POSMETROMEDAN.com-Tingkat stunting sebagai dampak kurang gizi pada balita di Indonesia melampaui batas yang ditetapkan World Health Organization (WHO).
Kasus stunting banyak ditemukan di daerah dengan kemiskinan tinggi dan tingkat pendidikan yang rendah.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sumatera Utara (Sumut) kemudian melakukan sosialisasi dan pendataan keluarga di Desa Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai.
Tujuannya agar masyarakat memahami dan bisa meminimalisir terjadinya stunting.
Kabid Latbang Perwakilan BKKBN Sumut, Dra Tengku Lafalinda Mpd menyatakan Sumut hanya mencapai 68,93% dari target berada di posisi 11 Nasional.
Hanya Pakpak Bharat menjadi satu-satunya kabupaten yang selesai mendata 100%.
“Kami melakukan pengumpulan dan pengolahan data dari rumah ke rumah menggunakan formulir F/I/PK/21,” kata Lafalinda.
“Dilakukan di tingkat kecamatan dengan memanfaatkan balai penyuluhan. Lalu data yang sudah diterima akan diinput langsung menggunakan perogram berbasis smartphone,” jelasnya.
Menutup, Wakil Ketua Komisi IX DPRRI, H Ansory Siregar Lc memastikan kegiatan tersebut berjalan aman dan lancar.
“Semua pihak mulai dari pemerintah pusat maupun daerah, lembaga, dunia usaha, masyarakat, dan media massa harus bersinergi demi pemenuhan gizi anak yang tepat,” pungkasnya.(bbs)












