Kisah Pilu Anak-anak Buruh Cuci; Nunggak Uang Sekolah, Tak Punya HP untuk Belajar

oleh -86 views
KETERANGAN: Ibu Salsabila, Yenni Susanti memberikan keterangan kepada wartawan.(IST/POSMETRO MEDAN)

POSMETROMEDAN.com – Seorang siswi kelas 2 SD Negeri 060791 Medan, Salsabila mengalami kisah pilu. Sejak mewabahnya covid-19, siswi malang itu tidak bisa belajar karena tidak memiliki smartphone. Maklum, ibunya hanya seorang buruh cuci dan ayahnya sehari-hari menarik becak.

Kisah ini diungkapkan orangtua Salsabila, Yenni Susanti (35) kepada wartawan, Kamis (15/10/20). Kondisi ini sebenarnya sudah diberitahui kepada wali kelas Salsabila saat pembagian raport, beberapa waktu lalu.

“Pandai-pandai ibulah,” kata Yenni menirukan perkataan sang wali kelas.

Yenni mengaku hanya bisa mengajari Salsabila baca tulis seadanya. Itupun kalau dia tidak lelah pulang berjualan.

BACA JUGA..  OPS ZEBRA 2020: Hari Pertama 338 Tilang Dikeluarkan

“Aku kan nyuci gosok Pak. Sorenya, jualan keripik dan jangek. Kalau sempat, malamnya kuajari dia baca tulis. Cuma itulah, Pak,” ungkapnya.

Menurut Yenni, sejak Maret hingga sekarang tak pernah gurunya datang ke rumah berkunjung atau sekadar memberi tugas.

Sehingga, aktivitas Salsabila hanya bermain dan nonton televisi di rumah. Sasabila juga sering ikut menemani ibunya berjualan keripik dan jangek.

Nasib Salsabila agak berbeda dengan kakaknya, Silvia Maharani (11), siswa kelas 5 di SD swasta di Tembung. Silvia masih mengikuti pembelajaran dengan mengunjungi rumah gurunya tiga kali semingggu.

BACA JUGA..  Pemko medan Gencar Sosialisasikan Perwal No 27/2020

Ia belajar setiap Selasa, Kamis dan Sabtu mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Meskipun Silvia menunggak uang sekolahnya sejak kelas 4 hingga kelas 5 SD.

“Gurunya udah bolak-balik datang ke rumah, nagih. Tapi dia masih bermurah hati. Kami janjikan, nanti kalau ada duit, kami cicil,” pungkas Yenni.

Sejak pandemi ini, kegiatan belajar-mengajar di kelas ditiadakan dan diganti dengan metode belajar dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). Pembelajaran daring dilakukan dengan menggunakan android.

Sementara luring dilakukan dalam bentuk pemberian modul belajar oleh sekolah kepada siswa-siswi yang bisa diambil setiap pekan.

BACA JUGA..  Perda Sistem Kesehatan Kota Medan Belum Tersosialisasi Dengan Baik

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Adlan, mengatakan bahwa pihaknya akan menelusuri keluhan Yenni.

“Saya sudah perintahkan kepala seksi kurikulum SD untuk melakukan pengecekan apakah benar ada demikian atau tidak,” kata Adlan ketika dikonfirmasi.

Adlan menegaskan bahwa ada dua metode pembelajaran selama pandemi Covid-19. Pertama melalui daring (dalam jaringan) atau pembelajaran online dengan bantuan perangkat handphone. Kedua, pembelajaran luring (luar jaringan).

“Kalau luring pihak sekolah memberikan modul pembelajaran kepada siswanya, bisa diambil setiap minggu di sekolah. Begitupun kita cek informasinya,” tandasnya.(fmc)