POSMETRO MEDAN – Tarif tol dianggap mahal oleh para sopir angkutan ekspedisi, tangki dan sejenisnya mengakibatkan Jalan Lintas Sumatera Medan Tebing -Tinggi tetap ramai. Akibatnya kemacetan hingga kerusakan jalan terus terjadi dibeberapa ruas jalan.
Dari pantauan, kerusakan jalan yang cukup parah itu tampak dari perbatasan Medan – Tanjung Morawa hingga Lubuk Pakam Deli Serdang berbatas dengan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.
“Jalan keriting di Jalinsum, berlubang, gelombang itu dari Perbaungan sampai perbatasan Medan,” sebut Raihan warga Lubuk Pakam salah seorang Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang resah dengan kondisi jalan rusak menuju ke Kampusnya di Medan, Senin(12/1/2026).
Ia berharap Pemerintah dapat melakukan pembangunan Jalinsum Medan – Lubuk Pakam secara menyeluruh agar jalan menjadi bagus serta tak membahayakan masyarakat yang melaluinya.
“Sudah tak layak dikatakan jalan raya ditanggung jawapi PUPR pusat, karena Jalinsum itu hancur sekali,” keluhnya.
Sementara Permadi (55) seorang supir truk lintas membawa ekspedisi ke Propinsi Riau mengungkapkan kalau ia selama 20 tahun menjadi sopir truk tidak ingin menggunakan jalan tol yang dibangun kecuali tol bel merah dari Tanjung Morawa ke Belawan.
Pasalnya, tarif yang dipatok oleh pengelola jalan tol baru itu sangat mahal bagi truk, dan uang untuk bayar tol itu mending dibuat uang saku tambahan atau biaya makan minum di jalan.
“Enggak ada yang mau masuk tol sopir sopir truk kecuali terdesak, karena tarif terlalu mahal, selain itu jalan rawan pecah ban atau ada kerusakan repot kita didalam tol biaya besar. Itu tol dibangun buat orang kaya atau mau liburan tertentu, kalau buat jalan rute kerja enggak sanggup kita, mending pilih jalan lintas yang gratis saja,” ucapnya.
Terkait kerusakan Jalan Lintas Sumatera karena truk masih banyak menggunakan Jalinsum, Permadi mengatakan itu adalah tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah.
“Dulu ada Timbangan yang dapat mengontrol beban angkutan di jalinsum menjaga daya tahan kekuatan Jalan, tapi semua ditutup jadi tak terkontrol lagi beban angkutan berapapun lewat semua, akibatnya itu jalan cepat hancur, penambalan asal asal dapat duit saja pemborong perawatannya,” pungkas Permadi. ( Wan)
EDITOR : Putra











