POSMETRO MEDAN – Di sudut terpencil Desa Huta Namale, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Kabupaten Mandailing Natal, sebuah kenyataan pahit berlangsung nyaris tanpa sorotan: M. Yasid (41) telah dipasung oleh keluarganya sendiri selama lebih dari 25 tahun.
Bukan tanpa alasan. Namun juga bukan tanpa luka.
Kisah ini mencuat setelah warga mulai angkat suara, mendesak pemerintah—khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara—untuk segera turun tangan menangani kondisi yang dinilai sudah melampaui batas kemanusiaan.
Hidup dalam Ruang Sempit Seperempat Abad
Yasid mengalami gangguan kejiwaan sejak pulang merantau puluhan tahun lalu. Sejak itu, perilakunya kerap tak terkendali—bahkan membahayakan dirinya sendiri dan orang sekitar. Dalam kondisi serba terbatas, keluarga mengambil jalan terakhir: pemasungan.
“Kami sebenarnya tidak tega,” ujar Miswar Hasibuan, paman Yasid, Jumat (27/3/2026).
“Tapi kami tidak punya pilihan. Untuk berobat saja kami tidak mampu.”
Selama seperempat abad, Yasid menjalani hidup dalam ruang sempit, jauh dari perawatan medis yang layak. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah lanjut usia—tanpa akses, tanpa pendampingan, tanpa harapan yang jelas.
Antara Ketakutan dan Keterbatasan
Kasus ini menjadi cermin keras tentang realitas layanan kesehatan jiwa di daerah. Bukan semata soal keluarga yang “memasung”, tetapi juga tentang negara yang belum sepenuhnya hadir.
Keterbatasan ekonomi, minimnya fasilitas kesehatan mental, serta sulitnya akses layanan menjadi faktor utama yang mendorong praktik ini terus terjadi.
Warga sekitar mengaku sudah lama mengetahui kondisi Yasid. Namun hingga kini, belum ada penanganan konkret dari pihak terkait.
“Kami berharap ada tindakan nyata. Ini bukan hanya soal satu orang, tapi soal kemanusiaan,” ujar seorang warga.
Harapan yang Tersisa
Kini, keluarga hanya memiliki satu harapan: Yasid bisa dibebaskan dari pasungan dan mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.
“Kami mohon agar bisa dibawa ke rumah sakit jiwa di Medan. Sudah terlalu lama dia seperti ini. Sedih kami melihatnya,” kata Miswar.
Lebih dari sekadar pengobatan, keluarga juga berharap adanya pendampingan jangka panjang—agar Yasid bisa kembali hidup sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar bertahan dalam keterasingan.
Negara Ditunggu Hadir
Kasus Yasid bukan yang pertama, dan kemungkinan bukan yang terakhir. Namun setiap detik yang berlalu dalam pasungan adalah pengingat: ada yang belum beres dalam sistem kita.
Editor : Oki Budiman












