POSMETROMEDAN.com – Jembatan penuh sejarah, Soguna Ba Zato yang juga merupakan penguhubung Nias Barat ke Kota Gunung Sitoli, hingga kini diterlantarkan Pemerintah Daerah (Pemda) Nias Barat.
Masyarakat setempat sudah sangat lama menginginkan jembatan tersebut dibangun, agar dapat meningkatkan perekonomian. Bahkan, apabila jembatan tersebut dibangun, jarak dari desa setempat munuju Kota Gunung Sitoli hanya 40 kilometer saja.
Disebut bersejarah, ternyata jembatan tersebut diawali pembangunannya pada masa miasionaris Kristen Protestan pada tahun 1893 silam, saat menyebarkan agama ke Pulau Nias.
Jembatan Soguna Ba Zato yang terletak di Desa Lahagu, Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara, disebut juga Jembatan Ikon Aekhula Pada Masa Pemerintah Faduhusi Daeli dan Khenoki Waruwu (Fakhe).
Berdasarkan hasil Konfirmasi salah satu tokoh masyarakat dan adat An. Hahati Lahagu alias Ama Wika Lahagu, pada Jumat (10/2/23), membenarkan postingan terkait jembatan tersebut di akun media sosialnya, facebook.
Ia membenarkan bahwa postingan tersebut bertujuan agar pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat dapat melihat kondisi jembatan. Sebab jembatan itu jalur alternatif menuju Botombawo dan Kota Gunungsitoli,
“Pada tahun 2018 pembangunan jembatan ini dimulai dirintis. Pengerjaan dilakukan secara bertahap di mulai dari albumen sebelah dengan biaya 4.9 Miliar. Namun proyek tersebut putus kontrak atau mangkrak dibawah pengerjaan Dinas PUPR, dimana Kadis saat itu adalah Eliyunus Waruwu,” ujar Hayati Lahagu menjelaskan.
Lanjutnya, pembangunan Jembatan Soguna Ba Zato dinyatakan mangkrak. Sehingga pembangunannya dikatakan cacat profil. Oleh karena itu, Bupati Nias Barat Khenoki Waruwu menganti namanya menjadi Jembatan Soguna Ba Zato.
Setelah pembangunannya distop, masyarakat Desa Lahagu tercatat beberapa kali beraudensi kepada pemerintah saat ini. Namun jawabanya akan diprioritaskan akan tetapi sampai saat ini, hal itu hanya tinggal omongan belakang.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menjawab warga Desa lahugu Khusus dan Nias Barat pada umum.
Permohonan pembangunan jembatan itu dirasa sangat penting, karena itulah satu-satunya cara membantu dan mempermudah perekonomian masyarakat setempat dan sekitarnya.
Terpisah, Camat Mandrehe Utara Siduhu Lahagu, S.Pd, kepada Posmetromedan.com membenarkan bahwa jembatan tersebut berlokasi di Desa Lahagu, Kecamatan Mandrehe Utara. Dan dijelaskan bahwa pembangunan sudah dimulai pada pemerintahan Faduhusi Daeli.
“Namun pekerjaan putus kontrak karena pemborong pergi, kurang tau apa sebabnya,” ujar Camat.
Camat berharap jembatan itu bisa dilanjutkan dan masyarakat juga mau menerima pembangunan tersebut sehingga siapa pun rekanan bisa merasa nyaman untuk bekerja. (*)
Reporter: Odal Zai
Editor: Maranatha Tobing












