Lapangan Sarasi Kopi Godang Terlantar 

oleh
Salah seorang warga Desa Pargarutan Julu, menemani awak media ini melihat lapangan Sarasi Kopi Godang, yang ditumbuhi semak dan tanaman berduri. (Amran Pohan/Posmetromedan)

POSMETROMEDAN.com – Lapangan Sarasi Kopi Godang, di Desa Pargarutan Julu, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) tidak diurus dan terlantar.

Pantauan wartawan Posmetromedan.com, pada Kamis (24/3/2022) lapangan yang berada di pinggir jalan yang menghubungkan Pargarutan dengan kantor Bupati Tapsel itu, dipenuhi semak belukar dan tanaman berduri.

Tidak layak memang disebut lapangan sepakbola lagi, sebab sebagian besar ditumbuhi semak dan tanaman berduri. Ternak Lembu saja yang ada di lokasi nyaris tak kelihatan saat itu.

Memang, tiang gawang masih terpasang ditambah sebagian kecil dari lapangan yang tak ditumbuhi semak, itupun tanah gersang. Gedung peninggalan dari pelaksanaan MTQ yang ada di pinggir lapangan, juga tak terurus.

BACA JUGA..  May Day Harmonis, Pemkab dan Ratusan Buruh Gerak Jalan Santai

“Sekitar 7 tahun terakhir, lapangan itu sudah tak bisa lagi digunakan untuk sarana olahraga, khususnya sepakbola,” sebut B Harahap (50) salah seorang warga setempat kepada wartawan.

Sejak dibangun tribun untuk MTQ kata Harahap, lapangan itu tak kunjung bisa dipakai lagi untuk bermain bola. Sehingga, anak remaja dan pemain bola dari desa terbesar dan padat penduduknya di Angkola Timur itu, harus  menumpang di lapangan desa lain untuk bermain bola.

“Padahal keberadaan lapangan bola sangat baik untuk mengantisipasi generasi pada hal-hal buruk,” ucapnya seraya berharap, kiranya pemerintah tidak membiarkan kondisi lapangan itu tak bermanfaat.

BACA JUGA..  Bertemu Aliansi Buruh, Ini Janji Bupati Deli Serdang

“Beberapa tahun lalu, sudah dibangun diratakan, didek dan rumputnya ditanami, namun semua itu tak diurus. Mudah-mudahan ada perhatian dan perbaikan. Dan kami sebagai warga siap bersinerji  jika diperlukan,” tegasnya saat berbincang dengan wartawan media ini, Kamis (24/3).

Hal senada juga disampaikan Sahmadi Harahap (20). Pemuda lulusan SLTA tehnik ini menyebut, terakhir dirinya dan rekan sebaya bermain bola dilokasi itu adalah saat umur 13 tahun atau kelas 2 SLTP.

“Sejak itu tak bisa lagi. Karena selalu ada pembangunan. Tapi setelah dibangun tak ada yang mengurus sehingga ditumbuhi semak,” sebutnya.

BACA JUGA..  Wujudkan Pelayanan Kesehatan Unggul, Bupati Taput Resmikan Tiga Fasilitas Baru Di RSUD Tarutung

Dikatakan, sebenarnya keinginan masyarakat untuk merawat lapangan itu ada. Tetapi kurangnya koordinasi dan berbagai keterbatasan yang dimiliki, akhirnya lapangan itu terkesan tak diurus.

“Tak jelas siapa yang merawatnya. Kalau ada yang mengarahkan, saya rasa rata-rata kami bersedia,” tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah A Saftar Harahap saat dimintai tanggapannya dengan lapangan itu menyebut, pihaknya (Dinas Pariwisata) juga bingung. Sebab, penggunaan dan perawatan lapangan sudah dilimpahkan pada masyarakat.

“Besoklah kita bicarakan panjang lebar terkait langkah kedepan terkait lapangan itu, adinda. Saya masih ada acara hari ini,” tuturnya lewat pesan. (*)

Reporter: Amran Pohan
Editor: Maranatha Tobing