MANDIRI SYARIAH

Selama Pandemi Covid-19, Janda di Medan Bertambah

oleh -153 views

POSMETROMEDAN.com – Angka kasus perceraian di Kota Medan meningkat di tengah masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Namun, ada beberapa faktor unik atau sebab akibat tren perceraian itu semakin mengalami peningkatan.

Pengadilan Agama (PA) Medan mencatat peningkatan angka perceraian yang mencolok terjadi selama 6 bulan pada awal masa pandemi Covid-19. Rata-rata perceraian terjadi pada masa usia pernikahan yang masih muda, yakni usia 3 sampai 7 tahun.

“Selama enam bulan pertama Covid-19, mengalami kenaikan. Rata-rata perceraian itu karena himpitan ekonomi,” kata Humas Humas Pengadilan Agama Medan, Muhammad Dongan, Kamis (31/12).

Dongan menginformasikan, selain faktor himpitan ekonomi sebesar 70 persen, faktor perselingkuhan dan kekerasan rumah tangga hanya mencapai 30 persen.

BACA JUGA..  Karaoke Scorpio Diduga Lapak Edar Ekstasi; Kapolsek Medan Baru Bungkam

“Rata-rata kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Medan, penyebab terbesarnya adalah faktor ekonomi,” ungkap Dongan.

Namun trend peningkatan angka percerian ini, sebenarnya tidak terlalu buruk jika membandingkan dengan tahun lalu. Selama tahun 2020 PA Medan telah menerbitkan akta cerai sebanyak 2513 pasang, angka ini turun 11 persen dari tahun 2019.

“Jika berbanding dengan tahun lalu, ada penurunan sekitar 400 perkara,” paparnya.

Meski demikian, dari total keseluruhan perkara, data dengan cerai gugat atau istri yang menggungat ternyata jauh lebih banyak daripada cerai talak. Selisih jumlahnya pun cukup besar hingga ribuan.

BACA JUGA..  Pemko Medan Gelar Penyusunan LHKPN Tahun 2021

“Cerai talak 619 perkara, cerai gugat atau istri yang menggugat 2205 perkara. Ekonomi Syariah 8 perkara, gugatan harta bersama 26 perkara, gugatan warisan 37 perkara dan perkara volunter lainnya 284. Akta cerai yang diterbitkan 2513 pasang,” beber Dongan lagi.

Menurut Dongan, perkara alasan perceraian ini beragam kasusnya. Namun, kasus-kasus dengan alasan pertengkaran, himpitan ekonomi, narkoba dan moral, masih mendominasi.

“Pertengkaran lebih dominan. Penyebab pertengkaran tidak terdefenisi, karena tidak terungkap dalam sidang. Pihak tidak mengemukakannya,” tandasnya.

Terpisah, Pakar Psikologi Kota Medan, Irna Nauli mengungkapkan, penyebab perceraian meningkat di kota Medan terjadi tidak jauh penyebabnya seperti yang disebut Muhammad Dongan. Faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, narkoba, dan perselingkuhan masih mendominasi.

BACA JUGA..  Edy Rahmayadi Minta Para Kepala Daerah Tetap Dorong Masyarakat Terapkan Protokol Kesehatan

Namun ada alasan lain yang menjadi percerian itu terjadi. Pernikahan bawah umur dan keterlibatan orang tua dalam urusan rumah tangga anaknya.

Kasus terbaru yang menjadi sebab lain dari kasus sebelumnya adalah faktor dari kisah sinetron dan gaya hidup masing-masing individu dalam rumah tangga.

“Ini menjadi faktor yang harus diperhatikan masyarakat luas. Banyak kasus perceraian seperti ini tidak terekpos. Kita menyarankan kepada mertua masing-masing untuk menjadi penasehat, bukan sebagai pengeruh suasana rumah tangga anaknya,” tandas Irna. (bbs/ali)