HUT NAGAN RAYA

Erwin Freddy Siahaan Tegaskan Jhonri Wilson Purba Pelaku Penipuan dan Penggelapan

oleh -263 views
SURAT P21 ATAS NAMA JHONRI WILSON : Surat P21 atas nama Jhonri Wilson yamg dikeluarkan Kejari Pematang Siantar ditujukan kepada Polres Pematang Siantar. (ist/posmetro medan)

⏩⏩  “Akibat Proyek Bodong Kemenag RI Ini, Saya Rugi 300 Juta”

POSMETROMEDAN.com – Pernyataan Jhonri Wilson Purba bersama keluarga, terkait penangkapan, penetapan status tersangka serta penahanannya (Jhonri) terkesan dipaksakan oleh Penyidik Pembantu Polres Siantar Aipda Ricardo Rajagukguk, ditanggapi dengan tegas oleh Erwin Freddy Siahaan sebagai pelapor.

Seperti diberitakan harian Posmetro Medan, edisi Sabtu (5/9/2020) dimana pihak keluarga tersangka kasus penipuan dan penggelapan, menjelaskan kalau penahanan tersebut adalah dipaksakan. Dan mereka menyebut, kinerja Aipda Ricardo Rajagukguk selaku penyidik kasus tersebut, kurang professional.

Menyikapi isi berita tersebut, Posmetro Medan/posmetromedan.com berkesempatan bertemu dengan Erwin Freddy Siahaan selaku pelapor. Pada Posmetro Medan, Erwin—panggilan akrabnya, menjelaskan, bahwasanya apa yang dilaporkannya ke Polres Siantar adalah benar adanya. “Tidak ada rekayasa. Saya melaporkan Jhonri ke polisi, karena memang saya sudah mengalami kerugian 300 juta lebih,” tegas Erwin memulai keterangannya.

Diceritakannya, awalnya, di medio tahun 2018 Jhonri berjumpa dengannya di sebelah Pangkas Internasional Jl.Gereja, Siantar. Saat itu Jhonri mengenalkan diri sebagai PNS di Dinas Sosial Pemprovsu. Kepadanya, Jhonri menceritakan kalau Kemenag RI tepatnya dari Binmas Kristen ada program hibah renovasi sekolah dengan nilai proyek 9 Miliar, dengan catatan wajib membayar biaya administrasi sebesar 10% dari nilai proyek atau sebesar Rp300 juta. Jhonri bilang, informasi proyek itu didapat dari temannya bernama Gamal Natsir Siregar, di Medan.

Sehari setelah pertemuan itu, Jhonri mengajak Erwin ke Jl.Melanthon Siregar untuk berjumpa dengan Arthur Simanjuntak dan Hermanto Panjaitan selaku ketua dan pengurus Yayasan Pelita (sekolah yang akan diajukan mendapatkan proyek).

Disana, Jhonri menjelaskan soal proyek itu kepada ketua dan pengurus yayasan, sembari menyatakan kalau Erwin siap mengerjakan proyek tersebut. Saat itu, Jhonri meminta agar seluruh berkas yang dibutuhkan disiapkan. Dan Jhonri menjelaskan kalau berkas sudah lengkap, di Jakarta hanya tinggal teken kontrak. Mendengar penjelaskan Jhonri, Erwin pun semangat. Saat itu juga pihak Yayasan Pelita menyiapkan seluruh berkas. Setelah berkas beres, Jhonri menyatakan segera berangkat ke Jakarta.

Jhonri meminta uang Rp8 juta kepada Erwin untuk membeli tiket (Jhonri dan Gamal Siregar) ke Jakarta. Erwin menyerahkan uang tiket pesawat di Jl.Ricardo Siahaan. Setelah uang diterima, Jhonri juga meminta Erwin menyiapkan hotel di Jakarta.

BACA JUGA..  Tingkatkan Pelayanan, Pelindo I TPK Belawan Lakukan Penataan Akses Masuk Terminal

Agar proses proyek cepat berjalan, Erwin memesan kamar di Hotel Millenium di Jakarta. Hari itu, Jhonri dan Gamal berangkat ke Jakarta. “Sampai saat itu saya belum kenal yang namanya Gamal,” kata Erwin kepada Posmetro Medan.

Besoknya, Erwin, Hermanto Panjaitan, Arthur Simanjuntak beserta Bottor Siahaan menyusul Jhonri ke Jakarta. Sampai di Jakarta, mereka bertemu dengan Jhonri. Jhonri mengenalkan Gamal kepada mereka. Lalu Jhonri menghubungi seseorang yang belakangan diketahui bernama Ferry dan Yudi. Jhonri mengatakan Ferry dan Yudi adalah orang Kemenag.

Setelah dikenalkan, Ferry dan Yudi mengajak Erwin Siahaan, Hermanto Panjaitan ke kantor Kemenag. “Sepertinya memang sudah by setting bang. Sindikat mereka sangat rapi. Di kantor Kemenag lantai 6, kami dijumpai seorang pria yang langsung menyapa kami ‘kalian yang dari siantar ya’ katanya lagi, kalau berkas proyek itu sudah beres. ‘ini aku menekenkan kebawah’. Udah beres semua. Begitu kata laki-laki itu pada kami,” jelas Erwin.

Masih Erwin, katanya, melihat hal itu, dia makin yakin kalau proyek itu benar ada dan sudah beres segala urusannya. Selanjutnya tidak berapa lama di kantor Kemenag, Ferry dan Yudi mengajak mereka kembali ke warung di seberang Hotel MIllenium, tempat mereka bertemu.

Di warung itu, Jhonri meminta uang Rp300 juta seperti perjanjian awal mereka. Tapi karena perjanjian dari Siantar, keberangkatan mereka ke Jakarta untuk meneken kontrak, Erwin sempat tidak mau memberikan uang itu.

Tapi, saat itu Jhonri lagi-lagi menyakinkannya soal proyek tersebut. Dan Jhonri meminta setengah dari perjanjian (Rp150 juta), dengan catatan disertai kwitansi sebagai bukti. Erwin pun akhirnya setuju. Lalu Erwin menyerahkan uang Rp150 juta kepada Jhonri. Tapi Jonri meminta di kwitansi dituliskan pemberi uang adalah Hermanto Panjaitan. Saat itu Jhonri beralasan karena dirinya dan Hermanto Panjaitan sama-sama pegawai negeri.

“Setelah uang kuserahkan, kami semua kembali ke Siantar,” kata Erwin Siahaan.

Beberapa minggu kemudian, Jhonri memberikan surat disposisi dari Dirjen Kristen Kemenag tetang proyek hibah berbentuk file kepada Erwin dan pihak Yayasan Pelita. Saat itu Jhonri menyatakan agar Erwin dan pihak yayasan berangkat ke Jakarta untuk mengambil disposisi yang telah di print (disposisi sudah tercatat di atas kertas). “Kata si Jhonri itu, di Jakarta kami jumpai Yudi karena dia yang telah memegang disposisi itu,” kata Erwin.

BACA JUGA..  Bawa Sabu ke Medan, Warga Aceh Timur Disergap

Karena kesibukan, Hermanto Panjaitan yang mewakili mereka berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Hermanto dan Yudi bertemu. Yudi menyerahkan surat disposisi kepada Hermanto tidak lembaran asli, melainkan lembaran scan. Saat itu Yudi sisa kesepakatan Rp150 juta agar dilunaskan.

Karena tidak membawa uang banyak, Hermanto hanya bisa memberikan cash Rp6 juta kepada Yudi. Selanjutnya Hermanto Panjaitan menelepon Erwin dan menjelaskan permintaan Yudi.

Karena yakin tidak lama lagi proses administrasi proyek selesai, Erwin mantransfer Rp94 juta ke rekening atas nama Yudi. Dan Yudi pun total mendapat uang Rp100 juta dengan rincian Rp6 juta cash dari Hermanto Panjaitan dan Rp94 juta ditransfer Erwin siahaan. Hingga saat itu, Erwin Siahaan telah memberikan uang Rp250 juta kepada Jhonri dan kawan-kawannya.

Selanjutnya Hermanto kembali ke Siantar dengan membawa lembaran chan surat disposisi dari Dirjen Kristen Kemenag RI. Beberapa waktu kemudian, Jhonri kembali meyakinkan Erwin agar segera menyelesaikan sisa perjanjian awal. Saat itu Jhonri berjanji, kalau sisa perjanjian itu dibayarkan melalui rekening Ferrizal alias Ferry, udangan Bimtek terkait proyek itu akan segera diberikan.

Lagi-lagi Erwin menyetujuinya. Erwin pun mentransfer Rp50 juta ke rekening atas Ferry. “Dengan transfer Rp50 juta itu, total uangku sudah Rp300 juta masuk ke Jhonri dan kawan-kawannya,” jelas Erwin Siahaan.

Ditunggu hingga Desember 2018, undangan Bimtek dari Kemenag seperti yang dijanjikan Jhonri tidak juga ada. Beberapa kali hal itu dipertanyakan kepada Jhonri, tapi Jhonri hanya selalu berjanji.

⏩ Cek Langsung ke Kemenag RI di Jakarta

Diawal tahun 2019, Erwin dan pihak Yayasan Pelita (Hermanto Panjaitan dan Arthur Simanjuntak) sepakat berangkat ke Kantor Kemenag di Jakarta, untuk memastikan proyek itu.

Di Kantor Kemenag, atas bantuan kenalan disana, mereka bertemu dengan Dirjend Kristen. Dirjend menjelaskan kalau proyek yang dijanjikan itu tidak ada. Dan mereka dipastikan telah menjadi korban penipuan. Bahkan saat Erwin dan kawan-kawan menunjukkan surat disposisi berbentuk scan yang diberikan Yudi kepada mereka, Dirjend Kristen Kemenag menunjukkan tandatangan aslinya.

Ternyata tandatangan yang ada di surat disposisi itu bukan tandatangan Dirjend Kemenag.

BACA JUGA..  Dikabarkan Asren Nasution Dilantik Hari Ini Jadi Pjs Wali Kota Medan

Mendapat penjelasan Dirjend Kemenag seperti itu, Erwin sadar kalau dia sudah menjadi korban penipuan. Sampai di Siantar, Erwin meminta pertanggungjawaban Jhonri. Bahkan Erwin meminta Jhonri agar menyelesaikan kasus itu secara kekeluargaan. Awalnya Jhonri berjanji menyelesaikan masalah itu. Tapi setelah ditunggu beberapa lama, Jhonri tidak pernah menepatinya.

 

LP DAN SURAT DPO : Surat Laporan Polisi dan surat DPO atas nama Yudi Adrian di Polres Asahan. Dalam kasus penipuan ini, Jhonri Wilson Purba adalah sebagai saksi. (Ist/posmetro medan)

⏩ Jhonri Wilson Satu Sindikat Jahat Dengan Yudi dan Ferry

Kemudian, menunjuk seseorang sebagai kuasa hukumnya. Lalu si kuasa hukum melayangkan somasi kepada Jhonri agar membayar kerugiannya. Somasi itu pun tidak berhasil. Akhirnya, Erwin menempuh jalur hukum dengan mengadukan Jhonri Wilson Purba ke Polres Siantar.

“Jadi bang, apa yang disampaikan Jhonri dan keluarganya kalau kasus ini terkesan dipaksakan, saya pastikan tidak bang. Saya pun tidak mungkin asal membuat laporan. Dan polisi tidak mungkin asal buat surat pemanggilan, surat penetapan tersangka dan surat penahanan. Polisi melanjutkan kasus ini hingga menahan Jhonri, pasti sudah ada bukti-buktinya,” kata Erwin Siahaan kepada Posmetro Medan.

Masih Erwin, katanya, penjelasan pihak Jhonri yang menyatakan kalau berkas belum P21, itu juga tidak benar. “Kasus ini sudah P21 bang. Ini bukti surat P21 atas nama Jhonri Wilson Purba,” kata Erwin sembari menunjukkan lembaran surat P21 atas nama tersangka.

Diakhir pembicaraan dengan Posmetromedan.com/ Posmetro Medan, Erwin menjelaskan kalau pernyataannya yang menyebut Jhonri Wilson Purba satu jaringan jahat dengan Yudi Adrian (nama lengkapnya sesuai surat Daftar Pencarion Orang/DPO) yang dikeluarkan Polres Asahan dan Ferry, adalah dibuktikan dari surat laporan pengaduan Sakti Sihombing di Polres Asahan.

Dijelaskan Sakti Sihombing kepada Erwin, kasus penipuan yang dialaminya dimana pelakunya Yudi Adrian (laporan polisi ke Polres Asahan), adalah juga perantaranya Jhonri Wilson Purba. Kata Sakti Sihombing seperti dijelaskan Erwin kepada Posmetro Medan, kedok atau modus Jhonri sama dengan yang dialami Erwin.

Sehingga dalam laporan Saksi Sihombing dengan terlapor Yudi Adrian, sebagai saksinya adalah Jhonri Wilson Purba. “Dalam LP Sakti Sihombing si Polres Asahan, si Jhonri ini juga yang memberi informasi proyek kepada Sakti. Jadi jelas bang, kalau si Jhonri ini satu sindikat dengan Yudi Adrian, Ferry juga dengan si Gamal itu,” pungkas Erwin. (tob)