Kabur dari Pengasingan Covid-19, Sianipar Diamuk Warga, Dipukuli Lalu Diseret

oleh -164 views
DIPUKULI: Slamat Sianipar dipukuli warga karena tertular Covid-19.(IST/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Tidak terima hingga depresi dinyatakan positif Covid-19, Salamat Sianipar (45) nekat kabur dari pengasingan dan kembali ke rumahnya. Namun apes bagi penduduk Desa Bulu Silape, Tobasa, ini.

Kepulangannya justru berujung dengan penganiayaan. Dia diamuk dengan dipukuli lalu diseret saat berupaya meyakinkan warga bahwa dirinya tidak kena Covid.

Penganiayaan terhadap Salamat Sianipar sempat direkam. Dan oleh seorang kerabat korban bernama Jhosua, video tersebut disebarkan ke media sosial dengan harapan presiden dan aparatur Negara memberikan keadilan kepada keluarga.

Upaya mencari keadilan yang dilakukan Jhosua membuat video penganiayaan terhadap pamannya tersebut menjadi viral.

Oleh Lisbet Sitorus, istri Salamat Sianipar, penganiayaan tersebut telah dilaporkan ke polisi. Laporannya tertuang dalam LP/B/270/VII/2021/SKPT/Polres Toba Polda Sumut.

Orang yang dilaporkan yakni terlapor adalah Erik Sianipar (50) yang merupakan perangkat Desa Pardomuan Silaen Toba, dan kawan-kawan.

Kepada wartawan, Risma membenarkan suaminya dinyatakan positif Covid-19 hingga dibawa ke lokasi isolasi yang jauh dari permukiman pada Rabu (21/7/2021) lalu.

Saat itu, suaminya kabur dari tempat isolasi dan kembali ke rumah. Sampai di rumah, Salamat mulai depresi. Dia kemudian keluar rumah sambil meludahi tangannya dan mendekati warga.

“Dia mencoba menyentuh warga yang berada di dekatnya dengan berteriak dirinya tidak terpapar Covid-19,” kara Risma.

Karena warga takut, mereka pun kemudian berkumpul dengan membawa bambu dan kayu pada Kamis (22/7/2021).

Alasan warga, mereka hendak mengamankan Salamat. Namun, yang terjadi justru mengarah pada tindak penganiayaan dan penyiksaan. Salamat kemudian diseret-seret di jalanan kampung.

“Kemudian pukul 11.00 WIB, Salamat Sianipar berhasil diamankan. Lalu diantarkan ke Rumah Sakit Umum Daerah  Porsea. Namun pada malam harinya ia kembali kabur dari rumah sakit,” ungkapnya.

BACA JUGA..  Gebrakan Wali Kota Medan Atasi Pemasalahan Sampah

Tepat pada Sabtu 24 Juli 2021 sekira pukul 11.30 WIB, Risma menuturkan suaminya ditemukan di depan Perumahan DL Sitorus di Desa Siantar Narumonda VI, Kecamatan Siantar Narumonda dan langsung dibawa ke RS Porsea.

Sementara itu, Erik Sianipar yakni keluarga dari Salamat Sianipar mengaku tidak ada maksud untuk melakukan penganiayaan. Tetapi ingin mengamankan saudaranya tersebut. Sebab, kondisi Selamat Sianipar positif Covid-19.

“Dengan menggunakan kayu dan bambu sebagai upaya menjaga jarak agat tidak tertular Covid-19 cara saya bersama warga untuk mengamankan Selamat Sianipar,” ujarnya.

Polres Toba saat ini menangani kasus tersebut. Kasubbag Humas Polres Toba, Iptu Bungaran Samosir menjelaskan, peristiwa penganiayaan dipicu kemarahan warga karena ulah Salamat.

Bungaran menjelaskan, kronologi kejadian berawal saat pasien dinyatakan positif terpapar Covid-19 berdasarkan hasil tes swab antigen pada Rabu (21/7/2021) di Klinik IT DEL Laguboti Toba. Lalu, Salamat isolasi mandiri di sebuah gubuk tanpa penerangan listrik di desanya.

Sekitar pukul 17.00 WIB di hari yang sama, pasien keluar dari tempat isolasi mandiri. Dia datang ke rumahnya yang beralamat di Dusun III, Desa Pardomuan Silaen, Toba. Kondisinya saat itu depresi dan disebut ingin menularkan Covid-19 ke warga setempat.

“Pasien yang depresi meludahi tangannya serta ingin menyentuh masyarakat sekitar Desa Pardomuan agar ikut terpapar Covid-19. Masyarakat marah dan memukulnya dengan kayu hingga dia (pasien) melarikan diri ke hutan di seputaran Desa Pardomuan Silaen Toba,” katanya.

Jumat (23/7/2021), sekitar pukul 10.00 WIB, Salamat diamankan masyarakat setempat dari depan Gereja HKBP Desa Pardomuan Silaen Toba. Warga selanjutnya mengantarkan Salamat ke RS Porsea Toba. Namun, pasien malah kabur dari rumah sakit.

“Jumat 23 Juli 2021, sekitar pukul 18.00 WIB, pasien positif Covid-19 Selamat Sianipar melarikan diri dari Rumah Sakit Porsea Toba,” kata Bungaran.

BACA JUGA..  DPC Projo dan Masyarakat Datangi BPN Karo, Serahkan Bukti Dugaan Pelanggaran PT BUK

Pascakejadian tersebut, istri Salamat yakni Lisbet Sitorus resmi melapor ke polisi. Dia melaporkan pemukulan suaminya itu ke Polres Toba, Sabtu 24 Juli 2021.

Sementara itu, Bupati Toba Poltak Sitorus angkat suara mengenai video dugaan penganiayaan terhadap Salamat. Dia menilai, bukan dianiaya warga melainkan diamankan karena melarikan diri saat menjalani isolasi mandiri (isoman).

“Bukan untuk kekerasan, hanya mengamankan. Saya lihat masyarakat desa juga sangat peduli dengan Pak Selamat Sianipar ini,” kata Poltak Sitorus.

Poltak mengatakan, dia sudah menemui keluarga korban pascakejadian tersebut. Saat ini korban sudah sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Porsea. “Beliau sudah kami rawat di RSUD Porsea,” ujarnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Junimart Girsang menegur keras Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Covid-19 yang juga Bupati Kabupaten Toba Poltak Sitorus, sebagai pihak yang harus dipersalahkan dan bertanggungjawab, atas video viral penganiayaan Salamat.

“Kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi apabila Kasatgas Covid-19 Kabupaten Toba dan perangkatnya menjalankan perintah Presiden dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri), tentang penanganan Covid-19 dan penerapan cara penanganan masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19,” kata Junimart melalui keterangannya di Jakarta, Minggu (25/7/2021).

Menurut Anggota DPR tersebut, tidak ada alasan bagi Satgas Covid-19 daerah untuk menelantarkan pasien Covid-19. Sekalipun pasien yang ditetapkan menjalani isolasi mandiri (Isoman), harus tetap mendapatkan pemantauan.

“Apa yang terjadi di Toba ini, berdasarkan informasi yang beredar jelas kesannya pasien tersebut telah diterlantarkan. Karena tidak ada pemantauan yang diberikan kepadanya. Mengapa hal itu sampai terjadi? karena toh anggarannya ada untuk itu diberikan pemerintah,” ucapnya.

BACA JUGA..  Badan Intelijen Sumut dan Pemkab Deliserdang akan Vaksinasi 5.500 Pelajar

Senada, juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito mengaku miris melihat kejadian tersebut.

“Miris melihat kejadian seperti ini yang sebenarnya dapat diantisipasi,” kata Wiku kepada wartawan, Minggu (25/7/2021).

Wiku menerangkan, pemerintahan di tingkat desa atau kelurahan semestinya menggencarkan lagi perihal informasi seputar virus COVID-19. Informasi itu, menurut Wiku, bukan hanya terkait virusnya, tetapi juga bagaimana menghadapi orang di sekitar yang sedang terpapar virus COVID-19.

“Dari kejadian ini, kita dapat belajar bahwa pemerintah desa/kelurahan setempat perlu mengintensifkan kembali informasi seputar COVID-19, bukan hanya soal virusnya namun lebih informasi yang praktikal seperti bagaimana cara menghadapi orang di sekitar kita yang positif COVID-19,” ujarnya.

Wiku mengatakan langkah selanjutnya adalah memastikan tempat isolasi yang nyaman untuk mereka yang terpapar Corona.

Menurut Wiku, pemerintah desa harus mengupayakan tempat isolasi yang sudah terintegrasi oleh pemerintah pusat atau bisa saja memilih isolasi mandiri, namun tetap dalam pengawasan puskesmas setempat.

“Pembelajaran kedua ialah untuk kasus positif yang penanganan lanjutannya ialah isolasi maka utamakan memilih upaya isolasi terpusat, jika fasilitas tidak memungkinkan maka opsi isolasi mandiri di rumah dapat dipilih dengan catatan langsung melaporkan kepada RT dan berkoordinasi dengan puskesmas setempat,” katanya.

Wiku berharap kejadian yang terjadi di Toba ini merupakan kejadian untuk terakhir kalinya. Wiku meminta masyarakat mematuhi protokol COVID-19.

“Saya berharap ini adalah kejadian terakhir yang mampu dijadikan pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak mudah menghakimi serta menyadari bahwa lawan yang sebenarnya ialah virus bukan penderitanya maka cara terbaik untuk melindungi diri sendiri bahkan orang lain ialah mematuhi protokol kesehatan secara kolektif,” imbuhnya.(bbs/ras)

EPAPER