POSMETRO MEDAN – Ketegangan di kawasan Teluk memuncak. Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk Arab, memicu rentetan sirene serangan udara dan ledakan yang mengguncang kota-kota strategis di kawasan tersebut, Senin (2/3/2026).
Di Kuwait, gelombang baru sirene kembali meraung untuk ketiga kalinya hanya dalam hitungan jam. Otoritas setempat menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat “sebagian besar” drone yang mengarah ke ibu kota, Kuwait City.
Seorang saksi yang dikutip Reuters melaporkan asap terlihat mengepul di dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait. Sementara itu, Kuwait News Agency melaporkan puing-puing jatuh di kilang Mina Al Ahmadi dekat Kuwait City, menyebabkan dua pekerja mengalami cedera ringan.
Situasi serupa juga terjadi di Bahrain. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengaktifkan peringatan serangan udara dan mengimbau warga segera mencari perlindungan. Pemerintah bahkan menutup Jembatan Shaikh Khalifa bin Salman yang menghubungkan Manama dengan wilayah sekitarnya, serta membatasi penggunaan jalan utama kecuali untuk kebutuhan mendesak.
Di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar. Sementara di Doha, ibu kota Qatar, sekitar enam dentuman keras mengguncang kota, mengindikasikan bahwa serangan Iran turut menyasar wilayah negara tersebut.
Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam konfrontasi antara Teheran dan Washington di kawasan Teluk. Aset-aset militer Amerika Serikat yang tersebar di sejumlah negara sekutu kini berada dalam status siaga tinggi, sementara pemerintah negara-negara Teluk memperketat keamanan dan membatasi mobilitas warga.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dari pihak militer Amerika Serikat. Namun, rangkaian serangan ini menegaskan bahwa ketegangan regional telah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa waktu terakhir — dengan risiko meluasnya konflik yang kian nyata.
SUMBER: CNN
EDITOR: Hiras Budiman











