> dr Bulan Simanungkalit: Proses Tender Itu Diluar Ranah Saya Sebagai Pengguna Anggaran
SERDANGBEDAGAI – Berbagai dugaan kecurangan dan permainan proyek gedung instalasi farmasi Dinas Kesehatan Pemkab Serdangbedagai ber budjed Rp 3,9 Miliar, terkuak. Proses tender hingga penentuan pemenang, diduga sudah diatur oleh Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULP) setempat.
Diketahui pemenang tender proyek bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat, adalah CV Matio New Generation Corporation. Seperti berita Posmetro Medan edisi sebelumnya, diketahui peserta tender terdapat 16 perusahaan.
Indikasi itu terkuak ketika wawancara wartawan Posmetro Medan dengan Kadis Kesehatan Sergai, dr Bulan Simanungkalit di kantornya, Selasa (27/8).
Kepada Posmetro Medan, dr Bulan Simanungkalit mengatakan dirinya hanya mengusulkan ke Menteri Kesehatan RI.
“Tugas saya hanya bermohon kepada Menteri Kesehatan RI agar Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan gedung farmasi diberikan ke Pemkab Sergai dengan segala prosedurnya. Tentang penempatan pembangunan gedung itu di lokasi taman, itu bukan wewenang saya karena saya sudah lapor ke pimpinan dan mereka yang menentukan lokasi itu,” ujarnya.
Salahseorang warga Sergai berinisial AP (45), dengan jelas memprotes pembangunan gedung farmasi itu. Dia mengatakan kepada wartawan Posmetro Medan, bahwa pemenang lelang CV Matio New Generation Corporation dapat diduga sudah diarahkan oleh oknum pejabat Pemkab Sergai.
Hal itu bisa dilihat dari kejanggalan proses lelangnya, khususnya ketika pemasukan harga penawaran dan penentuan pemenang lelang.
“Dibalik perusahaan itu ada oknum mafia proyek yang diduga berinisial AL warga Kampung Pon. Dari kebiasaan yang selama ini AL kerap mengerjakan proyek di Dinas Kesehatan dan ini sudah menjadi rahasia umum,” bebernya.
Ketika komentar warga tersebut dipertanyakan wartawan kepada dr Bulan Simanungkalit, beliau menjawab tidak mengetahui hal itu.
“Saya tidak tahu tentang itu. Siapa itu AL, tentang bagaimana dan siapa pemenang lelangnya itu bukan kapasitas saya. Saya tidak pernah mengarahkan pemenang tendernya karena proses lelang itu dibagian ULP atau LPSE gitulah. Mereka yang memproses lelang proyek itu. Kalaupun ada dugaan permainan coba tanyakan ke mereka. Bahwa proses tender itu diluar ranah saya sebagai pengguna anggaran,” tambah dr Bulan
Simanungkalit kepada Posmetro Medan.
Lebih lanjut dr Bulan Simanungkalit mengaku dirinya sudah sangat lelah dengan issu soal gedung instalasi farmasi itu.
“Saya sangat terganggu dengan issu ini dan ingin rasanya saya mengundurkan diri, karena tidak mampu saya memikirkannya. Bisa gila saya kalau terus ditekan begini,” ucapnya menutup pembicaraan.
Di lokasi terpisah, wartawan Posmetro Medan juga mewawancarai seorang tokoh masyarakat AR (40). Dari beliau wartawan mendapatkan keterangan bahwa proses pengerjaan gedung farmasi masih dalam tahapan pembangunan pondasi.
“Saya melihat ke dalam lokasi waktu mereka mulai bekerja pada jam 5 sore, cuma ada 3 orang yang bekerja. 1 operator alat kren sabagai pemukul pasak bumi dan 2 karnetnya. Alatnya juga sangat primitif, mesinnya saja dompeng dan kualitas paku buminya juga kurang baik, karena ada 6 unit paku bumi yang pecah ketika dipukul oleh alat pemukul,” bebernya.
Masih AR, katanya, “Nilai proyeknya 4 miliar berasal dari dana pusat, seharusnya standar pekerjaannya nasional bukan primitif. Coba lihat bangunan di sekitar lokasi ini dindingnya retak. Harusnya sebelum ditempatkan di lokasi ini, diperhitungkan dulu dampaknya. Belum lagi cerita tentang taman yang dibongkar, mungkin belum genap 3 tahun taman ini dibangun oleh dinas PUPR, sekitar hampir 200 juta dana pembangunannya. Saya fikir pembangunan gedung farmasi ini tidak ada urgensinya dan kesannya hanya menggunakan uang negara untuk kepentingan memperkaya dirisendiri. Lihat saja nanti pasti bermasalah. Jika merugikan negara, kami masyarakat Sergai akan melaporkan hal ini ke aparat hukum,” pungkasnya. (sal/tob)












