OKP Ngaku Tak Takut Polisi, Intimidasi Warga Lahan Garapan

oleh -108 views
HALAU : warga menghalau OKP yang coba mendirkan bangunan.(MANGAMPU SORMIN/POSMETRO MEDAN)

EPAPER

POSMETROMEDAN.com – Konflik pengelolaan lahan garapan di Jalan Meteorologi, Desa Sampali, Percut Seituan, terus memanas hingga berpotensi bentrok fisik berujung korban jiwa.

Situasi ini dipicu hadirnya organisasi kepemudaan (OKP) yang diduga disetir oleh mafia tanah. Dalam memuluskan upaya pemagaran lahan, massa OKP ini mengintimidasi penggarap. Mereka juga secara terbuka mengaku tidak takut sama polisi.

Kawanan berkelakuan layaknya preman tersebut bahkan menantang warga untuk memanggil polisi. “Kalian panggil polisi, gak takut kami,” teriak sejumlah massa OKP.

Seolah mendengar tantangan tersebut, beberapa saat kemudian, Kapolsek Percut Seituan AKP Jan Piter Napitupulu tiba di lokasi bersama personelnya.

Kedatangan Jan Piter seketika membuat nyali para preman tersebut ciut. Tak seorang pun berani mendekat.

Mereka lebih memilih melihat dari kejauhan, seakan mengantisipasi kemungkinan ada upaya penangkapan. Dalam kesempatan itu, Jan Piter berdialog dengan warga dan perwakilan OKP.

BACA JUGA..  PKL Gedung Arca Kendur Terapkan Prokes

Pertemuan berlangsung tenang. Namun tak lama kapolsek pergi, massa OKP kembali meminta pekerja mendirikan pagar.

Massa OKP ngotot bahwa pagar harus berdiri. Guna melancarkan pemagaran, warga diminta untuk tidak banyak bicara atau melakukan penghadangan.

Massa OKP lantas melakukan pengawalan sambil memegang benda tumpul sehingga warga tidak berani mendekat. Terkait hal ini, warga berharap pihak kepolisian bertindak tegas.

Mereka menilai tindakan kawanan OKP tersebut sudah sangat keterlaluan. Warga pun mulai kesal dan tidak tertutup kemungkinan akan melakukan perlawanan.

“Kalau bisa ditangkap aja lah mereka ini pak polisi. Banyak itu kan rekaman yang menunjukkan mereka ada bawa senjata dan mengintimidasi,” kata warga lainnya yang mulai ketakutan.

Menurut warga, bentrokan ini bukan pertama kali. Jumat (23/4/2021) kemarin, warga dan OKP sempat terlibat saling dorong.

Bahkan anak-anak pun sempat jadi korban arogan para preman tersebut. Konflik ini berawal dari kedatangan sekelompok orang mengaku dari pihak PTPN II.

BACA JUGA..  Jelang Lebaran Bobby-Kahiyang Ayu Tinjau Pusat Perbelanjaan Ramayana, Bahan Pangan Kadaluarsa Tidak Ditemukan 

Alasannya, lahan yang diduduki warga itu adalah HGU PTPN II. Karena merasa alasan itu cuma akal-akalan, Agam selaku tokoh masyarakat setempat menanyakan mana dokumen HGU yang dimaksud sejumlah orang suruhan itu, termasuk seorang berpakaian loreng (tentara).

Pria berpakaian tentara itu mengaku sebagai tenaga pengamanan PTPN II. Meski mengaku sebagai tentara, namun Agam tak takut.

Dia tetap kukuh meminta legalitas orang-orang suruhan itu. Bahkan Agam nyeletuk menyebut pria itu melindungi mafia yang selama ini mencuri pohon jati.

Mendengar ucapan Agam, lelaki berbaju tentara itu mengamuk. Dia tidak terima dituduh bekingi mafia yang selama ini menurut Agam sering mengambil pohon jati di tanah garapan.

“Kau fitnah kau ya. Kapan ku lindungi. Saya baru di sini. Saya Papam (pasukan pengaman PTPN II) di sini. Kok kalian macam mana. Fitnah kau,” kata pria berbaju tentara itu.

BACA JUGA..  Diduga Frustasi, Boru Pasaribu Terjun ke Laut, Jasadnya Terapung

Dia mengatakan, kedatangan petugas keamanan yang dibayar PTPN II ke tanah garapan untuk mengambil asetnya kembali.

“Ini mau dipakai PTPN II. Kau macam paling tahu. Ayo ke kantor (kalau mau tahu),” kata pria berbaju tentara itu.

Karena jawaban orang suruhan PTPN II tak dapat diterima, Agam meminta pihak terkait menunjukkan keabsahan kepemilikan tanah. Katanya, tanah yang mereka duduki dan kelola sejak tahun 1990-an itu bukan aset PTPN II.

“Ini jangan dipagar dulu. Berhenti dulu,” teriak Agam.

Kesal, pria berbaju tentara itu memaksa pasukannya untuk melanjutkan pemagaran. Dia bersikukuh, bahwa lahan di Desa Sampali adalah milik PTPN II.(*)

 

EPAPER