Belum Berhenti, Trump Ancam “Ambil Alih” Kuba

oleh
Trump mengancam akan "mengambil alih" Kuba.(ILUSTRASI/POSMETRO MEDAN)

POSMETRO MEDAN-Ketegangan global kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial terkait Kuba.

Di tengah krisis energi yang melumpuhkan negara Karibia tersebut, Trump secara terbuka menyatakan ambisinya untuk “mengambil alih” Kuba—sebuah retorika yang memicu kekhawatiran baru akan eskalasi konflik geopolitik.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (16/3) di Gedung Putih. Dengan nada percaya diri, ia menegaskan bahwa Kuba saat ini berada dalam posisi yang sangat lemah.

“Saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya,” ujar Trump, menegaskan kemungkinan intervensi lebih jauh terhadap negara yang telah lama menjadi rival ideologis Amerika Serikat.

Krisis Energi yang Melumpuhkan

Di saat yang sama, Kuba tengah menghadapi krisis listrik nasional yang semakin parah. Sistem pembangkit listrik yang menua, ditambah minimnya pasokan bahan bakar, menyebabkan pemadaman hingga 20 jam per hari di sejumlah wilayah.

BACA JUGA..  Terima Dubes Australia, Bobby Nasution Harapkan Kerja Sama dengan Sumut Semakin Luas

Kondisi ini diperburuk oleh terhentinya impor minyak sejak awal Januari, yang berdampak luas pada sektor transportasi, kesehatan, hingga pariwisata.

Krisis ini tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga memicu ketidakpuasan sosial. Aksi protes mulai bermunculan, dengan warga turun ke jalan sambil memukul panci dan wajan serta meneriakkan tuntutan kebebasan.

Pemerintah Kuba sendiri mengakui adanya tekanan besar dari masyarakat, meski tetap menyerukan ketenangan.

Tekanan Politik dan Ekonomi dari Washington

Langkah Washington mempertahankan blokade minyak terhadap Kuba dinilai sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal. Setelah sebelumnya menggulingkan sekutu utama Kuba, Venezuela, posisi Havana kini semakin terisolasi.

BACA JUGA..  Kapal Pengangkut 37 Migran Asal Indonesia Tenggelam, 14 Orang Hilang

Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai respons terhadap “ancaman luar biasa” dari Kuba—klaim yang dipandang banyak pihak sebagai dalih untuk memperluas pengaruh AS di kawasan.

Di tengah tekanan ini, Kuba mulai membuka diri. Pemerintah mengizinkan diaspora Kuba untuk berinvestasi di tanah air, bahkan membuka peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika.

Langkah ini dinilai sebagai upaya bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin mencekik.

Retorika Lama, Risiko Baru

Pernyataan Trump mengingatkan dunia pada sejarah panjang ketegangan AS-Kuba sejak era Perang Dingin.

Namun, berbeda dengan masa lalu, situasi saat ini terjadi di tengah dinamika global yang lebih kompleks—dengan konflik di Timur Tengah dan ketegangan kekuatan besar lainnya.

BACA JUGA..  Sempat Dihujat dan Diminta Dicopot, Kapolres Binjai Kini Dipuji Usai Pelaku Begal Cepat Ditangkap

Rencana atau bahkan sekadar retorika “pengambilalihan” Kuba berpotensi memicu reaksi keras dari komunitas internasional.

Selain itu, langkah tersebut dapat memperburuk stabilitas kawasan Amerika Latin yang selama ini relatif sensitif terhadap intervensi asing.

Menuju Kesepakatan atau Konfrontasi?

Meski bernada agresif, Trump juga membuka peluang negosiasi.

Ia menyebut Kuba “ingin membuat kesepakatan” dan mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kompromi dalam waktu dekat.

Namun, di balik peluang diplomasi tersebut, ancaman tetap menggantung.

Dunia kini menunggu apakah krisis ini akan berujung pada meja perundingan—atau justru membuka babak baru konfrontasi antara Washington dan Havana.

Yang jelas, Kuba kini berada di titik kritis: di antara tekanan ekonomi, gejolak domestik, dan bayang-bayang intervensi kekuatan besar.(*)

SUMBER: CNN Indonesia

EDITOR: Sahala Sianturi