POSMETRO MEDAN – Muhammad Aditya Kurnia, SKM., MPH., Ph.D, anak muda asal Medan, Indonesia, baru saja menorehkan prestasi luar biasa yang menginspirasi banyak orang.
Di usia 29 tahun, Aditya berhasil menyelesaikan pendidikan Ph.D (S3) di Nanjing Medical University, China, dengan predikat Excellent, hanya dalam 2,8 tahun dan jauh lebih cepat dari durasi normal yang biasanya memakan waktu 4 tahun.
Aditya menempuh pendidikan di School of Health Policy and Management dengan spesialisasi dalam Community Medicine and Health Education.
Prestasi ini diraihnya melalui Beasiswa Fully Funded CSC, yang memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi dunia akademik dan riset di bidang kesehatan masyarakat di China.
Dengan beasiswa tersebut, Aditya tidak hanya mendapatkan dukungan finansial penuh, tetapi juga akses untuk berkontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan di China.
Sebelumnya, Aditya juga sudah sukses menyelesaikan Master of Public Health (MPH) di Southern Medical University Guangzhou, China, dengan predikat Excellent, hanya dalam 1.8 tahun, jauh lebih cepat dari durasi normal program magister yang seharusnya dua tahun.
Namun, perjalanan anak pertama dari lima bersaudara ini bukan tanpa tantangan. Sebagai “banteng di perantauan”, istilah yang sering digunakan Aditya untuk menggambarkan dirinya yang kuat dan penuh perjuangan, ia harus menjalani hidup sebagai perantau sambil merawat ayahnya yang menderita gagal ginjal stadium 5.
Meskipun jauh dari rumah, Aditya tetap berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi tanggung jawab akademiknya, sambil tetap memberikan perhatian penuh untuk perawatan ayahnya yang sakit.
Namun, takdir berkata lain. Seminggu sebelum Final Defense, Aditya harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ayahnya meninggal dunia. Meski berduka, Aditya tetap melanjutkan perjuangannya dan berhasil menyelesaikan S3 dengan predikat Excellent dalam waktu yang luar biasa singkat, sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk ayahnya yang selalu mendukung perjuangannya.
“Saya percaya bahwa ini bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk ayah saya yang selalu mendoakan dan mendukung saya, meski dalam keadaan yang sulit. Ini adalah bentuk penghargaan saya untuk beliau,” ujar Aditya yang tamatan SMA Pancabudi Medan itu.
Keberhasilan Aditya ini mengirimkan pesan kuat tentang ketekunan, dedikasi, dan semangat juang. Sebagai banteng di perantauan, ia telah membuktikan bahwa meski jarak memisahkan, semangat untuk meraih impian dan bertanggung jawab terhadap keluarga tak pernah pudar.
Aditya berencana kembali ke Indonesia untuk berkontribusi dalam dunia kesehatan masyarakat dan pendidikan kesehatan, serta menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas kebijakan kesehatan di tanah air.
Ketika ditanyain apakah ia akan berkarir di Indonesia, anak dari Alm Wahyu Kurnia dan Chairul Lilian Sari ini mengaku, kini telah mendapat beberapa tawaran.
“Ada beberapa tawaran untuk melanjutkan ke Jenjang Assoc Professor di beberapa Universitas di China juga, dan bekerja sebagai Tim Akdemik di salah satu Universitas di kota Dubai (UEA),” kata Aditya.
Menutup, ia pun memberikan tips kepada mahasiswa/wi luar negri asal Indonesia agar terus semangat dan pantang menyerah.
“Tipsnya adalah, senantiasa update informasi dan mempersiapkan diri. Karena kunci dari keberhasilan Beasiswa adalah informasi,” tutupnya dengan senyum.
Editor : Oki Budiman












