Proyek P3-TGAI Dikuasai Pihak Ketiga, Kelompok Tani di Kecamatan Lawe Bulan Dijadikan Tumbal

oleh
Sejumlah elemen masyarakat melakukan cek lapangan pekerjaan Proyek P3TGAI di Desa Kutambaru Bencawan, Kecamatan Lawe Bulan, yang dikuasai oleh pihak ketiga, Rabu (26/7/2023). (Safrizal/Posmetromedan.com)

Posmetromedan.com – Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara (Kejari Agara) hingga saat ini belum melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang tersebar di beberapa kecamatan, khususnya di Desa Kutambaru Bencawan, Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek yang sumber anggarannya berasal dari dana aspirasi DPR RI Dapil 1 Aceh mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Proyek fisik seperti pembuatan tanggul air dan sejenisnya itu seharusnya dikelola dan dikerjakan kelompok tani yang berada di desa setempat.

Tapi fakta di lapangan berbeda. Pihak yang mengelola dan mengerjakan proyek yang pagu anggarannya setiap titik bernilai ratusan juta itu adalah pihak ketiga. Sementara kelompok tani hanya dimanfaatkan untuk kelengkapan administrasi pekerjaan, rekening bank hingga pencairan dana.

Parahnya lagi, setelah dana proyek masuk ke rekening atas nama kelompok tani, pihak ketiga sebagai pengelola proyek langsung meminta ketua kelompok tani mencairkan dana. Setiap pencairan anggaran, dana proyek langsung dikuasi pihak ketiga. Sementara kelompok tani hanya mendapat upah administrasi saja.

BACA JUGA..  Ratusan Warga Pancurbatu Minta Keadilan ke Jokowi

Dugaan korupsi pelaksanaan proyek yang dikuasai pihak ketiga pun mencuat. Pihak ketiga disyaki hanya mengambil keuntungan pribadi.

Melihat fakta di lapangan dimana hampir semua titik pekerjaan proyek P3-TGAI yang tersebar dibeberapa desa dan kecamatan di Aceh Tenggara, dikuasai pihak ketika, berbagai elemen masyarakat meminta pihak Kejari Agara segera melakukan penyelidikan.

Posmetromedan.com yang berkesempatan wawancara langsung dengan Rasiban selaku Ketua Kelompok Tani Arih Mejile di Desa Kutambaru Bencawan, Kecamatan Lawe Bulan, pada hari Rabu (26/7/2023) kemarin mengatakan, bahwa pelaksana proyek di lapangan bukan mereka (kelompok tani).

“Bukan kami (Kelompok Tani Arih Mejile) yang mengerjakan proyek. Yang mengerjakannya di lapangan adalah si Bawi dari pihak ketiga,” ujar Rasiban yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Kutambaru.

Dijelaskan Rasiban lagi, dirinya selaku Ketua Kelompok Tani Arih Mejile, diminta pihak ketiga (Bawi) menandatangani surat perjanjian sebelum proyek P3-TGAI dikerjakan. “Proyek harus dikerjakan bagus jangan asal-asalan. Jangan sampai ada masalah,” ujar Rasiban kepada Posmetromedan.com.

Lebih jauh Rasiban menjelaskan kelakuan Bawi, selaku penanggungjawab lapangan dari pihak ketiga.

BACA JUGA..  Sempat Kabur, Iptu Supriadi Diamankan Depan Gerbang Tol Lubuk Pakam

Dijelaskan, dana proyek ditransfer ke rekening kelompok tadi. Dan sudah 2 kali pencairan. Pada pencairan pertama Rp.87 juta, Bawi langsung menyuruh Rasiban untuk menarik (mencairkan) uangnya dari rekening. Setelah dicairkan, Rasiban langsung menyerahkannya kepada Bawi atas perintah pihak ketiga.

Hal yang sama juga pada pencairan tahap kedua. Tahap kedua dana proyek masuk ke rekening kelompok tani Rp.54 juta. Lagi-lagi Bawi meminta uang itu dari Rasiban.

“Dua kali pencairan semuanya kami serahkan kepada Bawi. Kami selaku ketua kelompok tani hanya diberikan 4 juta sebagai upah dalam administrasi,” ujar Rasiban panjang lebar, sembari meminta kepada Posmetromedan.com agar proyek yang dikerjakan atas nama kelompoknya tidak diberitakan.

“Tolonglah bang proyek P3-TGAI yang sedang dikerjakan di desa kami supaya jangan diberitakan,” harap Rasiban.

Melihat hancurnya proyek P3-TGAI di Aceh Tenggara, Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) M Saleh Selian mengaku sangat miris. Dia bilang, kondisi yang diciptakan pihak ketiga yang menguasai proyek-proyek P3-TGAI dapat mengantarkan pihak kelompok tani ke penjara.

“Kalau uang proyek itu saja sudah dikuasai pihak ketiga di luar kelompok tani, ini sangat bahaya. Pasti ini bisa menyebabkan proyek kualitas sangat diragukan,” kata M Saleh kepada  Posmetromedan.com, Kamis(27/7/2023).

BACA JUGA..  Edi Suranta alias Godol Sudah Diserahkan ke Kejari Lubuk Pakam

Proyek memang sudah dikondisikan untuk memperkaya pihak lain. Ini harus diturunkan tim Saber pungli dan PPATK serta Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara melalui Kasi Pidsus untuk telusuri aliran dana P3-TGAI tersebut, katanya.

Terbaru, hasil investigasi Posmetromedan.com tidak ada satupun plank proyek berdiri di setiap pekerjaan yang sedang dilakukan. Padahal, proyek ini banyak dikerjakan kelompok tani sebagai tameng yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Agara.

“Kita minta pihak Kejaksaan melalui Kasi Pidsus untuk segera diusut ini salah satu proyek yang bisa dikatakan bermasalah. Dan kalau nanti ditemukan permasalahan hukum, jangan hanya pihak kelompok tani saja yang dipersangkakan, tapi pihak ketiga yang saat ini dengan seenaknya mengambil uang proyek, harus diseret juga. Jadi kita berharap tim Tipikor Polres Agara segera melakukan penyelidikan awal dan turunlah ke lapangan,” ujar M Saleh Selian dengan tegas. (*)

Reporter: Safrizal
Editor: Maranatha Tobing