MBG Berulat, Dapur SPPG Sei Rampah Disetop

oleh
MBG yang bercacing dan berulat dari dapur Sei Rampah.(ISTIMEWA/POSMETRO MEDAN)

POSMETRO MEDAN – Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sei Rampah di Kabupaten Serdang Bedagai resmi dihentikan sementara. Keputusan ini diambil setelah ditemukan cacing dan ulat dalam menu sayur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan kepada pelajar SMK Negeri 1 Sei Rampah pada Februari lalu.

Dapur tersebut dikelola Yayasan Bintang Ceria dan berlokasi di Jalan Medan–Tebing Tinggi, Dusun VI, Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah. Sejak Senin, 2 Maret 2026, aktivitas di ruko yang menjadi pusat operasional terlihat lumpuh total—pintu tertutup, distribusi makanan terhenti.

Investigasi Pusat, Operasional Dibekukan

Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Serdang Bedagai, Nurhasanah Ritonga, membenarkan penghentian sementara tersebut. Menurutnya, langkah itu diambil berdasarkan hasil investigasi Tim Pengawasan (Tauwas) pusat yang mengacu pada laporan tertanggal 26 Februari 2026.

BACA JUGA..  Ganjar Penghargaan Bhabinkamtibmas Berprestasi, Kapolres Binjai: Bukan Sekadar Seremonial

Penghentian operasional juga merujuk pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.

“Penutupan sementara diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Ini langkah pembenahan untuk memastikan terpenuhinya tenaga pengawas gizi dan infrastruktur sesuai standar. Dapur akan kembali beroperasi setelah ada izin resmi dari BGN,” ujar Nurhasanah.

Peringatan Keras bagi Pengelola

Pihak dapur MBG telah mengakui adanya kelalaian. Namun pengakuan itu tak serta-merta meredakan kegelisahan. Di sejumlah sekolah penerima manfaat di Kecamatan Sei Rampah, pemberitahuan penghentian distribusi dikirim melalui grup WhatsApp resmi kepala sekolah dan guru.

BACA JUGA..  Sadis! Pria di Sergai Ditikam dan Digorok, Jasadnya Dibuang ke Sungai

Bagi sekolah, insiden ini bukan sekadar kelalaian teknis—melainkan alarm keras soal keamanan pangan. Pihak sekolah kini memperketat pengawasan saat pembagian makanan, melibatkan guru dan siswa untuk memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Bukan Kasus Pertama

Yang lebih mengkhawatirkan, kasus serupa bukan kali pertama terjadi. Pada 2025, pelajar di SMA Negeri 6 Medan juga menemukan cacing dan ulat dalam makanan MBG. Rentetan kejadian ini memunculkan pertanyaan serius: seberapa siap infrastruktur dan pengawasan program nasional ini dijalankan secara masif?

Program MBG digadang-gadang sebagai solusi strategis untuk memperbaiki kualitas gizi pelajar. Namun di lapangan, standar higienitas dan kontrol mutu justru menjadi titik lemah yang berpotensi merusak tujuan besar tersebut.

BACA JUGA..  Sedan Hitam Angkut 31,5 Kg Sabu, 2 Kurir Lintas Provinsi Terkapar di Labura

Kepercayaan yang Terkikis

Penghentian distribusi mungkin hanya sementara. Namun dampaknya terhadap kepercayaan publik bisa jauh lebih panjang. Orang tua kini diliputi rasa waswas, siswa ragu menyantap makanan yang seharusnya menunjang kesehatan mereka.

Program sebesar MBG menuntut standar pengawasan yang tak bisa ditawar. Insiden di Sei Rampah menjadi ujian penting: apakah pembenahan akan benar-benar menyentuh akar masalah, atau sekadar respons administratif sementara?

Untuk saat ini, dapur SPPG Sei Rampah masih terkunci. Bersama pintu yang tertutup itu, tersimpan pula harapan agar program makan bergizi benar-benar aman, layak, dan tidak lagi menyisakan trauma di meja makan para pelajar.(*)

REPORTER: Gunawan

EDITOR: Putra