Derita Pengguna Air PDAM Tebingtinggi: Mulai Mati Saat Lebaran, Kini Keruh Berlumpur

oleh
Penampakan air PDAM Tirta Bulian Kota Tebingtinggi di salah satu rumah warga.(ISTIMEWA/POSMETRO MEDAN)

POSMETRO MEDAN — Belum reda kekecewaan warga akibat matinya distribusi air saat momentum Lebaran, kini pelanggan kembali dihadapkan pada persoalan baru: kualitas air yang dinilai jauh dari kata layak. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru berubah menyerupai “air comberan”, keruh dan bercampur lumpur.

Keluhan ini mengarah pada kinerja PDAM Tirta Bulian Kota Tebingtinggi, yang kembali menjadi sorotan publik. Warga dari berbagai wilayah melaporkan kondisi serupa.

Air yang keluar dari keran tidak hanya keruh, tetapi juga meninggalkan endapan lumpur di bak penampungan.

R Purba, warga Purnama Deli, Kelurahan Bulian, mengaku sudah hampir sebulan terakhir harus berjibaku dengan kondisi tersebut.

BACA JUGA..  Wakil Wali Kota Medan Tegaskan Pentingnya Soliditas Pemerintahan

“Setiap hari harus bersihkan bak. Lumpur terus masuk, terutama pagi hari. Air seperti ini jelas tidak layak dipakai,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Ironisnya, di tengah kualitas layanan yang menurun, kewajiban pembayaran tetap berjalan normal. Tidak ada keringanan, tidak ada kompensasi. Warga pun merasa seperti tidak memiliki pilihan lain.

Keluhan senada disampaikan Retno, warga Kelurahan Bandar Sono. Ia menilai masalah ini bukan hal baru, melainkan persoalan lama yang terus berulang tanpa solusi nyata.

“Dari dulu kualitasnya begitu-begitu saja. PDAM ini satu-satunya, tapi pelayanannya tidak pernah benar-benar membaik. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.

BACA JUGA..  Mayat Pria Misterius Gegerkan Warga Pantai Labu

Situasi ini menempatkan masyarakat pada posisi sulit: bergantung pada layanan yang bermasalah, tanpa alternatif sumber air bersih yang memadai.

Di sisi lain, pihak PDAM tidak menampik adanya persoalan. Plt Direktur PDAM Tirta Bulian, Roy Abdul Rahman, mengakui kualitas air distribusi memang belum maksimal. Ia menyebut salah satu penyebabnya adalah proses wash out(pembersihan pipa) yang belum dilakukan secara rutin.

Selain itu, aktivitas perbaikan pipa yang berdekatan dengan jaringan kabel bawah tanah milik PLN turut memperparah kondisi distribusi air.

“Permasalahan ini sedang kami tangani. Kami mohon pelanggan bersabar,” kata Roy.

Namun pernyataan tersebut belum cukup meredam kekecewaan warga. Pasalnya, persoalan air bersih bukan sekadar gangguan teknis, melainkan menyangkut kebutuhan dasar dan kesehatan masyarakat.

BACA JUGA..  Polresta Deli Serdang Renovasi Jembatan Presisi Merah Putih Kuala Sabah di Biru Biru

Rencana PDAM untuk menghadirkan layanan pengaduan online dinilai sebagai langkah awal, namun publik menuntut lebih dari sekadar kanal laporan.

Mereka menginginkan perbaikan nyata di lapangan, air yang jernih, layak pakai, dan pelayanan yang sebanding dengan biaya yang dibayarkan.

Kini, sorotan tertuju pada Pemerintah Kota dan DPRD Tebingtinggi. Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PDAM Tirta Bulian dianggap mendesak, sebelum kepercayaan masyarakat benar-benar habis.

Sebab bagi warga, air bukan sekadar layanan, melainkan hak dasar yang tak bisa ditawar.(bbs)

SUMBER: taktisco

EDITOR: Putra