Pembangunan Jembatan Ngkeran-Pedesi Diduga Tanpa Perencanaan Matang

oleh
Jembatan yang menghubungkan Ngkeran-Pedesi belum rampung dikerjakan meski telah dimulai sejak sekitar tahun 2016 silam. (Ist/posmetro)

POSMETROMEDAN.com – Pembangunan jembatan Ngkeran-Pedesi yang mangkrak lebih dari empat tahun dinilai tanpa perencanaan yang matang.

Lambatnya penyelesaian pengerjaan jembatan hingga luas lahan yang diperuntukkan bagi lokasi pembangunan jembatan mengindikasikan perencanaan asal jadi.

Warga Kecamatan Lawe Alas, Rahmat mengatakan pembuatan jembatan yang akan menghubungkan Desa Ngkeran, Kecamatan Lawe Alas dengan Desa Pedesi Kecamatan Bambel telah dimulai sejak era Hasanudin-Ali Basrah menjabat Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tenggara.

Namun hingga kini, bahkan meski pemerintahan Raidin Pinim-Bukhari akan segera berakhir, jembatan tersebut belum juga selesai dikerjakan.

“Biasanya kalau kayak ini lamanya pengerjaan pembangunan jembatan, perlu dipertanyakan perencanaan yang telah disusun sejak awal,” kata Rahmat heran. Sebab sepengetahuannya untuk pengerjaan sebuah jembatan, waktu satu tahun sudah yang paling lama.

BACA JUGA..  Minta Dukungan Pemuda, Rizky Yunanda Sitepu Pastikan Maju di Pilkada Langkat

Selain itu, Rahmat juga mempertanyakan luas lahan 6.200-an meter per segi yang direncanakan sebagai lokasi pembangunan jembatan di Desa Pedesi Kecamatan Bambel. Jumlah lahan yang direncanakan tergolong terlalu luas. Mengingat untuk pembangunan sebuah jembatan, untuk pembuatan oprit jembatan umumnya hanya membutuhkan lahan seluas 15 meter ditambah areal yang akan dilewati oleh jembatan rangka baja.

“Kalau kita lihat peta lahan yang akan diperuntukkan sebagai lokasi pembangunan jembatan mencapai 6.200-an meter per segi ini untuk apa. Apalagi bentang lahan yang akan dijadikan lokasi pendirian jembatan dalam kondisi melebar,” tambah Rahmat yang mengaku pernah beberapa kali ikut dalam pembangunan jembatan dan jalan di Aceh pada wartawan media ini.

Bila memperhatikan denah lahan yang diperuntukkan sebagai lokasi pembangunan jembatan Ngkeran-Pedesi yang diterima wartawan media ini, luas lahan per seginya tidak simetris. Sebab terdapat sisi yang memiliki panjang hingga 62 meter, 71 meter, 44 meter hingga terdapat sisi yang hanya memiliki panjang 10 meter saja.

BACA JUGA..  Petani dan Pensiunan di Tapsel Kompak Pilih Pemimpin yang Berintegritas

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan jembatan tersebut dimulai sejak tahun 2016 lalu. Anggaran yang telah dialokasikan sebesar Rp17,5 miliar dan tender proyek dimenangkan oleh PT NKN.

“Setahu saya pembangunan jembatan ini sudah lebih empat tahun tapi sampai sekarang belum selesai. Kami sangat berharap jembatan ini segera bisa digunakan karena sangat bermanfaat bagi kami untuk sampai ke kota Kutacane, waktu tempuh jadi lebih cepat,” kata Hendra, seorang warga setempat, yang ditemui di atas jembatan yang belum selesai itu.

BACA JUGA..  Proyek TPT 2023 Desa Bahagia Diduga Tumpang Tindih dan Asal Jadi

Apabila jembatan teraebut rampung, akan memudahkan mobilitas warga dari berbagai desa dan kecamatan menuju Kota Kutacane. Seperti akses masyarakat Kecamatan Lawe Alas, Tanoh Alas, dan Babul Rahmah dapat lebih mudah menuju ibukota Aceh Tenggara untuk berbagai aktivitas. Selama ini, masyarakat hanya memiliki dua akses yakni melalui Pantai Dona dan Mbarung. Sehingga waktu tempuh yang dibutuhkan menuju kota lebih lama.

Sementara itu, berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, pembangunan jembatan telah hampir rampung setengah. Khususnya fisik jembatan dari arah Ngkeran, Kecamatan Lawe Alas. Sedangkan setengah fisik jembatan dari arah Desa Pedesi Kecamatan Bambel hingga kini belum tampak pengerjaan fisik jembatan. Walau oprit jembatan telah dibangun sebagiannya. (tob/red)