Koordinator Keraton Nusantara Prihatin Situs Sejarah Jadi Pabrik

oleh
Koordinator FSKN Wilayah Sumatera Tengku Achmad Thala'a.

POSMETRO MEDAN – Koordinator Forum Silahturahmi Keraton Nusantara (FSKN) mengapresiasi pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengkritisi beberapa situs bersejarah di Sumatera Utara yang kini menjadi pabrik.

“Pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menyinggung hilangnya situs-situs sejarah karena alih fungsi lahan patut diapresiasi dan menjadi peringatan serius bagi kita semua,” kata Koordinator FSKN Wilayah Sumatera Drs Tengku Achmad Thala’a Syariful Alamsyah yang akrab disapa Tengku Ameck di Lubuk Pakam, Senin (2/2/2026).

Tengku Ameck yang merupakan Sultan Serdang menyebut bahwa, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas, jati diri dan fondasi moral suatu bangsa.

BACA JUGA..  Paripurna Pokir 2026, Ketua DPRD Langkat: Komitmen Perjuangkan Aspirasi Masyarakat

“Pembangunan yang mengabaikan situs sejarah itu sama artinya dengan memutus mata rantai peradaban. Ketika tanah dan bangunan bersejarah berubah menjadi pabrik atau Kawasan Industri tanpa kajian yang utuh, bangsa ini kehilangan bukan hanya ruang fisik, tetapi juga memori kolektif dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu,” kata Ketua Dewan Adat Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PB MABMI) itu.

Tengku Ameck menyebut, negara sejatinya hadir untuk menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab pelestarian sejarah. Pembangunan harus berorientasi pada kemajuan yang berkeadilan, bukan kemajuan yang menghapus jejak asal-usul bangsa.

BACA JUGA..  Peringati HPN 2026,Pemerintah Diminta Perhatikan Kesejahteraan Pers

“Perlindungan terhadap situs sejarah dan tanah adat harus ditegakkan melalui kepastian hukum dan kebijakan yang berpihak pada nilai budaya.
Apa yang disampaikan Presiden hendaknya tidak berhenti sebagai pernyataan moral, tetapi menjadi arah kebijakan yang nyata hingga ke daerah, agar pembangunan nasional tetap berakar pada sejarah dan identitas bangsa,” sebut Sultan Serdang.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mengatakan anak-anak muda sekarang memang tidak merasakan penjajahan tersebut. Namun dia mengingatkan bangsa Indonesia harus menghargai peninggalan sejarah.

“Saya lihat satu prasasti tahun 1978. Dua puluh tiga tahun setelah kemerdekaan masih ada prasasti di kolam renang Manggarai saat itu, sayang, mungkin dibongkar,” katanya.

BACA JUGA..  Polemik Masa Jabatan 76 Kades, Ini Putusan Pemkab Deli Serdang

Prabowo menyayangkan sikap warga negara yang tidak menghargai sejarah Indonesia. Dia mempertanyakan perawatan terhadap lokasi atau situs bersejarah yang tidak terurus.

“Kadang-kadang kita tidak menghargai sejarah kita. Situs-situs sejarah dibongkar, ini para kepala daerah harus memikirkan. Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo pada pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa sudah menjadi pabrik,”

EDITOR: Putra