POSMETRO MEDAN – Sebuah pesawat JetBlue Airbus A320 tujuan New Jersey jatuh diduga tertimpa partikel misterius dari galaksi lain. Namun, pilot berhasil mengendalikan kembali pesawat dan melakukan pendaratan darurat di Tampa, Florida.
Meski demikian, 15 penumpang harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami cedera serius, termasuk luka pada kepala akibat benturan keras. Para penyelidik awalnya mengaitkan kejadian tersebut dengan turbulensi ekstrem, namun pakar antariksa mengungkap penyebab yang jauh lebih langka dan misterius.
Pesawat itu diduga mengalami gangguan akibat paparan partikel kosmik dari bintang meledak di galaksi lain.
Clive Dyer, pakar radiasi dan ruang angkasa dari University of Surrey, menyatakan pesawat kemungkinan besar terkena aliran partikel berenergi tinggi dari ledakan supernova yang terjadi di galaksi yang sangat jauh.
“Sinar kosmik dapat berinteraksi dengan mikroelektronik modern dan mengubah keadaan suatu sirkuit,” ujar Dyer.
Mereka bisa menyebabkan perubahan sederhana pada bit, seperti nol menjadi satu atau satu menjadi nol. Mereka bisa mengacaukan informasi dan membuat sesuatu berjalan tidak semestinya.
“Namun mereka juga bisa menyebabkan kerusakan perangkat keras ketika memicu arus dalam perangkat elektronik dan membakarnya,” ucapnya.
Menurut Dyer, partikel-partikel kosmik tersebut dapat menempuh perjalanan selama jutaan tahun sebelum akhirnya mencapai Bumi.
Ketika partikel itu mengenai sirkuit elektronik di sensor atau komputer pesawat, sistem navigasi bisa terganggu hingga menyebabkan perubahan ekstrem pada jalur penerbangan.
Pihak Airbus dalam pernyataannya minggu ini menyebut kerusakan pada sistem komputer navigasi pesawat disebabkan oleh “radiasi matahari intens” yang memengaruhi Airbus A320 yang telah berumur 20 tahun tersebut.
Namun, Dyer membantah hal itu. Ia menilai tingkat radiasi matahari pada saat kejadian tidak cukup kuat untuk memberikan dampak fatal terhadap elektronik pesawat sebesar itu. Ia menekankan bahwa penyebab yang paling mungkin justru berasal dari radiasi supernova, bukan matahari.
“Radiasi dari matahari tidak cukup kuat untuk memengaruhi penerbangan tersebut,” ujarnya seraya menambahkan fenomena partikel kosmik dari supernova lebih masuk akal berdasarkan kondisi insiden.
Adapun sinar kosmik terbentuk ketika bintang raksasa meledak dalam supernova di akhir masa hidupnya, melemparkan partikel proton berkecepatan cahaya ke seluruh penjuru alam semesta.
Selain dapat mengganggu satelit, partikel ini juga berpotensi memengaruhi sistem avionik pesawat komersial yang semakin bergantung pada komputer.(bbs)












