Kapolrestabes Medan Disebut Belikan Babinsa Motor Pakai Uang Suap

oleh -274 views
Kombes Pol Riko Sunarko.(ISTIMEWA/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Sidang perkara pencurian uang hasil penggeledahan kasus narkoba di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (11/1/2022), menguak hal yang sangat besar dan mengejutkan publik.

Bagaimana tidak! Selain menguak bagi-bagi kepada beberapa petinggi Satres Narkoba Polrestabes Medan, terdakwa juga mengungkap kebenaran sebagian uang dialirkan untuk membayar satu unit sepedamotor.

Dimana, sepedamotor dimaksud merupakan apresiasi yang diberikan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko kepada Babinsa Koramil Tembung, Peltu Eliyaser Sitorus karena mengungkap kasus peredaran ganja.

Saat sidang berlangsung, penasihat hukum terdakwa Bripka Ricardo Siahaan, HM Rusdi bertanya soal uang suap yang mengalir ke sejumlah pejabat di Polrestabes Medan.

Dalam sidang itu dijelaskan, dari Rp 300 juta uang suap yang katanya berasal dari Imayanti, istri terduga bandar narkoba bernama Jusuf alias Jus, sudah dibagi-bagikan ke pejabat Polrestabes Medan.

“Terkait uang hasil tangkap lepas Rp 300 juta telah dibagikan? Kasat Kompol Oloan Siahaan diduga menerima Rp 150 juta, Kanit AKP Paul Edison Simamora menerima Rp 40 juta dan tidak ada disita oleh personil Paminal Mabes Polri. Benarkah itu?,” tanya Penasehat Hukum (PH) terdakwa HM Rusdi.

BACA JUGA..  Polisi Gerebek Penampungan TKI Ilegal, 12 Orang Diamankan

Menjawab pertanyaan itu, Ricardo Siahaan memberi jawaban lugas dan tegas.

“Betul, itu kita ketahui saat sidang kode etik di Propam Polda,” cetus Ricardo.

Lalu, kuasa hukum terdakwa kemudian menyentil Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang belum dan tidak mampu menghadirkan AKP Paul Simamora dan Kompol Oloan Siahaan.

“Sayang, Kanit dan Kasat mau kita bongkar, tapi tidak dapat dihadirkan,” cetus pengacara terdakwa.

Tidak hanya itu, Ricardo juga membeberkan bahwa Personel Paminal Mabes Polri menyita uang dari anggota dan diserahkan kepada pihak Propam Poldasu, yang mana sejumlah penyidik disebut-sebut turut menerima.

“Aiptu Dekora Siregar Penyidik Pembantu menerima Rp 5 juta, Aipda Nani Mulyani Penyidik Pembantu menerima Rp 5 juta. Bripka Rudi Saputra Penyidik Pembantu menerima Rp 5 juta,” beber Ricardo.

“Dari Panit Iptu Toto Hartono sejumlah Rp 15 juta, Katim Aiptu Dudi Efni sejumlah Rp 5 juta, Aipda Matredy Naibaho sejumlah Rp 3 juta. Ricardo Siahaan sendiri menerima Rp 3 juta, Briptu Marzuki Ritonga sejumlah Rp 3 juta, benarkah itu,” tanya PH terdakwa.

BACA JUGA..  Ratusan Warga Tuntut Transparansi Pengangkatan Kepling di Medan Denai

Ricardo pun membenarkan hal tersebut seluruhnya.

“Benar sekali pak,” cetusnya.

Selain itu, pengacara terdakwa juga menanyakan apakah benar menurut pengakuan Kompol Oloan Siahaan, atas perintah Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko, sisa uang suap Rp 75 juta telah digunakan untuk membayar press rilis, Wasrik dan pembelian satu unit sepeda motor kepada anggota Koramil 13 Percut Seituan atas nama Peltu Eliyaser.

Peltu Eliyaser Sitorus yang mendapat hadiah sepeda motor dari Kapolrestabes Medan.(ISTIMEWA/POSMETRO MEDAN)

“Iya, betul sekali pak (uang dipakai untuk bayar press rilis, Wasrik dan beli motor hadiah Babinsa),” kata Ricardo Siahaan.

Bahkan, Ricardo Siahaan mengaku mengeluarkan uang Rp 500 juta untuk uang damai.

“Uangnya dikembalikan kepada pihak Mabes pak. Adalagi kita keluar sebesar Rp 500 juta, kepada saudara Imayanti untuk uang perdamaian,” ucapnya.

Lantas, ketika dicecar terkait pil ekstasi yang didapat di dalam tasnya, Ricardo Siahaan bilang itu hasil pembelian dari pengedar dalam kegiatan under cover buy.

“Waktu itu saya beli Rp 150 ribu yang mulia. Saya dapat dari Doger warga S Parman, Gang Pasir atas hasil pancing beli yang mulia,” katanya.

BACA JUGA..  Dua Mantan Polisi Polres Tanjungbalai Dituntut Hukuman Mati

Menjawab pertanyaan Majelis Hakim, Ricardo katakan sebagai polisi dirinya berwenang untuk menyimpan hasil pancing beli tersebut selama masih berlaku surat tugas.

Ia mengatakan kalau 1 butir ekstasi hasil pancing beli tersebut tak diserahkan ke kantornya dikarenakan banyaknya kegiatannya.

“Karena masih banyak kegiatan, makanya belum diantar ke kantor yang mulia,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan kenapa dirinya tak langsung menangkap Doger.

“Karena kita akan membeli 1.000 butir tiga hari kemudian yang mulia. Ijin yang mulia, saya pernah pancing beli 1 kg sabu tidak saya tangkap yang mulia, setelah kita beli 15 kg baru ditangkap yang mulia,” terangnya.

Ketika ditanya Majelis Hakim apakah perbuatannya salah atau tidak, Ricardo tampak tersenyum.

“Dikatakan salah gak juga, dikatakan benar gak juga, karena kita polisi narkoba punya wewenang yang mulia,” ketusnya.(*)

 

REPORTER: Oki Budiman

EDITOR: Hiras Situmeang

 

EPAPER