Dari Jateng Sepasang Orang Utan Sumatera dikirim ke Langkat

oleh -146 views

EPAPER

POSMETROMEDAN.COM Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Tengah mengirimkan sepasang Orang Utan Sumatera kepada BBKSDA Sumatera Utara, Sabtu (10/4/2021).

Sepasang Orang Utan yang diberi nama Asto berjenis kelamin jantan, dan Asih berjenis kelamin betina itu, hasil penyerahan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Tengah (Jateng), dan selanjutnya diserahkan kepada pihak BBKSDA Sumut.

Setibanya di Bandara Internasional Kuala Namu, Deli Serdang, sekira pukul 17.30 WIB, sepasang Orang Utan tersebut langsung di evakuasi menuju pusat rehabilitasi Orang Utan dan hewan primata lainnya yang berada di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat.

BACA JUGA..  Hari Kelima Pos PAM Sei Ular, 42 Kendaraan Diputar Balik
Sepasang Orang Utan tiba di Bandara Internasional Kuala Namu

Demikian yang disampaikan Teguh Setiawan Humas BBKSDA Sumut mewakili Kepala BBKSDA Dr. Ir. Hotmauli Sianturi kepada awak media, Jum’at (16/4/2021).

“Menggunakan jalur udara, Sabtu 10 April 2021, sekira pukul 17.30 Wib, sepasang Orang Utan tiba di Bandara Internasional Kuala Namu, Deli Serdang,” ujar Teguh Setiawan.

Sebelum dilepas ke habitat aslinya, sepasang Orang Utan itu terlebih dahulu di evakuasi menuju pusat rehabilitasi dan karantina yang dikelola mitra BBKSDA Sumut.

BACA JUGA..  Polda Turunkan PJU Pantau Larangan Mudik, Kapoldasu : Pastikan Wilayah Kondusif

“Yakni Yayasan Orang Utan Sumatera Lestari – Orang Utan Information Center (YOSL-OIC) yang berada di Langkat, terangnya.

Sebelum dikirim dari Jateng, proses pemindahan Orang Utan sudah melalui berbagai tes kesehatan, termasuk penyakit Elisa Rabies dan Covid -19.

Selanjutnya, Tegu menerangkan, Orang Utan merupakan salah satu satwa liar yang terancam punah dan dilindungi, hal itu tertuang dalam Undang Undang (UU) No. 5 Tahun 1990, tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

BACA JUGA..  Nias Barat Diguncang Gempa Manitudo 7,2

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan, berdasarkan Pasal 21 ayat 2 huruf a Jo, UU No. 5 Tahun 1990, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan menjual belikan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati.

“Apabila dilanggar, sanksi pidananya adalah penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp. 100.000.000,”pungkas Teguh Setiawan.(yan)

EPAPER