan 3 kali jadwal operasi di RS Bhayangkara. Tapi karena antusiasme masyarakat besar, maka dilaksanakan 4 kali. Selama 4 kali kegiatan, telah berhasil mengoperasi 525 mata dari 524 pasien, dari target awal 300 mata.

Para pasien yang dioperasi di RS Bhayangkara Batangtoru berasal dari masyarakat lingkar tambang sebanyak 50% dan lainnya dari berbagai daerah, seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga dan Kepulauan Nias.

Dokter spesialis mata dan tim sedang melakukan operasi katarak di ruang khusus operasi RS Mata Mencirim 77. (Maranatha Tobing/Posmetromedancom)

Berikan Dampak Positif Bagi Penerima Operasi

Sementara itu, Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, kepada wartawan mengatakan bahwa PTAR meyakini operasi katarak ini akan memberikan dampak positif berkelanjutan kepada para penerima manfaat dan keluarga serta komunitas di sekitarnya.

“Saat menderita katarak seseorang dapat kehilangan produktivitasnya dan menambah beban ekonomi keluarga. Namun, setelah menjalani operasi katarak dan penglihatannya kembali jelas, ia bisa produktif lagi: melakukan segala sesuatu secara mandiri, mobilitas menjadi tinggi, mampu menjalin relasi sosial, serta  sejahtera dan sehat secara emosional,” ujarnya kepada wartawan usai menyaksikan langsung jalannya operasi katarak di RS Mata Mencirim 77.

Diketahui, Operasi Katarak Gratis yang dilaksanakan PTAR selaku pengelola Tambang Emas Martabe adalah merupakan program tahunan. Dan, operasi ini adalah yang kedelapan kali.

Sejak pertama kali melakukan operasi katarak pada tahun 2011 sampai  ketujuh, jumlah mata yang telah dioperasi 8.118 mata dari 7.131 orang dengan rincian umur mulai dari yang termuda bayi 8 bulan hingga berusia 108 tahun.

Operasi ini adalah menggunakan metode Small Incision Caratact Surgery (SICS) yakni; cepat, aman dengan tingkat keberhasilan 100%.

Sesuai data pemerintah, Prevalensi kebutaan di Indonesia 3%. Penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan adalah katarak yang tidak dioperasi.

Secara spesifik, di Sumatera Utara hampir 80% kebutaan pada penduduk usia 50 tahun keatas disebabkan katarak yang tidak dioperasi (sumber: Sumber Kebutaan Rapid Assessment Of Avoidable Blindness/RAAB 2014-2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata/Pardemi dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan). (*)

Reporter: Maranatha Tobing
Editor: Maranatha Tobing