POSMETRO MEDAN – Warga Kampung Pargarutan, Desa Palsabolas, Kabupaten Tapanuli Selatan digegerkan dengan penemuan jasad seorang nenek bernama Bayani Harahap (78), Rabu (25/2/2026). Korban diduga kuat menjadi korban perampokan yang berujung pembunuhan setelah ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tangan terikat di belakang rumahnya.
Korban pertama kali ditemukan oleh anaknya, Ali Syahbana, yang baru pulang ke rumah pada malam hari. Ia curiga karena lampu rumah padam dan pintu dalam keadaan terbuka.
“Saya pulang, lampu rumah sudah mati. Saya masuk, kenapa kok pintu terbuka,” ujar Ali dengan nada gemetar saat ditemui di ruang IGD RSUD Kota Padangsidimpuan.
Kecurigaan Ali semakin kuat setelah melihat kondisi kamar ibunya sudah berantakan. Lemari-lemari terbuka dan isi rumah tampak diacak-acak seperti habis digeledah. Namun korban tidak ditemukan di dalam rumah.
Bersama warga, Ali kemudian melakukan pencarian di sekitar permukiman hingga area perkebunan karet. Sekitar satu jam kemudian, korban ditemukan sekitar 15 meter di belakang rumah, tepat di bawah pohon pinang.
Korban tergeletak telentang dengan bagian dada terikat kain serbet, sementara wajahnya penuh luka menganga yang diduga akibat senjata tajam. Darah di tubuh korban sudah mulai mengering saat ditemukan.
Rumah tersebut dihuni oleh korban bersama Ali dan seorang anak perempuan korban yang mengalami disabilitas. Kondisi permukiman yang sepi diduga memudahkan pelaku beraksi.
Kepala Desa Palsabolas, Andame Harahap, menyebutkan bahwa di kampung tersebut hanya terdapat delapan rumah dan dua di antaranya kosong.
“Suasana di sini memang sepi. Banyak kebun di sekitar, dan yang tinggal pun tidak ramai,” katanya.
Kecurigaan warga mengarah kepada seorang pekerja kebun berinisial MPN, yang diketahui bukan warga setempat dan tinggal di pondok sekitar tasik di belakang rumah korban. Saat kejadian, seorang pekerja kebun lain juga mengaku sedang mencari MPN karena sepeda motornya dibawa pergi.
Menurut Kepala Dusun Simandalu, Binsar Harahap, MPN merupakan duda asal Kabupaten Mandailing Natal yang jarang berbaur dengan warga.
“Dia dulu tinggal sama istrinya di sini, istrinya orang Siborong-borong. Tapi sudah pisah. Memang jarang gabung sama warga,” ujarnya.
Saat ini, Tim Inafis dari Polres Tapanuli Selatan bersama keluarga telah membawa jasad korban ke RSUD Tapanuli Selatan Sipirok untuk dilakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian sekaligus mengungkap dugaan pembunuhan tersebut.
Kasus ini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Warga berharap pelaku segera ditangkap agar tidak menimbulkan keresahan lebih luas di wilayah yang selama ini dikenal aman dan sepi tersebut.(*)
EDITOR: Hiras Budiman











