BRI dan Dewan Pers Gelar Workshop Jurnalisme Perbankan di Era Transformasi

oleh
Wakil Ketua Dewan Pers, Muhammad Agung Dharmajaya (kemeja biru muda) diabadikan bersama pengurus Dewan Pers lainnya usai acara, Jumat (7/10/2022).(ALI AMRIZAL/PosmetroMedan.com)

PosmetroMedan.com – Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Dewan Pers menggelar workshop jurnalisme perbankan kepada wartawan media cetak, elektronik dan siber di Hotel Grand Mercure Medan, Jumat (7/10).

Acara bertema “BRI Media Engagement Forum, Jurnalisme Perbankan di Era Transformasi” ini untuk memberikan pemahaman mendalam terkait perbankan di kalangan jurnalis, diikuti 63 wartawan ekonomi yang medianya telah terverifikasi Dewan Pers.

Kegiatan itu turut dihadiri Regional CEO BRI Kanwil Medan Budhi Novianto, menghadirkan tiga pembicara yakni M. Agung Darmajaya (Wakil Ketua Dewan Pers), Totok Suryanto (Anggota Dewan Pers/Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri) dan Titis Nurdiana (Wakil Pemimpin Redaksi media ekonomi Kontan).

Budhi Novianto dalam pemaparannya mengatakan, dalam hal perkembangan ekonomi saat ini, pers berperan memenuhi hak-hak masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh informasi secara umum kepada masyarakat, sebagai upaya mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka.

BACA JUGA..  Healthcare Expo 2026 di Medan Resmi Ditutup, IHH Healthcare Malaysia Terus Perluas Kehadiran di Indonesia

“Dewasa ini di tengah gempuran dunia digital yang mengubah gaya hidup dan proses bisnis, hal ini mendorong industri perbankan terus berinovasi memenuhi tuntukan masyarakat dan nasabah, maka kami hadirkan aplikasi digital BRImo yang mampu memenuhi aktivitas finansial bagi nasabah,” ujar Budhi.

Pembicara Titis Nurdiana, Wapemred media ekonomi Kontan, mengatakan membuat berita perbankan harus dengan data yang akurat.

Pasalnya, berita tanpa data bisa berakibat bank menjadi rush atau nasabah menarik dananya ramai-ramai dari bank tersebut yang gilirannya ekonomi menjadi terganggu.

“Berita tanpa data bisa berakibat bank menjadi rush atau nasabah menarik dananya ramai-ramai dari bank tersebut yang gilirannya ekonomi menjadi terganggu,” ujarnya.

Terkait adanya berita negatif terkait suatu perusahaan perbankan, maka wartawan diwajibkan melaksanakan investigasi dengan mengkonfirmasi serta verifikasi kepada narasumber.

BACA JUGA..  Hampir Sentuh 70.000 Pengguna, Polytron Optimis Sambut Ajang GIIAS 2026 dengan Respon Positif

Sementara itu, anggota Dewan Pers/Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Totok Suprapto mengatakan tugas Dewan Pers menegakkan martabat. Modal pers itu profesional dan trust (kepercayaan).

“Kalau mau konfirmasi, bekerjalah secara profesional dan beretika,” kata Totok.

Menurut Totok, media juga harus profesional dan dipegang oleh orang-orang yang profesional juga.

“Kode etik itu cuma satu, hati nurani,” ujar Totok yang juga Wapemred TvOne ini.

Wakil Ketua Dewan Pers, M. Agung Dharmajaya saat menyampaikan materi “Engagement Pemberitaan di Era Konvergensi Media” mengatakan, berita yang benar itu dalam prosesnya harus jelas.

Dimulai dari proses mengolah berita sampai ditayangkan sehingga hasilnya benar-benar akurat. Beda dengan informasi yang didapat dari media sosial.

BACA JUGA..  JAECOO Pertahankan Posisi Sebagai SUV Terlaris di Indonesia

“Informasi bisa salah, bisa bohong. Tapi berita tidak boleh salah,” ungkap Agung.

Seperti sekarang banyak berita yang bulat -bulat dari Humas, tanpa mengedit atau mengkonfirmasi lagi.

“Hasilnya hampir semua media, khususnya online menyajikan dalam bentuk yang sama, baik isi bahkan lead sekalipun,” kata Agung.

“Hanya dibolak balik aja. Dari atas ke bawah atau sebaliknya. Tak ada banyak perubahan,” sambungnya.

Mungkin beda dengan media cetak yang masih longgar waktunya sehingga bisa konfirmasi atau paling tidak agak beda.

“Itupun terkadang masih sama kecuali melakukan investigasi khusus,” terang Agung yang juga Ketua Dewan Pakar JMSI Pusat ini.

Kegiatan ini berakhir dengan pemberian cenderamata dan foto bersama kepada media yang hadir.(*)

REPORTER: Ali Amrizal

EDITOR: Mangampu Sormin