POSMETRO MEDAN – Program pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS , ternyata menjadi masalah serius yang harus dihadapi Pemerintah Humbahas dan masyarakat.
Secara akumulatif tercatat 66 kasus HIV AIDS yang telah ditemukan di Kabupaten Humbahas sampai dengan September 2026. Dan, kelompok tertinggi didominasi laki-laki.
Hal itu disampaikan Kadis Kesehatan dan P2KB Humbahas Alexander Gultom melalui Sekretaris Dinas Kesehatan dan P2KB Rudi Hutasoit, belum lama ini via WhatsApp.
Dikatakan Rudi, dari jumlah 66 kasus tersebut menunjukan bahwa mayoritas penderita adalah laki-laki.
Diantaranya kasus HIV sebanyak 37 yang didominasi laki-laki, 26 perempuan. Sedangkan, kasus AIDS sebanyak 1 yang didominasi laki-laki, 2 perempuan.
Sementara, lanjutnya, untuk tahun 2024 sebanyak 23 kasus HIV/AIDS , diantaranya 17 kasus didominasi laki-laki, 3 kasus dari perempuan. Sedangkan, kasus AIDS didominasi oleh perempuan sebanyak 3 kasus.
Untuk tahun 2025, katanya lagi, sebanyak 39 kasus HIV/AIDS yang didominasi laki-laki. Yakni, kasus HIV didominasi laki-laki sebanyak 23, 9 perempuan. Sedangkan, kasus AIDS didominasi perempuan sebanyak 5 kasus, 2 laki-laki.
Data itu , sebutnya, merupakan hasil pelacakan atau tracing dan tes HIV pada kelompok beresiko tinggi yang bekerjasama dengan rumah sakit HKBP Balige.
” Jadi, data ini hasil pemeriksaan dari orang-orang yang beresiko tinggi, seperti hubungan seksual tanpa pengaman,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, data dilapangan yang ditemukan itu tadi, kebanyakan dari para pekerja atau karyawan ditempat hiburan/kafe.
Bahkan, kasus terjadi ada juga yang sudah menderita penyakit HIV/AIDS dibawa dari luar, datang ke Kabupaten Humbahas.
” Ini diketahui ketika setelah ditemukan dari skrining. Ini termasuk skrining ataupun yang sudah menderita pindah kesini. Dan minimnya kesadaran mereka untuk melakukan pemeriksaan karena memandang HIV/AIDS sebagai penyakit “aib” sehingga penderita enggan memeriksakan diri atau terbuka mengenai kondisinya,. Tapi ada juga yang kesadaran diri melakukan pemeriksaan ke puskesmas kita untuk diobati,” jelasnya.
Ditanya, dalam kasus tersebut yang didominasi laki-laki, apakah ada yang dilakukan isolasi, Rudi mengaku tidak ada.
” Oh, itu tidak ada. Alasannya, untuk menghindari stigma. Kita hanya memberikan pengobatan. Jadi dalam prinsipnya penyakitnya yang perlu kita hindari,” jelasnya.
Disinggung, bahwa kasus tersebut banyak ditemukan di kafe-kafe, apakah selama ini ada tidak pihak Dinkes bersama Satpol PP melakukan penutupan agar tidak penyebaran, Rudi menyampaikan belum ada.
” Jolo koordinasi atau komunikasi hami jo (tunggu koordinasi atau komunikasi),” katanya.
• Dinkes Humbahas Tutupi Anggaran
Masih dikatakannya, Pemerintah Humbahas melalui Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai program , termasuk penyuluhan dan terapi.
Diantaranya, skrining kepada kelompok beresiko , dan OJT ke Dinkes Taput tentang tatalaksana pelayanan kesehatan kepada penderita HIV/AIDS.
” Jadi, Dinkes sifatnya monitoring, yang melaksanakan pengobatan puskesmas dengan logistik obat ARV dari provinsi,” sebutnya.
Namun, lanjut dia, program tersebut belum menyentuh ke akar persoalan dilapangan. Banyak masyarakat, belum memahami cara penularan HIV/AIDS secara benar.
Pergaulan bebas tanpa edukasi yang memadai sehingga menjadi faktor penentu penyebaran dikalangan masyarakat.
Lebih lanjut Rudi menyinggung , untuk itu pentingnya peran tokoh agama, masyarakat, dan pers untuk dalam membangun literasi kesehatan masyarakat.
Dimana, masyarakat perlu memahami bahwa HIV/AIDS bukanlah hukuman moral, melainkan masalah kesehatan yang membutuhkan empati dan dukungan.
” Jadi dengan sinergi ini, penanggulangan HIV/AIDS dapat menjadi langkah konkret dalam menciptakan yang lebih sehat dimulai dari ketahanan keluarga,” pungkasnya.
Ditanya, berapa anggaran kegiatan tersebut mulai tahun 2024-2025 hingga 2026, Rudi enggan menjelaskan. ” Holan goar ni kegiatan do dolehon Lae,” elaknya.ds
EDITOR : Putra











